ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-56


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Joshua, tiba di halaman rumah Zifana bersamaan dengan mobil Jason. Mereka pun bersama-sama keluar dan langsung saling berpelukan. Bahkan, Joshua memeluk sang adik dengan sangat erat. 


"Aku merindukanmu, Bang." Zifana membalas pelukan tersebut tak kalah erat. Namun, saat melihat ada seorang wanita yang keluar dari mobil sang kakak, sontak Zifana melerai pelukan tersebut. Lalu menatap Joshua penuh selidik. 


"Kenapa, Zi? Wajahmu jelek banget." Joshua mengusap wajah sang adik karena ia masih belum menyadari bahwa dirinya membawa seorang wanita. 


Ia sungguh melupakan Ruby saat sudah bersama dengan Zifana. 


"Dia siapa, Bang? Calon Abang ya? Ciee ...." Zifana menaik-turunkan alisnya menggoda sang kakak dan langsung disambut dengkusan kasar oleh lelaki itu. 


"Son, kau tidak menyuruhku masuk ke rumahmu? Biar kujelaskan semua di dalam." Joshua tidak menjawab pertanyaan sang adik karena ia tidak ingin ada salah paham di antara mereka. 


Jason pun mengangguk lalu mengajak mereka masuk termasuk Ruby yang sejak tadi hanya diam saja. 


***


"Oh, jadi namamu Ruby, adiknya Nicky?" tanya Jason mengulangi setelah Ruby menjelaskan. 


"Iya. Apa Anda tahu di mana kakak saya sekarang tinggal?" Ruby balik bertanya. 


"Kebetulan sekali, nanti sore aku akan ke sana karena Rere sudah mulai kontraksi. Kalau kau mau ikut maka ikutlah," ajak Zifana yang sejak tadi diam mendengarkan. 


"Tentu saja. Terima kasih banyak, Tuan, Nona." Ruby bangkit berdiri dan membungkuk hormat. 

__ADS_1


Lalu mereka mengobrol banyak hal. Ruby bahkan menginap di rumah Zifana. Joshua pun juga karena dalam rencana mereka berempat akan menemui Rere sekalian berakhir pekan. 


Keesokan paginya, mereka langsung bersiap untuk ke luar kota. Selama dalam perjalanan banyak sekali bahan obrolan di antara mereka. Ruby yang awalnya pendiam pun kini menjadi wanita yang suka mengobrol bahkan pandai mencairkan suasana. Hal itulah yang membuat perjalanan tidak terasa lama. 


Ketika sudah sampai di kota tujuan, mereka langsung menuju ke rumah sakit karena Rere baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki. Mereka pun bergegas menuju ke ruangan VIP tempat Rere dirawat. 


Kedatangan mereka begitu disambut oleh Rere maupun Nicky. Mereka belum melihat keberadaan Ruby di sana karena gadis itu sedang izin ke toilet terlebih dahulu. 


"Selamat siang." Ruby membuka pintu ruangan. Membuat suasana hening beberapa saat sampai akhirnya Nicky berlari mendekati Ruby dan langsung memeluk wanita itu dengan sangat erat. 


"Ruby, ini kau?" Nicky melepas pelukannya. Menangkup wajah Ruby dengan erat dan melihat dengan seksama. Memastikan bahwa ia tidak salah lihat dan semua ini bukanlah mimpi. 


Kedua mata Ruby terlihat berkaca-kaca. "Iya, Kak. Ini Ruby. Aku kangen sekali sama Kak Nicky." 


"Bagaimana kau bisa ada di sini? Apa papa dan mama tidak mencarimu?" tanya Nicky penasaran.


Wajah Ruby mendadak dipenuhi kesedihan. Hal itu sontak membuat Nicky merasa cemas. Khawatir terjadi apa-apa dengan keluarganya. 


"Kak, setelah Kak Nicky pergi dari rumah. Mama dan papa meninggal dunia karena kecelakaan dan sekarang semua harta kita sudah menjadi milik Bibi Gracia." 


"A-apa." 


Tubuh Nicky terasa lunglai dan langsung luruh ke lantai begitu saja. Cairan bening yang mengalir dari kedua sudut matanya pun tidak bisa dikendalikan lagi. Hatinya serasa hancur kala itu juga. Padahal seharusnya ia merasa bahagia karena baru saja memiliki putra, meskipun bayi itu bukanlah darah dagingnya, tetapi ia sudah menganggapnya anak sendiri karena terlahir dari wanita yang dicintainya. 

__ADS_1


Namun, sekarang kenyataan seolah mengajaknya bercanda. Membawa kabar duka hingga membuat kebahagiaan itu terasa hampa dalam waktu sekejab. 


"Kakak akan membalas bibi dan mengambil alih semua harta kita. Kakak tidak mau jika harta papa dan mama menjadi milik orang serakah seperti mereka." Tangan Nicky terkepal erat. Rahangnya mengetat bahkan sorot matanya dipenuhi dengan kilatan amarah. "Kakak juga akan membalas kematian mama dan papa. Kakak yakin kalau Bibi adalah dalang di balik semua ini." 


Nicky bangkit berdiri dan hendak pergi dari sana. Membawa rasa dendam dan amarah yang terasa membuncah di dada. Namun, saat baru sampai di ambang pintu langkah Nicky terhenti ketika Rere memanggilnya. 


Dengan gegas, Nicky pun segera kembali mendekati brankar dan mencium kening wanita itu dengan sangat lembut. "Maafkan aku, Re. Mungkin sebentar lagi aku harus pergi." 


"Kau mau meninggalkanku? Nick, ke mana pun kau pergi maka aku akan ikut denganmu." Rere menyahut cepat. Ia tidak mau ditinggalkan oleh Nicky karena sekarang hidupnya tergantung pada lelaki itu. Jika berada jauh dari Nicky, sudah pasti Rere akan merasa sangat kesepian bahkan hidupnya pun akan terasa hampa. 


"Re, aku tidak mau terjadi apa pun denganmu. Jadi, lebih baik kau di sini saja. Setelah semua urusanku selesai maka aku akan langsung kembali." Nicky berusaha merayu. 


"Aku tidak mau! Aku akan ikut denganmu. Biarlah kau mengataiku sebagai wanita keras kepala! Nick, aku tidak bisa hidup tanpamu sekarang." Mata Rere terlihat basah. Hal itu pun membuat Nicky merasa tidak tega. 


"Nick, kau bisa pergi setelah satu bulan lebih. Sekalian bisa menyusun rencana untuk membalas bibimu itu. Jangan tergesa apalagi gegabah. Lagi pula, apa kau tega meninggalkan Rere yang baru melahirkan. Kalaupun dia ikut, bagaimana dengan bayimu. Apakah tidak berbahaya jika membawanya ke sana." Jason berusaha mendinginkan suasana. 


Nicky pun diam untuk memikirkan. Ia sungguh merasa bimbang. Rere tidak mau ditinggal olehnya, sedangkan jika membawa wanita itu pun, ia merasa tidak yakin. Ia takut terjadi apa-apa terhadap istri dan putranya. 


"Son, bukankah kau pernah berjanji akan merawat  anakku jika aku hamil anak lelaki brengsek itu," ujar Rere. 


Jason mengangguk cepat meskipun ia sudah mulai melupakan janji itu. 


"Kalau begitu, aku akan ikut Nicky pergi dan aku ingin kalian membantuku menjaga putraku," ucap Rere membuat mereka tersentak.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah setuju dengan idemu, Re!" tolak Nicky mentah-mentah. 


__ADS_2