
Satu bulan kemudian.
"Selamat datang, Nona Zifana. Selamat bekerja kembali di kantor pria tampan seperti aku," seloroh Jason saat Zifana baru saja masuk ke ruangannya bersama dengan Joshua.
Gadis itu mendengkus kasar. Merasa tidak tenang dan kesal kepada lelaki menyebalkan di depannya. Namun, anehnya ia tetap mau bekerja di tempat lelaki itu.
"Aku baru saja mulai bekerja dan kau jangan menyebalkan seperti itu. Menyebalkan!" Zifana protes, tetapi Jason justru tergelak keras.
"Ya Tuhan, siapa yang menyebalkan di sini. Aku hanya menyambut kedatanganmu. Bukan begitu, Jo?" Jason menoleh ke arah Joshua yang sedang duduk di sofa sambil menggeleng sejak tadi.
Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa kedua orang itu terus saja bertengkar ataupun sekadar berdebat. "Terserah kalian saja. Aku mau kembali ke kantor."
Joshua bangkit dan mencium kening Zifana sebelum akhirnya berpamitan pergi dari sana. Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Zifana pun bergegas menuju ke meja kerjanya karena malas jika harus terus berhadapan dengan Jason.
Akan tetapi, lelaki itu seolah ingin menguji kesabaran seorang Zifana Mahreen. Dengan gaya cool dan sok tampan—padahal memang tampak, sih— ia berjalan menuju ke tempat wanita tersebut lalu duduk di tepi meja. Tatapannya begitu lekat hingga membuat Zifana kembali mendengkus kasar meski wanita itu terlihat salah tingkah karenanya.
"Aku ingin bekerja, jangan menggodaku." Zifana masih memalingkan wajah, tetapi wanita itu terlihat gugup ketika Jason justru memajukan wajahnya. Hingga mereka berjarak sangat dekat dan Zifana bisa merasakan deru napas hangat Jason yang menerpa wajah.
__ADS_1
Debaran jantung Zifana terasa lebih cepat dari biasanya. Ia gugup sekaligus grogi karena harus berjarak sedekat ini dengan sang bos. Ingin sekali Zifana menghindar, tetapi tangan Jason menghalangi hingga membuat Zifana hanya bisa bergeming di tempatnya.
"Selamat bekerja, Nona Manis," bisik Jason tepat di telinga Zifana. Membuat sekujur tubuh wanita itu meremang seketika.
Melihat raut wajah Zifana yang mendadak gugup, seketika membuat tawa Jason meledak. Sungguh, ini seperti sebuah hiburan untuknya.
"Kenapa kau tertawa! Apa ada yang lucu!" cebik Zifana. Bersedekap kesal sambil memajukan bibirnya beberapa centi.
"Jangan menggoda imanku! Kau terlihat menggemaskan kalau seperti ini. Rasanya aku ingin sekali menciummu," celetuk Jason. Tanpa takut pada Zifana yang sudah melirik tajam ke arahnya. "Sudahlah, lebih baik kembali bekerja karena aku tidak ingin imanku goyah."
Jason kembali ke meja kerjanya sendiri. Ia khawatir jika terus berdekatan dengan Zifana maka tidak bisa mengontrol diri. Sungguh, sekarang ini Zifana seperti godaan untuknya. Sementara itu, Zifana yang melihat Jason kembali ke mejanya pun seketika mengembuskan napas lega.
Ketika jam makan siang, Jason sengaja memesan makanan karena tidak ingin membuat Zifana kelelahan dengan pergi ke kantin atau restoran. Ia masih khawatir pada kesehatan wanita itu walaupun sebenarnya semua sudah baik-baik saja.
Tidak ada yang bisa dilakukan Zifana selain mengiyakan perintah sang atasan. Walaupun hatinya kesal, ia tetap menurut. Namun, semua kekesalan itu memudar saat Jason memesankan semua makanan favoritnya membuat wanita itu berbinar bahagia rasanya.
Melihat Zifana yang makan dengan lahap, Jason justru merasa kenyang. Ia hanya melihat wanita itu yang sedang makan sangat lahap.
__ADS_1
"Em, aku sampai lupa bertanya padamu. Bagaimana kabar Rere? Apa dia masih sering menghubungimu?" tanya Zifana di tengah kunyahannya.
"Telan dulu makananmu. Jangan makan sambil bicara nanti tersedak," perintah Jason. Wanita itu pun menelan makanannya dengan cepat.
"Dah, aku beneran penasaran sama dia." Zifana menelan dengan cepat hingga membuat Jason menggeleng. Setelahnya, wanita itu pun mengambil satu suap lagi sambil menunggu jawaban dari Jason.
"Selama ini Rere masih menghubungiku dan hubungan kami juga masih baik-baik saja. Ya, meskipun aku tidak bisa datang ke pernikahannya," ucap Jason lirih. Membuat Zifana mengalihkan perhatian kepadanya.
"Rere sudah menikah?" tanya Zifana tidak percaya sampai menghentikan kunyahannya.
"Ya, dia sudah menikah dengan Nicky. Bahkan, sekarang sudah hamil dua bulan. Rere sering cerita padaku, walaupun dia bukan mengandung benih Nicky, tetapi Nicky menerimanya dengan sangat baik bahkan memperlakukannya seperti ratu," tutur Jason.
Zifana mengangguk paham. "Syukurlah. Semoga mereka selalu bahagia."
"Semoga saja. Zi ... lalu kapan kita akan meraih kebahagiaan bersama?" tanya Jason.
Zifana mengerutkan keningnya bingung. "Maksudmu?"
__ADS_1
Jason menghela napas panjangnya. "Kapan kita akan menikah? Aku sudah mempersiapkan semuanya dan tinggal menunggu jawabanmu. Jika kau berkata ya, maka aku dan orang tuaku akan langsung datang untuk melamarmu."
"A-aku ...."