
Waktu terus berjalan dan calon pengantin itu masih saja seperti biasa. Tidak selalu saling bersikap romantis, justru seringkali terjadi perdebatan. Ya, anggap saja itu adalah bumbu asin-manis dalam sebuah hubungan.
Setelah soal cincin yang membuat Zifana merajuk dan mereka dianggap sedang mesum di dalam mobil, kini kedua orang itu sedang berdebat soal gaun pengantin.
Zifana ingin gaun warna putih susu yang tidak terlalu berlebihan. Pun lebih terkesan suci. Namun, Jason justru meminta untuk memakai gaun warna merah muda. Lebih terkesan feminim menurutnya.
"Gaun ini sebenarnya dulu akan dipakai oleh Arini. Dia sangat suka warna merah muda karena lebih feminim. Aku yakin, kau pasti akan secantik Arini jika memakai gaun ini," kata Jason. Menunjukkan gambar sebuah gaun panjang warna merah muda.
Memang terlihat berkelas dan cantik menurut Zifana. Namun, saat disamakan dengan Arini, membuat Zifana mendadak malas.
"Aku tidak mau. Aku mau warna putih. Itu lebih suci. Lagi pula, aku mana mungkin bisa menandingi kecantikan Arini," sahut Zifana lesu.
Ya, ia tahu ini salah. Tidak sepatutnya ia menaruh rasa cemburu kepada seseorang yang telah meninggal. Namun, ia pun sadar bahwa dirinya adalah manusia biasa yang punya perasaan.
Jangan baper, Zi.
"Tapi ...."
"Aku bukan Arini." Zifana menyela dengan penuh ketegasan. Membuat Jason langsung terdiam. "Aku tahu, mungkin aku akan terlihat cantik dengan gaun itu sama seperti Arini, tapi aku tidak ingin seperti siapa pun. Aku adalah Zifana bukan wanita lain dan aku punya seleraku sendiri," imbuhnya.
__ADS_1
"Maafkan aku sudah terlalu memaksamu." Jason menghela napas panjang. Wajahnya pun mendadak pias hingga membuat Zifana merasa tidak enak hati. Ia merasa kalau ucapannya sudah keterlaluan.
"Baiklah, aku pakai gaun ini saja setelah acara ijab kabul," pungkas Zifana. Ia bergegas bangkit dan hendak pergi dari sana, tetapi Jason langsung menarik tubuh wanita itu masuk dalam dekap eratnya.
Zifana mematung. Tidak membalas ataupun melepaskan pelukan tersebut.
"Tidak jadi. Maafkan aku. Tidak seharusnya aku membawa nama Arini dalam hubungan kita." Jason justru menyesal sendiri saat menyadari ia sudah bersikap keterlaluan.
"Tidak apa." Zifana membalas disertai senyuman.
"Arini," gumam Jason lirih hingga membuat Zifana tersentak.
"Arini." Jason menarik tangan wanita itu hingga berbalik padanya. Namun, saat melihat wanita tersebut, Jason langsung melepaskan cekalan tangannya.
Ternyata ia bukanlah Arini-nya. Wajah dan bentuk tubuhnya memang mirip, tetapi dari tatapan mata dan hidungnya sangat berbeda. "Ma-maaf. Aku salah orang."
Wanita itu hanya menatap Jason dengan heran lalu segera pergi dari sana. Setelahnya, Jason mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sungguh tidak tahu dengan dirinya sendiri. Kemarin-kemarin ia bisa lupa pada sosok Arini, tetapi akhir-akhir ini, dirinya seperti dibayang-bayangi oleh sosok Arini.
Apakah mungkin Arini tahu kalau Jason akan menikah dan arwah wanita itu seolah memberi tanda. Sekadar ingin mengucapkan selamat atau belum ikhlas jika Jason akan menikah dan mengganti posisinya di hati lelaki itu.
__ADS_1
Lelaki itu menepuk kening saat menyadari bahwa ia sudah meninggalkan Zifana. Dengan gegas ia berbalik dan terkejut melihat Zifana sedang berdiri tidak jauh darinya. Tatapan wanita itu terlihat sangat susah dijelaskan hingga membuat Jason menjadi tidak enak hati sendiri.
"Zi ...."
"Aku mau pulang." Zifana segera kembali ke mobil dengan cepat. Meninggalkan Jason yang berusaha mengejarnya.
Ia bahkan membanting pintu mobil dan hanya diam saat Jason sudah masuk ke sana.
"Zi, kenapa kau sekarang seperti anak kecil? Sepertinya kemarin-kemarin kau tidak seperti ini," cibir Jason.
"Aku memang seperti anak kecil. Jadi, lebih baik kau pertimbangan lagi untuk menikah denganku. Jangan sampai kau menyesal." Zifana melempar pandangan ke luar jendela. Tidak ingin bertatapan dengan lelaki di sampingnya.
"Zi, kenapa kau berkata seperti itu. Aku sudah yakin akan menikah denganmu. Kau jangan lah bersikap aneh. Aku tadi hanya salah melihat. Kupikir dia Arini, ternyata bukan. Hanya postur tubuh dan bentuk wajahnya saja yang mirip. Kau jangan berlebihan." Jason kembali mencibir. Tidak menyadari jika ucapannya bisa saja melukai hati Zifana.
"Aku memang berlebihan. Tidak seperti Arini." Zifana memejamkan mata. Berusaha sekuat tenaga agar cairan bening tidak mengalir dari sana.
"Jangan bilang kau cemburu, Zi. Arini itu sudah mati. Kau sungguh lucu, cemburu pada orang yang sudah mati." Jason mencengkeram setir kemudi dengan kuat.
"Ya, Arini memang sudah mati, tapi perasaanmu untuknya belum mati."
__ADS_1