
"Jason ...." Suara Zifana begitu lirih bahkan nyaris tidak terdengar.
Sorot mata wanita itu menunjukkan kesenduan yang teramat dalam. Tidak ada sedikit pun raut bahagia dalam wajah cantiknya. Jason yang mengetahui penyebab kegelisahan sang istri pun langsung menarik tubuh wanita itu masuk dalam dekap eratnya.
"Kau pasti kuat. Aku yakin itu. Kau harus bisa ikhlas." Jason memejamkan mata seolah merasakan kesedihan yang sedang dirasakan oleh Zifana. Sementara tangis Zifana justru terdengar setelah mendengar ucapan Jason. Yang membuatnya mengingat hal yang akan menyakiti hatinya.
Bagaimana tidak. Setelah hampir setahun menjaga Clay, merawatnya dengan penuh kasih sayang, kini tiba saatnya mereka harus melepaskan bocah itu agar dirawat oleh keluarga aslinya. Sebenarnya Jason menolak karena yang memerintah adalah Cakra bukan Rere. Namun, Jason tidak memiliki pilihan lain.
Ya, setelah mengetahui kalau ia sudah memiliki cucu, lelaki itu langsung menelepon Jason dan memintanya untuk membawa Clay ke luar negeri. Jason awalnya menolak karena ia khawatir Cakra akan melakukan hal jahat pada bocah itu. Namun, Cakra tidak kehilangan akal. Ia mengancam Jason akan melukai Zifana jika tidak membawa bocah itu ke sana. Lelaki itu seolah tahu apa yang menjadi kelemahan Jason.
Pada akhirnya, Jason pun menerima permintaan lelaki itu. Namun, Jason tidak pergi begitu saja, ia memakai pengawalan yang ketat dan berjaga-jaga siapa tahu Cakra berbuat nekat yang bisa saja membahayakan Clay. Ia juga mengajak Joshua dan Ruby untuk pergi bersama mereka.
"Tapi bagaimana kalau Rere tahu kita membawa Clay menemui kakeknya, sementara kita tidak mengatakan padanya lebih dulu. Aku yakin kalau dia akan sangat kecewa pada kita," ucap Zifana ragu. Isakannya yang ditahan sejak tadi, kini mulai terdengar.
"Rere tidak akan marah selama Clay baik-baik saja. Aku akan menjaga Clay dan menjelaskan semuanya pada Rere. Kau harus percaya padaku bahwa aku akan menjaga Clay dengan baik." Jason mengusap air mata yang sudah membasahi wajah istrinya.
Ia pun ingin menangis karena merasa berat harus melepaskan Clay. Namun, bagaimana lagi. Semua sudah menjadi takdir. Sesayang apa pun mereka pada Clay, Rere lebih berhak atas bocah itu karena merupakan ibu kandungnya.
Setelah bersiap, mereka pun segera berangkat. Zifana sama sekali tidak melepaskan Clay dan terus membawa bocah itu dalam pelukannya. Bukan hanya Zifana dan Jason yang sedih, tetapi keluarga mereka juga. Sungguh, Clay sudah mampu mencuri hati semua orang dan membuat mereka takut kehilangan bocah itu.
Walaupun Clay tidak ada hubungan darah dengan keluarga mereka, tetapi bocah itu begitu disayangi.
"Sekarang kita berangkat. Joshua dan Ruby sudah menunggu di mobil." Jason berusaha menenangkan hati istrinya.
__ADS_1
"Ma ... Ma ... Ma ...." Zifana tersenyum getir ketika mendengar Clay yang mulai bisa memanggilnya. Bahkan, air mata wanita tersebut tidak mau berhenti sama sekali.
"Sayang." Zifana mencium kening Clay sangat dalam lalu memeluknya erat.
Ya Tuhan, ini rasanya sangat berat untukku. Tapi mau bagaimana lagi. Aku hanya bisa pasrah dan semoga Engkau lekas menitipkan benih cinta di rahimku.
Setelahnya, mereka pun bergegas menuju ke bandara untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh.
***
Rere dan Nicky baru saja sampai di rumah mereka, lebih tepatnya rumah milik orang tua Nicky yang sekarang sudah menjadi miliknya. Wajah Rere masih terlihat sendu. Ia masih belum tenang karena Cakra sama sekali tidak mengatakan akan memaafkannya. Namun, Rere merasa sedikit lebih lega setelah bertemu mereka.
