
Setelah beberapa jam menemani Mama Aneu, Reyna kini tengah berada di luar Rumah sakit bersama Roy asistennya Evan.
Roy di tugaskan untuk mengantar Papa Hendra ke Rumah sakit dan tanpa sepengetahuan Reyna, asisten Evan itu di tugaskan untuk menjemput Reyna dan mengantarkannya ke Apartemen milik Evan, karena mulai sekarang Reyna akan tinggal di sana bersama Evan tentunya.
"Mari Nyonya." ucap Roy saat mereka baru saja keluar dari gedung Rumah sakit.
Reyna mengernyitkan dahi nya ketika mendengar tawaran Roy "Ke mana?"
"Tentu saja mengantar anda pulang."
"Terima kasih Roy, tapi aku akan naik kendaraan umum saja." tolak Reyna secara halus.
"Maaf Nyonya ini perintah."
"Atas perintah siapa?"
"Tuan Evan."
"Evan?" Reyna benar-benar tidak paham dengan cara berpikir Evan, terkadang dia bersikap dingin dan menyebalkan namun terkadang dia bersikap perhatian seperti sekarang dan jangan lupakan kejadian saat di ruangan Mama Aneu dimana Evan mengecup pucuk kepalanya walau hanya sebentar.
"Apa dia sudah berubah pikiran"
"Silahkan Nyonya." ucap Roy yang ternyata sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Roy bisa tidak, jangan memanggilku nyonya. Aku tampak seperti sudah tua jika kau panggil aku dengan sebutan nyonya, lagi pula usiamu juga lebih tua dari ku jadi panggil saja aku Reyna." Ucap nya panjang lebar
"Maaf nyonya saya tidak bisa."
"Ck, kau itu formal sekali."
Dengan wajah yang masih terlihat kesal, Reyna akhirnya masuk ke dalam mobil namun bukan melalui pintu yang telah di bukakan oleh Roy, melainkan lewat pintu depan di samping kemudi.
"Ayo! katanya mau mengantarku pulang, kenapa diam saja." Ucap Reyna sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Roy hanya bisa menghela napas panjang "beginilah nasib jadi bawahan." Roy menggerutu dalam hatinya sampai akhirnya ia ikut masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Reyna terus saja memikirkan perkataan Mama Aneu saat di rumah sakit tadi tentang hubungan Evan dan Hana, dan juga tentang kematian Hana yang selalu membuat ia bertanya-tanya.
"Roy sudah berapa lama kau bekerja dengan Evan?" ucap Reyna memecah keheningan
"Sudah cukup lama Nyonya."
"Berapa lama? lima tahun? Sepuluh tahun?"
"Tujuh tahun." jawab Roy
Reyna mengangguk perlahan "Lumayan lama juga ya." Reyna kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Roy "Berarti kau pasti tahu tentang Hana, kekasih Evan yang meninggal lima tahun lalu."
Roy mengernyitkan dahi menatap sekilas pada wanita yang duduk di sebelahnya, wanita yang sudah sah menjadi istri tuannya namun tak pernah di anggap. Roy heran dari mana Reyna tahu tentang Hana, kekasih tuan nya di masa lalu.
"Dari mana anda tahu tentang Hana?"
__ADS_1
"Mama Aneu yang menceritakan nya." jawab Reyna dengan jujur. "Apa kau mengenalnya?" tanya nya sekali lagi.
"Ya, dia orang yang sangat baik." jawab Roy sambil terus fokus mengemudi.
"Jika menurutmu dia orang yang sangat baik. tapi kenapa dia begitu nekat mengakhiri hidupnya sendiri hanya karena cintanya tidak di restui."
Roy begitu tersentak ketika mendengar ucapan Reyna yang mengetahui bahwa Hana telah meninggal karena bunuh diri "Apa nyonya besar menceritakan semuanya?"
Reyna mengedik kan bahu nya sambil mengalihkan pandangannya ke depan "Aku tidak tahu, karena aku memang tidak tahu kenyataan yang sebenarnya."
Reyna kembali melihat ke arah lawan bicaranya "Roy kau kan asisten pribadi Evan, ke mana pun tuan mu itu pergi kau pasti mengikutinya kan?"
"Tidak juga, buktinya sekarang saya tidak bersama tuan."
Reyna baru menyadari bahwa Evan sedang tidak bersama mereka saat ini.
"Benar juga, tapi kau pasti tahu kan tentang hubungan mereka, maksud ku hubungan antara Evan dan Hana, dan apakah Evan pernah menjalin hubungan dengan wanita lain selain dengan Hana?" Reyna yakin Roy juga mengetahui semuanya, jika di lihat dari lamanya ia bekerja, selain itu Roy juga merupakan orang terdekat Evan yang bisa ia tanyai.
Entah kenapa saat mendengar nama Hana ia selalu di liputi rasa penasaran, seperti ada sesuatu hal yang penting yang ia lupakan. Dan saat ini Reyna tidak bisa mengingat apapun setelah kejadian lima tahun silam.
"Nyonya, anda ini sudah seperti wartawan saja." Roy menggelengkan kepalanya, istri tuannya ini benar-benar punya rasa ingin tahu yang tinggi.
"Kau tinggal menjawabnya." ketus Reyna
"Aku tidak tahu Nyonya, lagi pula untuk apa anda membahas masa lalu."
