
Hati Zifana terus saja merasa gelisah. Ia ingin menghidupkan ponsel dan mengirim pesan pada Jason, tetapi sialnya. Ponsel miliknya ditahan oleh Joshua. Sepertinya lelaki itu sengaja agar Jason tidak bisa memelas pada Zifana.
Setelah kepergian sang kakak, Zifana berusaha untuk tertidur, tetapi ia hanya berguling-guling di kasur tanpa bisa terlelap. Pikirannya mendadak blank seketika dan sekarang ini, ia hanya mondar-mandir tidak jelas. Menunggu kedatangan Jason meskipun ia tidak yakin lelaki itu akan datang.
Menurut Zifana, Jason akan lebih mementingkan Rere daripada dirinya. Mengingat bagaimana hubungan mereka. Kedua orang itu lebih dekat dan Rere pun lebih dulu mengenal Jason daripada dirinya. Langkah Zifana menuju ke dekat jendela dan menatap ke luar sana.
"Aku yakin Rere lebih penting daripada aku bagi Jason. Jadi, sadar, Zi. Jangan pernah berharap lebih." Zifana bergumam lirih sambil mengusap kaca jendela. Terlihat seperti wanita malang yang mengenaskan. Namun, setelahnya ia pun menggeleng.
Ia tidak boleh lemah.
Tidak boleh galau. Usianya tidak pantas menyandang gelar sebagai gadis galau. Walaupun ia tahu itu adalah hal yang wajar.
Tidak mau makin larut pada pikirannya sendiri, Zifana memilih untuk kembali ke ranjang. Menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk miliknya. Ingin sekali keluar kamar, tetapi Zifana masih belum ingin bertemu sang kakak.
Ia takut akan mendapat ceramah panjang kali lebar dari lelaki itu.
"Zi, kau belum tidur?" Dyah masuk kamar tanpa mengetuk pintu. Membuat Zifana duduk dengan segera karena terkejut.
"Mama, bikin kaget aja. Aku tidak bisa tidur, Ma." Zifana menjawab manja.
"Kau ini. Pasti kepikiran besok mau jadi manten, ya. Mendingan sekarang banyak istirahat karena besok kau akan merasa lelah seharian. Nanti malam juga ada acara. Jadi, mama tidak mau kalau sampai kau kelelahan," nasehat Dyah. Mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Iya, Ma. Sepertinya aku butuh pelukan Mama supaya bisa tidur," rengek Zifana.
Hal itu sontak membuat Dyah tersenyum dan bergegas naik ke ranjang. Memeluk putrinya dengan erat. Zifana memejamkan mata. Pelukan seorang ibu memang selalu terasa paling nyaman di antara pelukan yang lain.
"Mama tidak menyangka kalau besok kau akan menikah. Anak gadis mama sudah dewasa sekarang," ujar Dyah. Mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut.
"Ma ...." Zifana diam karena merasa ragu ketika hendak meneruskan ucapannya.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Dyah curiga. Zifana pun menggeleng lemah.
"Tidak ada. Aku cuma kepikiran besok. Takut, Ma."
"Kenapa takut?" tanya Dyah menuntut jawaban.
Dyah tersenyum mendengar jawaban Zifana. "Kau tidak perlu takut. Semua sudah direncanakan dengan sangat baik. Tidak akan mungkin gagal."
"Iya, sih, Ma." Zifana mendengkus kasar.
"Sudahlah, sekarang kau tidur karena nanti malam akan ada banyak acara yang harus kau lewati."
***
__ADS_1
Waktu sudah hampir malam, tetapi Jason belum juga datang atau sekadar memberi kabar. Bukan hanya Zifana yang merasa gelisah, Joshua pun juga. Padahal ia hanya memberi peringatan kepada lelaki itu. Namun, jika sampai Jason tidak juga datang maka Joshua benar-benar akan merasa sangat kecewa kepada sahabatnya dan akan menggagalkan semua acara pernikahan itu meskipun ia akan mengalami kerugian yang tidak sedikit.
Walaupun merasa sangat penasaran, tetapi Joshua sengaja mematikan ponselnya juga milik Zifana. Ia ingin membuat Jason kalang kabut karena tidak bisa mengirim pesan apalagi menelepon.
Biar lelaki itu tahu rasa! Begitulah pikir Joshua.
"Bang, mana ponselku," pinta Zifana saat Joshua baru saja masuk ke kamarnya.
"Tidak ada! Ponselmu tidak akan Abang kembalikan sampai Jason datang," tolak Joshua tegas.
"Kalau Jason ternyata tidak datang?" tantang Zifana.
"Ya sudah. Pernikahan kalian batal!" sahut Joshua tegas.
"Ihh! Abang jahat!" cebik Zifana.
"Aku tuh cinta berat," sambung Joshua.
"Nyebelin!" Zifana merasa makin kesal.
Ketika sedang sibuk berdebat, terdengar suara pintu diketuk. Joshua pun segera membuka pintu itu dan ternyata salah seorang pelayan yang datang.
__ADS_1
"Tuan Joshua, saya disuruh Nyonya untuk memanggil Anda karena ada Tuan Jason di bawah."