ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-47


__ADS_3

Jason menutup rapat mulutnya. Mendengar ucapan Zifana, membuatnya merenung. Ya, mungkin ia memang sudah berlebihan sekarang ini. Jason bahkan tidak bisa menghitung berapa kali ia menyebut nama Arini seharian ini tanpa memikirkan perasaan Zifana. 


"Aku mau pulang. Kalau kau tidak mau mengantarku, tidak apa. Aku bisa pulang naik taksi." Zifana hendak membuka pintu mobil. Namun, Jason langsung menahannya.


"Zi ... maafkan aku." Jason menyentuh lengan Zifana dengan lembut.


"Berapa kali kau meminta maaf padaku? Sepertinya kau tidak perlu melakukan itu karena kau tidak bersalah di sini. Jadi, kau berhentilah untuk minta maaf. Aku memang terlalu berlebihan seperti apa yang kau katakan tadi. Tidak seharusnya aku cemburu pada orang yang sudah mati. Jadi, biarkan aku pulang sendiri. Aku butuh waktu untuk merenungi semuanya." Zifana menyingkirkan tangan Jason dari lengannya.


"Zi, aku tidak akan membiarkan kau pulang sendiri! Aku akan mengantarmu," ucap Jason.


Zifana tidak menjawab apa pun. Hanya diam saja. Jason pun segera melajukan mobilnya ke rumah Zifana untuk mengantar wanita itu. Selama dalam perjalanan pun, Zifana hanya diam dan tidak menjawab ketika Jason berbicara padanya.


Suasana di mobil tersebut benar-benar berbeda.


Setelah sampai di rumah, Zifana langsung masuk kamar. Bahkan, tidak meminta Jason untuk masuk. Joshua yang melihat gerak-gerik adiknya pun merasa heran dan segera menemui Jason yang masih di luar rumah.


"Kau kenapa? Marahan sama Zifana?" tanya Joshua ingin tahu.


Jason menghela napas panjangnya. "Aku tidak tahu harus bagaimana, Jo. Aku mungkin salah sering menyebut nama Arini, tapi aku bersumpah tidak sadar saat mengucapkannya. Entahlah, sekarang ini aku lebih sering kepikiran Arini sampai-sampai membuat adikmu cemburu."

__ADS_1


Lelaki itu mendes*h pasrah. Hatinya benar-benar seperti terombang-ambing. Joshua yang melihat kebimbangan memenuhi raut wajah sahabatnya pun langsung menepuk punggung lelaki itu.


"Aku akan membantumu menenangkan Zifana. Son, mungkin Arini ingin kau menemuinya dan meminta izin untuk menikah dengan Zifana. Cobalah datang ke makam Arini. Mungkin setelah itu ia tidak akan membayangimu lagi," saran Joshua.


Jason pun diam untuk mempertimbangkan. Setelahnya, ia pun mengiyakan ucapan lelaki itu dan tak lupa berterima kasih padanya. Jason juga meminta bantuan Joshua untuk meminta maaf pada Zifana.


***


"Zi, bangun udah siang." Joshua membuka selimut yang menutup tubuh adiknya dan menggoyangkan tubuh sang adik agar bangun.


Bagaimana tidak, jam sudah menunjuk angka sembilan, tetapi Zifana masih berlayar ke pulau mimpi.


"Apaan, sih, Bang! Aku masih ngantuk. Mumpung masih libur juga," sahut Zifana. Kembali menarik selimut sampai menutup tubuhnya lagi.


"Biarin. Mumpung libur, aku mau rebahan, rebahan, dan rebahan." Zifana mejawab tegas. Sontak membuat Joshua menghirup napas dalam.


"Ya sudah, kalau gitu Abang jalan sendiri aja. Jenuh juga di rumah terus." Joshua turun dari ranjang adiknya, sedangkan Zifana langsung membuka selimut.


"Abang mau ke mana?" tanya Zifana penasaran.

__ADS_1


"Kau tidak perlu tahu. Bukankah kau bilang akan tiduran terus hari ini," sahut Joshua disertai senyuman meledek.


"Ih, nyebelin. Aku ikut!" Zifana bergegas bangun bahkan menendang selimut dan duduk dengan tegak. 


"Memangnya kau tidak pergi dengan Jason? Ingat, Zi. Pernikahan kalian tinggal sebentar lagi dan semua persiapan belum selesai bulan," ucap Joshua memancing sang adik. 


"Entahlah, Bang. Aku tidak yakin mau ngelanjutin pernikahanku dengan Jason." Zifana tengkurap dan memeluk guling dengan erat. 


"Kenapa? Apa kalian sedang ada masalah? Semalam juga Jason langsung pulang tidak mampir dulu setelah mengantarmu," kata Joshua. Mengusap punggung sang adik dengan lembut. 


"Tidak papa. Semua baik-baik saja." 


"Jangan bohong pada Abang, Zi. Kalau semua baik-baik saja, mana mungkin kau ingin membatalkan pernikahan kalian." Joshua menatap sang adik dengan penuh selidik. Zifana yang merasa tidak bisa berbohong kepada sang kakak pun langsung mendes*hkan napas ke udara secara kasar. 


"Bang, aku tidak yakin Jason sudah mencintaiku. Sementara dia terus saja menyebut nama Arini. Mungkin aku salah, terlalu cemburu pada orang yang sudah mati. Tapi, hatiku juga sakit saat mendengar nama Arini terus disebut-sebut." Suara Zifana terdengar lirih. 


"Zi ... kau tidak salah. Abang tidak akan membela siapa pun. Mungkin, Jason seperti itu karena dulu ia dan Arini hampir menikah. Bahkan, semuanya sudah disiapkan seratus persen, tetapi Tuhan berkehendak lain. Tidak mudah menghapus nama seseorang. Abang sudah bilang kepada Jason untuk datang berkunjung ke makam  Arini. Sekadar meminta izin. Mungkin dengan itu, Jason tidak lagi terbayang-bayang pernikahannya yang gagal dengan Arini." Joshua berbicara selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaan adiknya. 


"Tapi, Bang ...."

__ADS_1


"Zi, kau harus kuat dan bertahan. Ketika kau akan menyerah dan memilih untuk membatalkan semuanya maka kau harus mempertimbangkan semuanya dengan matang-matang. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari. Setiap orang yang akan menikah, biasanya memang memiliki cobaan terberat untuk menguji sampai mana mereka bisa bertahan." Joshua menghentikan ucapannya sesaat. "Jadi, jangan ambil keputusan ketika suasana hatimu sedang tidak baik." 


Zifana diam dan merenungi ucapan sang kakak. 


__ADS_2