Reyna menghela napas panjang sambil menyandarkan kepalanya di kursi "Aku hanya penasaran saja seperti apa sosok Hana, sesosok perempuan yang membuat Evan jatuh cinta sampai segila itu, dan ku pikir bukan hanya Evan saja Hana pun melakukan hal yang sama sehingga ia begitu nekat mengakhiri hidupnya demi cinta."
Roy yang sedang mengemudi melirik sekilas ke arah Reyna "Apa Anda cemburu?"
Reyna kembali menyenderkan kepalanya di kursi, menghela napas panjang sembari berpikir jalan yang akan ia tempuh untuk ke depannya.
"Nyonya dari pada anda membahas masa lalu, lebih baik anda memikirkan masa depan anda bersama tuan Evan." Saran Roy
Reyna kembali tertawa "Masa depan? Masa depan apa yang kau maksud?, apa kau lupa tuan mu itu bahkan menyodorkan surat perjanjian yang tidak masuk akal di hari pernikahan kami."
"Lalu apa anda ingin menjadi janda di usia muda?"
"Entahlah Roy, kau tahu aku ini seperti terjebak dalam situasi yang membingungkan."
Reyna benar-benar tidak tahu situasi macam apa yang sedang ia jalani. Di satu sisi ia tidak mau melihat ayahnya kecewa, juga permintaan Mama Aneu agar ia selalu berada di sisi Evan, tapi di sisi lainnya Evan tidak mau menerima nya bahkan ia menganggap pernikahan ini adalah sebuah lelucon.
"Bukankah anda juga ikut andil atas situasi yang anda alami sekarang dengan menyetujui pernikahan tersebut."
"Aku punya alasan untuk itu."
"Kalau begitu kenapa anda tidak mempertahankan pernikahan anda dengan alasan yang sama." Ucap Roy mencoba meyakinkan Reyna
"Aku akan mencobanya, tapi aku takut tidak sanggup menjalaninya."
"Jangan kalah sebelum berperang nyonya, kita tidak pernah tahu tentang hati seseorang, siapa tahu tuan Evan mau membukakan hatinya untuk anda."
__ADS_1
"Semoga saja."
Setelah lama berbincang, akhirnya mobil yang di tumpangi Roy dan juga Reyna sampai di depan gedung tinggi, tempat di mana apartemen milik Evan berada.
Roy menghentikan mobil nya, Roy pun keluar dan membukakan pintu untuk Reyna
"Roy kenapa kita berhenti di sini?"
"Mulai sekarang nyonya akan tinggal di sini di apartemen milik tuan Evan. Mari nyonya" ajaknya
"Eh tunggu dulu, kenapa kau baru memberi tahu ku sekarang." Reyna masih saja belum beranjak dari tempat duduknya.
"Saya pikir nyonya sudah tahu. Apa tuan Evan tidak memberi tahu nyonya?"
Reyna menggelengkan kepalanya, sementara Roy hanya menghela napas panjang. "Sekarang nyonya turunlah dulu, saya akan menjelaskannya nanti setelah kita sampai di apartemen tuan Evan."
Mau tidak mau Reyna turun dari dalam mobil dan mulai mengikuti langkah asisten Evan itu.
"Tapi barang-barangku?"
"Semuanya sudah di pindahkan, tapi jika masih ada yang tertinggal nyonya bisa menghubungi saya untuk mengambilkannya."
Ucap Roy sambil menekan tombol lift yang ada di sana.
"Kenapa mendadak sekali, setidak nya aku berpamitan dulu dengan ayah dan kakak ku."
Roy hanya mendengarkan keluhan istri majikannya itu, tanpa menasehati atau memberikan saran seperti sebelumnya.
"Silahkan nyonya" Roy mempersilahkan Reyna untuk masuk ke dalam apartemen setelah mereka sampai di sana.
Reyna melihat ke sekeliling ruangan yang ada di dalam apartemen. Tempat yang tidak terlalu megah namun masih terlihat rapi, nuansa klasik dengan tema monokrom yang terlihat maskulin menggambarkan karakter seseorang yang menempatinya.
Sementara Roy sejak tadi ia memberi tahu segala kebutuhan Reyna selama ia tinggal di sana.
"Jika nyonya perlu sesuatu hubungi saya, dan ini kartu nama saya." Roy menyodorkan kartu nama nya yang berisikan nama dan juga nomer ponsel milik nya.
Reyna mengambil kartu nama yang di berikan Roy dan menyimpannya ke dalam tas. "Oh ya Roy kapan biasanya Evan pulang?"
"Tidak tentu nyonya, tapi biasanya dia akan pulang pukul tujuh."
Reyna hanya mengangguk,
"Baiklah kalau begitu saya pamit nyonya."
"Terima kasih Roy"
Roy menundukan kepalanya dan berlalu pergi.
Reyna menghela napas panjang setelah melihat Roy hilang di balik pintu.
"Baiklah Reyna mari kita memulai kehidupan baru, kehidupan yang mungkin sedikit menantang."
__ADS_1
Ya menantang, karena menurutnya hidup satu atap dengan Evan bukan lah satu hal perkara yang mudah mengingat sikap nya yang begitu acuh dan dingin terhadapnya meskipun kini Evan telah menjadi suaminya.
Mulai saat ini ia akan bertekad untuk meluluhkan hati Evan dan membuatnya move on dari kekasihnya yang sudah tiada.