
..."Mencintai bukan dengan menemukan seseorang yang sempurna, tapi dengan melihat seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna." ...
...~B.J. Habibie~...
...****************...
Tidak terasa waktu terus berjalan. Mereka saling menikmati jalan hidup yang sudah digariskan. Tanpa terasa kini usia kehamilan Zifana sudah mulai masuk trisemester ketiga. Wanita itu tidak lagi mengidam aneh-aneh seperti saat hamil muda.
Jason makin sayang dan menjaga istrinya dengan baik. Tidak sedikit pun membiarkan wanita tersebut kelelahan. Termasuk saat melakukan percintaan panas pun, Jason akan melakukan dengan hati-hati dan perlahan.
Ketika baru saja masuk ke rumah setelah seharian lelah bekerja, Jason merasa heran karena Zifana sama sekali tidak menyambutnya. Padahal biasanya wanita hamil itu akan menyambut dengan antusias ketika ia baru saja sampai di ambang pintu. Namun, kali ini rasanya berbeda hingga Jason dengan gegas menuju ke kamar untuk melihat keberadaan istrinya. Ia khawatir jika terjadi apa-apa kepada wanita tersebut.
"Zi ...." Jason membuka pintu kamar dan melihat istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang. Wanita itu langsung mengusap wajah dengan cepat. Menghapus air mata yang mengalir membasahi wajahnya sejak tadi.
"Kau sudah pulang?" tanya Zifana sembari memaksa senyumnya. Suaranya terdengar begitu serak karena menangis.
__ADS_1
"Ya. Kenapa kau menangis?" Jason mendekati istrinya dan mengusap wajah wanita itu dengan lembut. "Apa ada yang membuatmu sakit sampai menangis seperti ini?"
Zifana terdiam. Tidak mengangguk ataupun menggeleng. "Aku hanya merindukan Clay. Sudah lama sekali tidak menciumnya."
"Zi, bukankah setiap hari kita melakukan panggilan video. Bahkan, Clay masih memanggilmu mama," ucap Jason.
Lelaki itu merasa tidak tega ketika gurat kesenduan tampak memenuhi wajah istrinya. "Kau tenang saja. Rere bilang dia akan melahirkan di Indonesia."
"Kau serius?" tanya Zifana tidak percaya.
Jason mengangguk lemah. "Nicky bilang padaku bahwa bulan depan mereka akan menetap di Indonesia."
"Akan dijual. Nicky akan membeli rumah di sini. Agar dekat dengan kita dan adiknya juga. Lagi pula, kalau di sana tidak ada siapa pun. Kecuali orang tua Rere," tutur Jason.
Ucapan lelaki tersebut menjadi angin segar bagi Zifana. Wanita itu menanti dengan tidak sabar kapan waktu ia bisa berkumpul bersama dengan Clay lagi. Bisa menggendong bocah itu secara langsung.
__ADS_1
***
"Jason ... ini sakit sekali." Zifana menggigit bibir saat merasakan kontraksi yang teramat hebat. Rasanya begitu sakit hingga membuat Zifana ingin menangis kencang rasanya.
"Tahan sebentar lagi, Zi. Aku yakin kau pasti kuat." Jason tak kuasa melihat istrinya yang kesakitan seperti itu.
Hal ini jauh di luar dugaan. Usia kehamilan Zifana lebih muda daripada usia kehamilan Rere, tetapi Zifan justru merasakan kontraksi lebih dulu. Padahal seharusnya hari perkiraan lahir masih tiga Minggu yang akan datang. Hal ini sangat jauh melenceng dari perkiraan.
"Ya, tapi aku tidak yakin bisa. Ini sungguh sangat menyakitkan." Zifana mencengkeram lengan Joshua saat kontraksi itu datang lagi bahkan dalam jeda waktu yang lebih sebentar.
"Zi ... aku yakin kau pasti bisa melahirkan buah hati kita. Bukankah kau ingin melihatnya lahir ke dunia." Jason mencium kening istrinya dengan lama.
Lelaki itu dengan sabar menunggu Zifana. Menemani wanita yang berjuang melahirkan buah hati mereka. Sebenarnya, Jason merasa tidak tega melihat Zifana yang kesakitan, tetapi bagaimana lagi, ini sudah menjadi kodrat wanita itu.
Setelah berjuang hampir satu jam lamanya, terdengar suara tangisan bayi yang pecah di ruangan tersebut. Membuat Jason dan Zifana mengembuskan napas lega. Bahkan, tanpa sadar Jason menangis haru saat melihat putri mereka yang baru saja lahir, sedang menangis kencang seolah sedang memanggilnya.
__ADS_1
"Zi ... kau berhasil." Jason mencium kening istrinya dengan sangat lama. Menyalurkan rasa bahagia dan terima kasih yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Zifana pun tersenyum simpul dan ikut menangis sama seperti Joshua.
Terima kasih, Tuhan. Akhirnya, kau menitipkan seorang bayi yang cantik untukku. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik.