ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-40


__ADS_3

..."Banyak orang yang pandai memakai topeng hanya untuk menutupi wajah aslinya. Mereka mungkin akan terlihat baik di depan Anda, tetapi di belakang ... kita tidak tahu orang itu seperti apa."...


...****************...


Ketiga pria yang sudah dilumpuhkan itu dibawa ke kantor polisi beserta dengan Leli. Sementara Zifana langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat penanganan segera. Semua terlihat khawatir apalagi saat mengingat bagaimana Zifana bersimbah darah. 


Setelah menunggu lebih dari dua jam, mereka mengembuskan napas lega ketika dokter mengatakan bahwa keadaan Zifana mulai stabil dan beruntung pisau tersebut tidak mengenai organ dalam gadis tersebut. 


Untuk saat ini mereka tinggal menunggu Zifana sadar. Melihat keadaan yang mulai dirasa aman, Joshua berpamitan kepada orang tuanya terlebih dahulu untuk melihat orang-orang brengsek tersebut terutama Leli. Sungguh, Joshua ingin sekali menghabisi wanita itu karena sudah membuat adiknya terluka. 


"Harap tenang ketika di sini. Jangan sampai ada gaduh," salah seorang anggota kepolisian mengingatkan. Joshua hanya mengiyakan meskipun ia harus mati-matian menahan emosi yang terasa memenuhi dadanya. 


"Kau harus bisa tahan emosi, Jo." Jason mengingatkan sahabatnya dan hanya ditanggapi dengan des*han napas kasar. 


"Katakan padaku, kenapa kau bisa-bisanya menyakiti Zifana? Apa kau masih dendam padanya?" Suara Joshua memang tidak terlalu keras, tetapi penuh dengan penekanan. 


"Kau tidak perlu tahu, Bang." Leli menjawab santai. Tidak ada raut bersalah dari wajahnya. 


"Justru aku harus tahu! Kau ini seperti manusia ular yang bermuka. Kau membantuku menemukan keberadaan Zifana sampai mereka tertangkap, tapi kau justru menusuk Zifana. Sebenarnya kau membela siapa!" tanya Joshua lagi. Tanpa menurunkan ataupun menaikkan nada bicaranya. 


"Aku tidak membela siapa pun! Karena aku membenci kalian semua! Tidak ada yang tidak kubenci selain diriku sendiri!" balas Leli tak kalah tegas.


Joshua terbungkam. Jika seperti ini terus yang ada mereka akan terus berdebat. "Kalau begitu baiklah. Aku akan membuat kamu mendekam sangat lama di penjara." 


"Terserah kau, Bang. Aku justru bersyukur kalau sampai di sini terus. Aku tidak perlu mencari tempat tinggal dan menangisi kepergian anakku." Suara Leli yang tadi penuh dengan ketegasan kini mulai terdengar memelan. 


"Maksudnya?" tanya Joshua heran apalagi saat melihat raut wajah Leli yang mendadak sendu. 

__ADS_1


"Aku justru ingin mati dan pergi dari dunia ini sejauh mungkin. Menyusul anakku yang sudah mati terlebih dahulu. Hatiku sudah sangat sakit dan tidak sanggup jika terus hidup." Leli menutup wajah dan terisak lirih. 


Jason dan Joshua pun terdiam karenanya. 


"A-apa anakmu sudah meninggal?"  tanya Joshua terbata. 


"Ya. Jayden sudah membunuh anakku, darah dagingnya sendiri." 


Hening.


Jawaban Leli membuat kedua lelaki itu tercengang sampai menutup rapat mulut mereka. Bahkan, Joshua menatap Leli sangat lekat untuk mencari kesungguhan dari ucapan wanita itu. 


Flashback on


Leli merasa sangat sakit hati karena Jayden mengucapkan kata talak. Bukankah dengan itu artinya ia tetap resmi menjadi seorang janda. Hati Leli sungguh sangat sakit karena ia merasa hanya dijadikan permainan saja oleh lelaki itu. 


"Diamlah! Aku muak mendengar suaramu!" bentak Jayden. 


Leli pun hanya diam sambil menggendong anaknya. Namun, ia terkejut ketika Jayden tiba-tiba mengambil alih gendongan bayi tersebut dan mengatakan bahwa akan membawanya jalan-jalan. Leli memaksa ikut, tetapi Jayden melarang dengan tegas. 


Hati Leli mendadak cemas. Ia pun berusaha terus menghubungi Jayden, tetapi tidak ada satu pun panggilannya yang terhubung. Sebagai seorang ibu, Leli sungguh merasa sangat cemas meskipun anaknya sedang bersama dengan ayah kandungnya. 


Setelah tiga jam berkutat dengan kegelisahan, Leli pun berusaha mencari Jayden. Bukan hal yang mudah memang, tetapi Leli begitu tersentak ketika Jayden berada di sebuah kebun kosong. Yang membuat Leli mendadak cemas adalah sebuah gundukan tanah yang masih basah berada di samping lelaki itu. 


"Jay! Apa yang sedang kau lakukan!" 


Jayden tersentak ketika melihat Leli sedang berjalan mendekat ke arahnya. 

__ADS_1


"Di mana anak kita?" tanya wanita itu lagi. Begitu menuntut jawaban. 


"Dia sudah mati bahkan aku baru saja menguburnya," sahut Jayden santai. 


"Kau gila, Jay! Kau sungguh sangat tidak waras!" Air mata Leli mulai mengalir deras apalagi saat menatap gundukan tanah tersebut. Leli mendekat hendak membongkar lagi, tetapi Jayden justru menarik wanita itu untuk menjauh dari sana. 


"Lepaskan aku, Jay! Kau sungguh seperti binatang!" bentak Leli masih terus meronta. 


"Kau tenang saja. Aku sudah menguburkan anak kita dengan layak. Bukan asal kubur. Biarlah dia tenang di surga." Jayden masih menjawab santai. 


"Kau gila! Kau sungguh gila!" Leli terus saja mengumpat. Sungguh, hatinya merasa sangat sakit. 


Mereka berhenti setelah berjalan cukup jauh. Lalu Jayden menangkup dagu Leli bahkan sedikit merem*snya hingga membuat Leli meringis kesakitan. Namun, Jayden tidak peduli akan hal itu. 


"Dengarkan aku! Aku sengaja membunuh anak kita karena aku tidak mau tidak ada yang mengurusnya. Aku yakin, cepat atau lambat kita akan tertangkap. Jadi, lebih baik anak kita bersama dengan  Tuhan. Lebih aman daripada harus hidup di panti asuhan. Lagi pula, suatu saat kau masih bisa memiliki anak lagi. Jadi, kau tidak perlu menangisi seperti ini," ucap Jayden. 


Leli hanya bisa diam dan menaruh dendam kepada lelaki di depannya.


Flashback off 


"A-aku sungguh tidak percaya itu." Joshua menatap Leli dengan tidak percaya. Namun, saat melihat sorot mata wanita itu yang menunjukkan sebuah luka yang teramat dalam. Joshua pun mulai menaruh simpati padanya. 


"Kalau kau tidak percaya juga tidak apa, Bang. Aku tidak butuh dipercaya." Leli mulai terlihat tenang meskipun wajahnya masih menyisakan kesenduan. 


"Sudahlah, lebih baik kau katakan saja semuanya dengan jujur. Biar Jayden mendapat hukuman seberat mungkin atas semua perbuatan dia. Termasuk membunuh anak kalian," pungkas Joshua. 


Leli hanya diam dan pasrah. 

__ADS_1


__ADS_2