ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-39


__ADS_3

"Sialan! Siapa orang itu, Ndre!" Suara Rizal menggelegar. Merasa geram karena ada orang yang mengikuti mereka hingga membuat Rizal terpaksa membawa Zifana kabur. Sementara itu, Zifana hanya duduk diam karena ia tidak akan mungkin melawan. Ia sudah pasrah selama Rizal ataupun lainnya tidak melakukan hal senonoh padanya. 


"Dia itu sahabat Rere di luar negeri. Aku tidak menyangka kalau dia akan menyusul ke sini." Andre pun ikut geram sendiri. Selama ini, setiap kali ia akan merusak Rere, selalu saja digagalkan oleh Nicky hingga ia berhasil merenggut keperawanan Rere saat Nicky lelah. Namun, kini ketenangannya harus kembali terusik. 


"Sialan! Dia pasti membututi kita karena melihatmu. Jangan sampai dia menemukan kita karena aku belum puas memberi pelajaran untuk Tuan Jason." Rizal mengepalkan tangannya erat. "Jay, di mana istrimu? Kenapa dia tidak kembali juga. Aku sudah sangat kelaparan." 


"Belum tahu, Tuan. Biar saya hubungi." Jayden yang sejak tadi hanya diam mendengarkan pun kini menghubungi Leli yang sedang disuruh untuk membeli makanan. 


Namun, belum juga panggilan itu terhubung mereka dikejutkan dengan kedatangan Jason dan lain yang tiba-tiba masuk ke rumah itu karena pintu tidak dikunci. Membuat Rizal tersentak kaget. 


"Rizal!" bentak Jason sembari melayangkan tatapan tajam. "Ternyata memang benar kau yang sudah menyekap Zifana. Bajingan!" 


Merasa keadaan tidak aman, Rizal pun segera menarik tubuh Zifana bahkan sudah mengalungkan lengannya di leher gadis tersebut. Zifana meronta, tetapi satu tangan Rizal mencekal lengannya dengan sekuat tenaga. 


"Kau berani mendekat maka aku akan membunuh Nona Zifana. Aku tidak akan segan-segan mencekiknya sampai ia mati seperti Arini. Hahaha." Tawa Rizal terdengar keras hingga membuat Zifana yang berada didekatnya merinding. Seperti tawa orang yang sudah tidak waras. 

__ADS_1


"Kau jangan gila, Zal!" Joshua tidak terima. Ingin sekali ia menghajar lelaki itu. Namun, ia khawatir jika Rizal akan menyakiti adiknya. 


"Aku tidak menyangka kalau ternyata kau adalah musuh yang menggunakan topeng di depanku. Katakan ada apa dan kenapa kau bisa menyekap Zifana. Kita bisa membicarakan dengan baik-baik, Zal!" Jason masih berusaha bernegosiasi. Namun, Rizal hanya diam sambil tersenyum miring. 


"Kau masih menyimpan dendam atas kematian Arini? Kalau kau tidak bisa ikhlas seperti ini, aku yakin Arini justru tidak tenang di alam sana." Rere pun ikut bicara. 


Rizal mengalihkan tatapannya kepada Rere. "Diamlah kau wanita sialan!" 


"Siapa yang sialan! Bukankah kau yang sialan! Kau tidak terima atas kematian Arini, tapi kau justru meminta orang untuk mengambil keperawananku hanya karena aku tahu apa yang kau rencanakan. Aku tahu kalau lelaki brengsek itu adalah suruhanmu!" Rere menunjuk wajah Andre dengan geram. 


"Hahaha. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi niatku untuk membalas dendam kepada Tuan Jason. Aku mencintai Arini dan ikhlas jika dia memilih Tuan Jason, tapi apa! Arini justru mati saat menjadi kekasih Tuan Jason!" 


"Kau mencintai Arini?" tanya Jason tidak percaya. 


"Ya. Saya sangat mencintainya, Tuan. Hati saya sakit saat melihat Arini meninggal dunia. Sekarang, bagaimana kalau Anda merasakan hal yang sama. Bagaimana kalau saya membunuh Nona Zifana agar Anda merasakan apa yang saya rasakan. Kehilangan wanita yang dicintai." Rizal tersenyum licik sambil mengeratkan tangannya hingga membuat Zifana terbatuk karena susah mengambil napas. 

__ADS_1


"Rizal! Kau jangan gila! Kalau kau seperti itu. Kau bukan hanya menyakiti Jason, tapi aku yang lebih sakit! Lepaskan adikku!" bentak Joshua mulai cemas. Ia pun hendak maju, tetapi tiba-tiba suara tembakan tiga kali terdengar dari arah belakang. 


Membuat Andre, Rizal, dan Jayden mengerang kesakitan karena kaki mereka terkena tembakan semua. Merasa sudah terlepas, Zifana pun segera memeluk sang kakak dengan sangat erat. Ia menangis untuk meluapkan semua rasa takut yang teramat besar ia rasakan. 


Sementara Joshua menatap ke depan dan melihat tiga anggota polisi yang baru saja menurunkan pistol mereka. 


"Sayang, kau baik-baik saja." Papanya Zifana pun mendekat dan memeluk putrinya dengan erat. 


"Papa tahu kita di sini?" tanya Joshua heran karena ia belum memberi tahu kepada papanya tadi. 


"Ya, Leli yang menghubungi papa dan meminta untuk datang ke sini membawa anggota polisi. Leli bilang ada tiga penjahat yang harus dilumpuhkan," sahut lelaki paruh baya itu. 


Zifana pun melepaskan pelukannya dan melihat Leli yang sedang berdiri menunduk di dekat anggota polisi. Dengan langkah lebar, Zifana mendekati wanita itu setelah memastikan Rizal dan yang lain sudah ditahan oleh anggota polisi tadi. 


"Lel ... terima kasih." Zifana memeluk Leli dengan erat, tetapi Zifana mengerang setelahnya ketika merasakan sebuah benda tajam menusuk perutnya. Zifana pun jatuh tersungkur dengan sambil memegang perut yang sudah bersimbah darah.

__ADS_1


"Zifana!" pekik mereka bersama. Sementara Leli tetap berdiri tenang tanpa merasa takut apalagi berniat kabur. 


__ADS_2