ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-69


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu, tetapi Zifana belum merasakan tubuhnya membaik. Ia terus saja merasa mual dan pusing apalagi saat baru bangun tidur. Bukan hanya tubuhnya saja yang terasa tidak baik, tetapi suasana hatinya pun sama. Zifana pun seringkali dongkol dengan suaminya walaupun hanya karena masalah sepele. Moodnya benar-benar naik turun seperti orang hamil. Tidak bisa ditebak. Kadang baik, tetapi beberapa saat langsung memburuk begitu saja. Namun, Zifana belum berpikiran sampai sejauh itu karena ia tidak ingin memberi harapan pada hatinya sendiri. 


Jason sudah memaksa Zifana untuk pergi ke dokter, tetapi wanita itu justru menolak bahkan tidak jarang mengomel. Sampai akhirnya Jason memilih untuk diam saja dan hanya menuruti keinginan Zifana yang bermacam-macam. 


Seperti sekarang ini, Zifana mengajak makan malam. Jason sudah mengajaknya ke restoran, tetapi wanita itu justru menolak. Meminta untuk makan nasi goreng pinggir jalan yang lesehan. Tentu saja kali ini Jason yang menolak dengan tegas karena ia jarang sekali makan di tempat seperti itu. Bahkan, belum pernah sama sekali. 


Namun, apa yang terjadi setelah Jason menolak, wanita itu merajuk. Hampir menangis seperti anak kecil sampai akhirnya Jason pun tak kuasa melihatnya dan terpaksa menuruti keinginan wanita tersebut. 


Ketika melihat Zifana yang sedang melahap satu porsi nasi goreng, Jason mengambil gambar wanita itu lalu mengirimkan kepada Joshua. Lelaki tersebut bukannya makan justru saling bertukar pesan. Bagi Jason sekarang ini adalah meluapkan keluhan yang yang mengganjal di hatinya kepada Joshua meski hanya sekadar lewat pesan. 


Adikmu sungguh luar biasa. Aku serba salah di matanya dan lihatlah sekarang. Dia bahkan mengajakku makan di pinggir jalan seperti ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Moodnya benar-benar susah ditebak sejak kau menikah. Apa mungkin Zifana terkena 'sawan manten'. [Jason] 


Haha aku ini ada-ada saja. Mungkin Zifana sedang PMS. Bukankah mood wanita PMS itu mengerikan. Nikmati saja, lagian jika seperti itu masih aman makan di warung lesehan pinggir jalan seperti itu. Kau tenang saja, kalian tidak akan mati hanya karena makan di situ. [Joshua]


Kau bilang aman? Kemarin saat kau menikah, dia minta makan mie ayam di warung biasa. Keesokan paginya dia muntah karena masuk angin. Bahkan sampai sekarang dia sering muntah setiap pagi. Aku sampai berpikir kalau adikmu mungkin saja keracunan.  [Jason] 


Kau tidak membawanya ke dokter? [Joshua]


Tidak. Adikmu menolak. Bahkan, aku sudah memaksanya, tetapi dia tetap tidak mau. Sangat keras kepala. [Jason]


Kalau begitu, kau diam-diam bawa dia ke dokter saja, tapi jangan bilang padanya. Jangan-jangan Zifana hamil karena tingkahnya seperti wanita ngidam. Coba kau tanya kapan terakhir kali dia datang bulan. Kalau dia sudah terlambat, kemungkinan Zifana benar-benar ngidam. [Joshua] 


Jason tidak lagi membalas pesan kakak iparnya. Ia kembali menatap Zifana yang sudah hampir menghabiskan satu porsi nasi goreng. Sungguh, Jason belum pernah kepikiran sampai sejauh itu. Namun, jika diingat-ingat, Zifana memang sudah lama sekali tidak datang bulan. Mereka bahkan masih rutin melakukan hubungan intim. 

__ADS_1


Setelah Zifana merasa kenyang dan meminta pulang, Jason pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bukan pulang ke rumah melainkan ke klinik. Ia harus memastikan semua ucapan Joshua. 


"Kenapa kita ke sini?" tanya Zifana heran. Keningnya mengerut dalam sampai membuat kedua alisnya saling bertautan. 


