
Sejak percakapan terakhir dengan putranya, Mama Aneu tidak lagi banyak bicara ia pergi ke perusahaan hanya untuk mengantarkan makanan bagi putranya itu tanpa dalih menjodoh-jodohkan Evan dengan wanita pilihannya, ia benar-benar menjalankan kata-katanya, membiarkan Evan menjalani kehidupan sesuai kehendaknya sendiri.
Evan kini sedang berdiri di depan kaca besar yang ada di kantornya, dengan kedua tangan berada di saku celana. Ia kembali merenungkan perkataan Mama nya ketika berada di rumah sakit.
Namun seketika ingatannya kembali pada kejadian 5 tahun lalu, di saat ia tengah berdiri di depan kaca Rumah sakit, ia melihat sekelebat benda jatuh dari atas dan ternyata itu adalah kekasihnya yang terjatuh dari atas ketinggian.
Evan membulatkan matanya, dadanya naik turun, nafasnya terasa sesak serta keringat yang mulai keluar dari bagian dahinya. Hingga ia tersadar ketika pintu terbuka dan seseorang menghampirinya.
"Tuan ada yang ingin aku sampaikan." ucap Roy sang asisten
"Harusnya sebelum masuk kau ketuk pintu terlebih dahulu." ucap Evan yang sudah duduk di kursi kebesarannya sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekiknya.
"Maaf tuan." Roy melihat tuannya seperti sedang tidak baik-baik saja, padahal ia membawa berita buruk yang akan membuat tuannya semakin tidak baik-baik saja.
"Apa tuan baik-baik saja?" tanyanya ketika melihat tuannya itu sedang minum segelas air.
"Hm, ada apa?"
"Nyonya besar masuk Rumah sakit tuan."
Evan hanya menanggapi dengan biasa, ia kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Nanti aku akan ke sana."
"Tapi tuan Nyonya... Nyonya mengalami kecelakaan dan sekarang beliau di rawat di ruang ICU."
Deg
__ADS_1
Jantung Evan terasa berhenti berdetak, ia terkejut mendengar berita yang di sampaikan asistennya.
"Apa Mama bersandiwara lagi, tapi tidak mungkin ia melakukan hal yang sama dua kali." Batin nya
Evan bergegas pergi tanpa menghiraukan asistennya.
...***...
Di Rumah sakit.
Papa Hendra setia mendampingi sang istri yang sekarang sedang terbaring di atas ranjang pasien tanpa ada sandiwara dan tanpa ada kepura-puraan. Istrinya benar-benar terbaring tak berdaya dengan berbagai peralatan medis yang tertancap di tubuhnya.
Ia teringat kata-kata istrinya beberapa waktu lalu. Jika ia ingin melihat anaknya menikah sebelum tiada. Mengingat hal itu hatinya merasa pilu, kata-kata itu seperti sebuah pertanda jika istrinya itu akan meninggalkannya.
"Mama dulu pernah bilang, Jika Mama pergi lebih dulu Mama menyuruh Papa untuk menikah lagi. Asal Mama tahu mana ada wanita yang mau dengan laki-laki tua renta seperti Papa, walau pada kenyataan nya banyak Pria yang sudah berumur menikahi perawan, apa Mama mau Papa mencari perawan untuk Papa nikahi?" Papa Hendra terus mengajak Mama Aneu berbicara sampai ia kehabisan kata-kata.
Mama Aneu hanya bisa menangis melihat suaminya yang terlihat rapuh, ia tahu suaminya itu memang suka bercanda bahkan dalam keadaan seperti ini tapi sebenarnya Papa Hendra adalah orang yang sangat bijaksana.
"Papa ini, yang di minta menikah itu Evan. Kenapa jadi Papa yang ingin menikah lagi." ucap Mama Aneu dalam isaknya.
Tak lama dari itu Evan datang bersama dengan asisten pribadinya Roy, auranya sangat dingin namun kesedihan tersirat di wajahnya.
Roy menunggu di luar, sementara Evan masuk kedalam ruangan, di sana ia melihat Papa nya yang sedang duduk menemani sang istri. Evan melangkah lebih dekat untuk melihat kondisi Mama nya saat ini. Kali ini ia benar-benar yakin bahwa Mama nya itu tidak bersandiwara, ia melihat dengan jelas layar monitor yang memperlihatkan garis-garis tak beraturan naik turun sejalan dengan kondisi Mama nya sekarang.
Papa Hendra yang menyadari putranya sudah datang langsung berdiri dari tempatnya dan membiarkan Evan duduk di samping istrinya.
Evan menggenggam tangan sang Mama
__ADS_1
"Kenapa Mama selalu bertindak ceroboh? Evan tahu Mama sedang bersandiwara lagi kan? seperti waktu itu Mama telah membuat Evan khawatir. Bangun lah Mah jangan membuat Evan semakin khawatir, Jangan membuat Evan semakin merasa bersalah karena tidak menghiraukan permintaan Mama."
"Sudah cukup Mah, sudah cukup Evan kehilangan orang yang Evan cintai dan Evan tidak mau kehilangan lagi orang yang Evan cintai, jadi Evan mohon bangun lah Mah maafkan semua kesalahan Evan."
"Maafkan Evan Mah."
Evan menunduk, tubuh nya bergetar walau suara isaknya tidak terdengar, tapi air mata mengalir deras di kedua pipinya. Ya, pria dingin itu tengah menangis di samping Mamanya.
Pak Hendra yang melihat itu pun ikut pilu, ia mendekati putranya menepuk-nepuk bahunya.
Evan kembali meluruskan pandangannya, ia menghapus air matanya. Pandangannya tertuju pada Mamanya yang terlihat pucat.
"Baiklah Mah, mulai sekarang Evan janji akan menuruti semua permintaan Mama termasuk menikah dengan wanita pilihan Mama. Tapi Mama juga harus bangun dari tidur Mama, apa Mama tidak lelah tidur terus menerus seperti ini?"
Evan melihat reaksi Mama nya melalui monitor yang terhubung dengannya.
"Bangun lah Mah, Evan tidak akan mengingkari janji Evan." ucapnya sambil mencium tangan sang Mama
Papa Hendra melihat layar monitor yang berangsur naik, dengan cepat ia berjalan hendak menemui dokter untuk segera melihat kondisi istrinya, karena terlalu bersemangat ia bahkan melupakan bahwa di dalam ruangan tempat Mama Aneu di rawat terdapat bel darurat untuk memanggil dokter.
.
.
.
.
__ADS_1
See you~~