Belum juga membersihkan diri, Rere langsung menghubungi Zifana. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah lucu Clay. Bahkan, Rere terus saja menghitung hari sampai waktu itu tiba dan ia bisa hidup bersama dengan Clay. Mengasuh bocah itu dan melimpahnya dengan kasih sayang.
"Nick, kenapa nomor Zifana sama sekali tidak bisa dihubungi, ya." Rere merasa heran karena tidak biasanya nomor Zifana tidak bisa aktif seperti sekarang ini.
Perasaan Rere mendadak cemas. Khawatir terjadi apa-apa dengan mereka. Akan tetapi, Rere berusaha menepis perasaan itu. Ia mencoba berpikir positif bahwa mereka baik-baik saja. Mungkin saat ini mereka sedang sibuk, begitulah pikir Rere.
"Lebih baik sekarang kau tidur. Sudah waktunya istirahat. Jangan sampai kau kelelahan. Aku tidak mau kalau kau sampai sakit, Re." Nicky mengajak Rere untuk segera tidur.
Walaupun hatinya dilanda kegelisahan yang teramat hebat, tetapi Rere tetap menuruti perintah suaminya. Ia merebahkan diri di samping Nicky lalu memeluk lelaki itu dengan erat. Hanya itulah cara untuk membuat hati Rere menjadi tenang.
***
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan pesawat, kini Jason dan yang lain bergegas ke rumah keluarga Jason terlebih dahulu untuk beristirahat. Kebetulan sekali, rumah itu tidak jauh dari rumah orang tua Rere.
Kedatangan Jason begitu disambut apalagi Zifana karena ini merupakan pertama kali wanita itu menginjakkan kaki di sana. Mereka pun berkumpul dan saling mengobrol banyak hal. Zifana yang sedang merasakan kegelisahan hatinya pun berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Sangat pandai menutupi dan terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Keesokan paginya, Jason langsung mengajak mereka untuk menemui Cakra karena Jason tidak mau menunda lagi. Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya dalam waktu yang lama.
Ketika mobil Jason berhenti di depan sebuah rumah mewah, bercat putih dipadu warna keemasan, jantung Zifana tiba-tiba berdebar sangat kencang. Ia terus saja menatap Clay yang sedang pulas tidur dalam pangkuannya.
"Kuharap kau bisa ikhlas, Zi." Jason mencium kening Zifana sebelum akhirnya turun dari mobil. Disusul oleh Joshua dan Ruby yang menggunakan mobil berbeda.
Semakin langkah Zifana mendekat ke arah pintu, semakin sakit pula luka yang dirasakan oleh wanita itu. Andai bisa, ia akan berbalik dan berlari menjauh dari tempat itu agar tidak ada yang memisahkan Clay darinya. Namun, akal sehat Zifana masih sadar dan ia tidak mungkin melakukan itu.
"Huh!" Zifana mengembuskan napas kasar saat Jason mengetuk pintu tersebut, sedangkan Joshua tak lepas sedikit pun dari adiknya. Ia pun sama khawatirnya seperti Jason. Khawatir pada Zifana yang pasti akan merasa sedih.
"Jason," panggil Belinda. Terkejut ketika melihat kedatangan Jason dan yang lain.
"Tante." Jason menyalami tangan wanita itu. Begitu pun dengan yang lain.
"Siapa yang datang, Ma?" tanya Cakra. Ia menatap mereka semua dan tatapannya terfokus pada Clay yang berada dalam gendongan Zifana.
"Jason, apa dia cucuku?" tanyanya terbata. Jason menggangguk cepat. "Ya Tuhan, Ma. Aku tidak menyangka kalau kita sudah punya cucu. Sangat tampan pula."
__ADS_1
Cakra mengusap bulir bening dari sudut matanya. Ia sangat terharu dan tidak menyangka dengan semua ini. Bahkan, Cakra langsung mengambil alih Clay dari gendongan Zifana.
"Ah, cucuku tampan sekali." Cakra menciumi pipi Clay lalu berjalan masuk. "Ma, suruh mereka masuk," perintahnya.