
Beberapa saat kemudian, Reyna yang telah berpakaian rapi kini tengah berdiri di ruang tamu di mana ada Evan dan juga ayah nya.
"Maaf sudah menunggu lama."
"Duduklah nak, ada yang ingin ayah bicarakan pada kalian berdua."
Reyna duduk di samping ayahnya, Ia mendengar helaan napas berat dari sang ayah, entah apa yang tengah di rasakan ayahnya itu, karena sejak tadi ayahnya selalu bersikap aneh menurutnya. Apa yang di bicarakan Evan pada ayahnya saat ia tidak ada tadi?
Sama halnya dengan Reyna, Evan pun merasakan sikap ayah Andi yang tidak seperti biasanya.
"Nak Evan.." Suara ayah Andi membuyarkan lamunannya.
"Sekarang Reyna sudah saya serahkan kepada mu, kamu punya hak penuh atas dirinya, kamu mau membawanya kemana pun terserah, kamu mau mengajaknya dalam kondisi susah ataupun senang saya tidak mempermasalahkannya. dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya sudah menjadi tanggung jawab mu."
"Namun ada hal mesti kamu ingat, dia Reyna putri saya satu-satunya yang sejak kecil saya rawat, saya didik dengan penuh kasih, yang saya perjuangkan kebahagiaannya meski nyawa taruhannya."
"Ayaahh.." Reyna menggenggam tangan ayahnya, ia begitu terharu mendengar ucapan sang ayah.
"Saya harap kamu pun melakukan hal yang sama. Jika kamu menyakitinya atau membuatnya menangis lebih baik kamu kembalikan lagi dia pada saya." Lanjut ayah Andi dengan nada yang sangat tenang.
Evan menatap Reyna, begitu juga sebaliknya. Timbul kecurigaan di antara keduanya. Kejadian di Restoran, apa ayah Andi mengetahuinya? entahlah.
Namun Evan sangat yakin ayah Andi telah mengetahui rencananya yang hanya ingin menikahi Reyna dalam waktu yang singkat.
"Apa dia mengadu pada ayah nya?"
Ayah Andi kemudian menatap putrinya dengan tatapan yang sendu, "Reyna, jadilah istri yang baik nak, patuhi suamimu selagi itu masih dalam hal yang wajar. Dan mulai sekarang kau akan tinggal bersama Evan."
Reyna yang ingin protes harus terhenti karena suara dering ponsel dari saku Evan terus berbunyi.
__ADS_1
"Apa jadinya jika aku dan Evan tinggal seatap, dia saja tak berminat hidup denganku."
"Maaf saya permisi sebentar" Evan mengangkat telepon dengan sedikit menjauh, namun tak berselang lama ia kembali ke tempatnya semula.
"Maaf ayah sepertinya Mama sudah menunggu kami di rumah sakit." Ucap Evan dengan sopan.
"Oh baiklah, maaf jika pria tua ini terlalu banyak bicara. Kalian berdua pergilah jangan sampai Mama Aneu menunggu terlalu lama." ucap Ayah Andi
"Kalau begitu kami permisi." Evan yang sudah siap pergi melihat kearah Reyna yang masih diam dalam lamunannya.
"Reyna.." tegur ayah Andi
"Ah iya, tunggu sebentar aku mengambil tas ku dulu di kamar." Reyna jalan dengan terburu-buru menuju kamarnya yang ada di lantai 2.
Di saat Reyna pergi ke kamarnya ayah Andi kembali berucap "Nak Evan ayah hanya minta satu hal dari mu, tolong jaga putri ayah."
Tidak sampai satu menit Reyna rupanya sudah kembali dengan tas di lengannya.
"Ayah aku pergi dulu.." pamitnya.
"Pergilah, sampaikan salamku pada papa dan mamamu."
Reyna dan Evan akhirnya pergi meninggalkan rumah menggunakan mobil yang di bawa Evan.
Ayah Andi lagi-lagi menghela napas berat setelah melihat mobil Evan keluar dari pekarangan rumah.
Sebenarnya Ayah Andi sudah mengetahui semuanya. Setelah melihat Reyna masuk ke dalam kamar waktu itu, ayah Andi langsung menghubungi orang kepercayaannya untuk menyelidiki sesuatu yang terjadi antara Evan dan juga putri nya setelah mereka pulang dari rumah sakit.
Ayah Andi tidak terlalu terkejut mendengar laporan dari orang suruhannya, karena memang dari awal Evan tidak menginginkan pernikahan ini. Lantas kenapa ia menyetujuinya?
__ADS_1
Ayah Andi sempat ingin menolak waktu itu, namun Reyna tetap bersikeras pada keputusannya dengan alasan bahwa ia menyukai Evan walau mereka hanya beberapa kali bertemu.
Ayah Andi yang mendengar itu tentu tidak percaya begitu saja dengan alasan Reyna, namun ia tetap menghargai keputusan putrinya itu. Ia hanya berharap suatu saat Evan akan menyayangi putrinya sama seperti dirinya, dan ia juga berharap Evan adalah pilihan yang tepat untuk Reyna.
.
.
Di dalam mobil
"Apa kau yang meminta kepada ayah agar aku tinggal bersamamu?" ucap Reyna memecah keheningan
"Bukankah hal yang wajar, jika orang yang sudah menikah tinggal bersama?, lagi pula aku tidak ingin orang lain mengetahui hubungan kita yang sebenarnya." timpal Evan sambil terus fokus menyetir.
"Apa kau tidak dengar tadi, ayahku berbicara seolah-olah ia sudah mengetahui semuanya. dan lambat laun orangtuamu juga akan mengetahuinya." sarkas Reyna
"Mereka tidak akan tahu jika tidak ada yang memberi tahu."
Reyna tersenyum sinis, ucapan Evan seperti sedang menyindirnya.
"Apa kau benar-benar tidak bisa menerimaku?" ucap Reyna pada Evan namun pandangannya tetap lurus ke depan.
Evan sempat melirik sekilas wanita di sampingnya sebelum pandangannya ia fokuskan kembali lagi ke jalanan.
"Kau tahu, kau membuat semuanya menjadi rumit. Jika tidak bisa menerima lebih baik tidak usah menikah." lanjut Reyna
"Aku tidak punya alasan untuk menolak, Lagi pula semua ini sudah terjadi."
"Kalau begitu kita akhiri saja hubungan yang tidak sehat ini?"
__ADS_1