"Zi, aku ingin kau diperiksa. Aku mohon." Jason menatap istrinya dengan penuh harap. 


"Aku baik-baik saja, Son. Aku tidak mau. Lebih baik sekarang kita pulang." Zifana merajuk, tetapi kali ini Jason tidak akan kalah. Ia harus merayu Zifana agar tetap bersedia untuk diperiksa. "Ayo pulang! Atau aku jalan kaki saja!" 


"Jangan. Aku hanya ingin memastikan kalau kau benar hamil atau tidak. Sepertinya kau sudah lama tidak datang bulan dan mood-mu juga seperti orang ngidam." Jason mengatakan hal yang mengganjal di hatinya. 


Zifana pun diam untuk memikirkan  semuanya. Ya, ia memang sudah hampir dua bulan ini tidak datang bulan. Namun, Zifana menganggap hal itu sudah biasa apalagi kemarin-kemarin ia dalam kondisi stres setelah berpisah dengan Clay. Berada dalam situasi hati yang tidak baik, biasanya siklus menstruasi Zifana akan berantakan. Apalagi Zifana yang kelelahan karena harus mengurus pernikahan sang kakak. 


Namun, setelah memikirkan semuanya dengan matang-matang. Zifana pun akhirnya menuruti keinginan sang suami agar hati lelaki itu merasa tenang. Mereka turun dan mobil dan langsung masuk ke klinik tersebut. 


"Bagaimana, Zi?" tanya Jason dari luar pintu. 


Zifana yang masih berada di dalam pun, hanya berdiri terpaku. Menatap alat test kehamilan yang menunjukkan garis dua. Tanpa sadar, air mata Zifana jatuh dari kedua sudut matanya. Ia menangis haru. 


Saking terharunya, Zifana sampai tidak menyadari kalau Jason terus saja mengetuk pintu dan memanggil namanya. Lelaki itu merasa cemas karena tidak mendapat jawaban dari dalam. 


"Zi! Buka pintunya, kalau tidak maka akan kudobrak sekarang juga!" ancam Jason keras. 


Zifana pun tersadar dan langsung membuka pintu tersebut. Jason terlihat mengembuskan napas lega saat melihat Zifana baik-baik saja. Ia khawatir jika Zifana ternyata pingsan di dalam sana. 

__ADS_1


"Bagaimana, Zi?" tanya Jason tidak sabar. 


Zifana mendes*han napas ke udara secara kasar. Lalu menggeleng lemah. Jason yang begitu berharap pun, nampak menunjukkan sedikit kekecewaannya. 


"Ya sudah, kita minta obat untukmu saja. Agar kau tidak mual-mual terus." Jason mengajak Zifana kembali, tetapi Zifana menahan langkah suaminya. Menggenggam tangan Jason dengan erat dan menatapnya penuh arti. 


"Kau tidak mau menyapa calon anakmu?" tanya Zifana sambil tersenyum simpul. 


"Maksudnya?" Jason mengerutkan keningnya dalam. 


"Aku hamil!" Zifana berbicara lantang sambil menunjukkan alat testpack yang menunjukkan garis dua.


Jason tertegun selama beberapa saat. Lalu mengambil alat itu dan melihatnya dengan lekat. "Ka-Kau hamil?" 


Bibir lelaki itu bergetar. Zifana mengangguk lemah lalu selang beberapa saat, Jason menarik tubuh istrinya masuk dalam dekap eratnya. 


"Ya Tuhan, terima kasih banyak. Akhirnya Engkau menitipkan amanah pada kami. Terima kasih, Zi." Jason menitikkan air mata haru saking biasanya. 


Zifana pun sama terharunya. Ia tidak menyangka jika akhirnya doanya terkabul. Usaha yang selama ini dilakukan dengan sang suami, tidak sia-sia. 


"Aku mencintaimu, Zi. Aku berjanji akan menjaga calon anak kita dengan baik." Jason mengecup kening Zifana sangat lama. Menyalurkan segala rasa bahagia yang teramat dalam. 


"Aku juga mencintaimu, Jason." 

__ADS_1


__ADS_2