
"Untuk apa kalian masuk ke sini! Pergilah manusia-manusia brengsek!" bentak Zifana kesal ketika melihat Jayden dan Leli masuk ke ruangan tempat ia disekap. Jika harus berhadapan dengan kedua orang itu maka Zifana akan merasakan hatinya memanas karena dipenuhi emosi.
"Tentu saja untuk menyapamu, Nona Zifana yang cantik jelita." Leli bersedekap angkuh, sedangkan Jayden berusaha duduk di samping Zifana, tetapi gadis itu langsung menjauh. Ia tidak mau jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Kenapa menjauh, Zi? Apa kau tidak mau dekat denganku lagi. Padahal aku sangat ingin dekat denganmu." Jayden tersenyum licik. Langsung disambut dengkusan kasar oleh Zifana.
"Jay, kau jangan terlalu dekat dengannya. Ingat, sekarang yang sudah sah menjadi istrimu adalah aku. Bukan Zifana." Leli merasa cemburu. Walaupun ia bisa menikah dan memiliki anak dari Jayden, tetapi saat melihat Jayden yang sangat dekat dengan mantan kekasih terindahnya membuat wanita itu merasa hatinya memanas.
"Memangnya kenapa! Kau tidak berhak mengaturku," sergah Jayden. Menatap Leli tajam. "Aku hanya menikahimu secara siri, jadi aku bisa kapan pun menceraikanmu. Tanpa harus pusing memikirkan surat-suratnya," imbuhnya.
"Kau jangan gila, Jay! Aku tidak mau kalau sampai kau menceraikanku! Ingat, sudah ada anak di antara kita!" bantah Leli tidak terima.
"Aku tidak peduli. Karena sejak dulu yang aku cintai adalah Zifana. Kau hanyalah teman ranjang sebagai pelampiasan napsuku saja. Aku menikah denganmu juga karena terpaksa," sahut Jayden santai. Seolah ucapannya tidak menyakiti hati Leli.
Sementara itu, Zifana menggerutu dalam hati karena harus melihat dan mendengar pertengkaran dua manusia laknat itu.
Sungguh membuatnya merasa begitu muak.
"Kalian teruskan saja pertengkaran ini. Lebih baik aku mandi atau tidur daripada harus mendengar semua ini. Mantan kekasih yang belum bisa move-on, dan mantan sahabat yang kegatelan seperti uler keket. Sungguh, membuatku malas."
Ucapan Zifana membuat Leli meradang. Wanita itu mendorong punggung Zifana sampai jatuh tersungkur bahkan membuat lutut Zifana memar karena bertabrakan dengan lantai cukup keras. Jayden memekik kesal hingga sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Leli.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, Jay!" bentak Leli tidak terima. Mengusap pipi yang terasa memanas.
"Jangan kau sakiti Zifana! Hanya aku yang boleh menyakitinya! Tangan kotormu tidak berhak!" balas Jayden dengan nada bicara yang juga tinggi. "Pergilah dari sini. Aku muak melihatmu dan dengan ini aku menceraikanmu!"
Bola mata Leli membulat penuh ketika mendengar ucapan Jayden yang mengatakan talak. Ya, Jayden memang tidak sadar karena sedang dipenuhi emosi. Namun, ucapannya ini tetap saja membuat Leli resmi menjadi janda.
Dengan amarah yang membuncah di dada, Leli pergi dari ruangan itu. Membawa rasa benci dan kesal yang begitu memenuhi ruang hati. Leli berjanji akan membalas semua ini. Baik kepada Jayden maupun Zifana.
"Kau gila, Jay! Kau sudah mengucap talak dan itu artinya kalian sudah bukan suami-istri lagi," kata Zifana saat Leli tidak lagi terlihat.
"Biarkan saja. Aku juga sudah lama ingin berpisah dengannya. Dia sungguh sangat berbeda denganmu dan aku menyesal karena harus kehilangan wanita sepertimu, Zi." Suara Jayden terdengar lirih dan penuh sesal.
"Lebih baik kau pergi dari sini karena aku tidak mau dekat denganmu lagi. Sudah cukup dulu kau menyakitiku, Jay!" usir Zifana.
Tanpa berbicara apa pun, Jayden langsung maju dan mencekal kedua tangan Zifana. Bahkan, langsung meraup bibir gadis itu dengan rakus. Zifana meronta sekuat tenaga dan berusaha melepaskan ciuman itu. Namun, ia kalah tenaga. Jayden benar-benar kuat seperti orang yang kerasukan. Tanpa ampun mengakses seluruh rongga mulut Zifana menggunakan lidahnya.
Bulir-bulir bening mengalir dari kedua sudut mata Zifana. Gadis tersebut mau ini terjadi padanya. Seharusnya cukup satu kali Jayden merenggut ciuman pertamanya. Jangan sampai ada yang kedua atau tiga kali. Namun, Zifana tidak bisa menghentikan Jayden yang terus saja ******* bibirnya.
Lelaki itu tidak peduli meskipun air mata Zifana sudah mengalir deras membasahi wajah gadis itu. Karena baginya yang terpenting saat ini adalah bisa membuat Zifana menjadi miliknya seutuhnya.
Sudah puas dengan ciuman di bibir, Jayden dengan tak kalah rakus mencium leher Zifana. Membuat tanda kepemilikan di sana yang membuat Zifana merasa jijik pada dirinya sendiri karena telah kotor. Ia tidak bisa menghentikan Jayden. Hanya air mata yang menjadi tanda betapa sakit hati wanita itu saat ini.
__ADS_1
Bug!
Arggh!
Jayden mengerang karena mendapat tendangan yang cukup kuat di punggung. Hingga membuat lelaki itu jatuh tersungkur. Jayden menoleh ke belakang dan melihat Rizal yang tampak geram. Termasuk lelaki asing yang berada di samping Rizal.
Siapa lagi orang itu. Batin Jayden karena baru pertama kali melihat lelaki yang bersama dengan Rizal.
"Aku membebaskanmu melakukan apa pun, tapi bukan berarti aku mengizinkanmu untuk menodainya! Sekarang lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku membunuhmu!" usir Rizal. Namun, Jayden sama sekali tidak beranjak karena ia merasa lebih berhak berasa di ruangan itu. Dengan terpaksa, Rizal menyeret Jayden agar keluar dari ruangan tersebut.
Setelah mengunci pintu dengan rapat, Rizal pun bergegas mendekati Zifana yang masih terisak. Ia berusaha menyentuh Zifana untuk menenangkan gadis itu, tetapi Zifana justru menyingkir dengan cepat.
"Pergilah! Jangan dekat apalagi sampai menyentuhku!" bentak Zifana masih menangis.
"Nona ...," panggil Rizal lirih.
"Apa? Bunuh aku saja, Zal! Tidak apa aku pergi dari dunia ini asal dalam keadaan suci. Bukankah kau mau membalas rasa sakit hatimu? Walaupun aku tidak yakin kalau Jason akan kehilanganku, tapi kau boleh membunuhku. Aku sudah lelah dengan semua ini. Bunuh aku, Zal! Dan biarkan aku menyusul Arini. Wanita yang sangat kau cintai itu. Biarkan aku bisa bertemu dengannya dan mengadu tentang semua ini!"
"Kau mau mengadu apa, Nona? Aku sudah berusaha lembut kepadamu. Jangan sampai kau memancing emosiku!" Rahang Rizal terlihat mengeras. Sorot matanya tampak penuh dengan amarah.
"Aku yakin Arini pasti akan kecewa padamu karena kau sudah melakukan hal ini. Seharusnya kau ikhlas dengan kepergian Arini. Jangan terus menangisinya apalagi sampai menaruh dendam yang jelas-jelas bisa ...."
__ADS_1
"Diamlah, Nona! Jangan sampai kau membuatku geram apalagi sampai ingin mencekikmu karena ucapan lancangmu itu!" bentak Rizal.
Zifana pun diam meringsut di sudut ruangan, sedangkan Rizal mengajak lelaki yang bersamanya untuk pergi dari sana. Ia khawatir tidak bisa mengendalikan emosinya jika terus berada di dalam ruangan tersebut.