ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-48


__ADS_3

Di sebuah pemakaman, seorang lelaki berjongkok di samping sebuah makam yang penuh taburan bunga. Lelaki itu menaruh satu bucket bunga anyelir warna putih tepat di samping nisan. Ia melepas kacamata hitam yang sejak tadi menggantung, lalu mendes*h kasar setelahnya.


Ia adalah Jason. Yang saat ini sedang datang berkunjung di makam Arini, persis seperti apa yang diperintah oleh Joshua.


Kedatangannya ke makam tersebut bukan tanpa alasan. Jason ingin meminta izin kepada Arini kalau dirinya akan menikah dengan Zifana. Meminta restu dan berharap semoga Arini tidak membayangi dirinya lagi.


Ia tidak ingin membuat Zifana cemburu dan membatalkan semuanya.


"Aku benar-benar minta izin padamu, Rin. Bukan karena aku tidak sayang lagi padamu, tapi aku sadar bahwa hidupku harus terus berjalan. Aku janji tidak akan putus mendoakanmu dan percayalah bahwa kau akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidupku."


Jason mengusap batu nisan bertuliskan nama Arini secara perlahan. Kedua mata lelaki itu terlihat berkaca-kaca saat segala kenangan bersama Arini kembali mengoyak batin. Membuka luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.


Namun, dengan gegas lelaki itu menepis semuanya. Percaya bahwa Arini sudah bahagia di surga dan ia pun harus tetap melanjutkan hidup.


Setelah merasa puas, Jason pun bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu. Menghapus segala kenangan perih yang masih terasa sampai sekarang. Ia sudah bertekad akan menghapus nama Arini. Menggantinya dengan Zifana, wanita yang akan menjadi hidupnya untuk saat ini dan selamanya.


Semoga saja.

__ADS_1


***


Segala persiapan sudah benar-benar matang. Zifana yang sebelumnya ingin membatalkan pun, tetap melanjutkan setelah ia mendapat banyak nasehat dari sang kakak.


Ia tidak mau egois dan terlalu memikirkan perasaannya sendiri. Begitu pun dengan Jason. Zifana berusaha menerima Jason yang sudah mulai melupakan masa lalunya. 


Satu hari menjelang ijab kabul, semua sudah dipersiapkan dengan baik. Ini akan menjadi acara paling meriah dari kedua pihak keluarga. Pesta yang sangat megah pun akan digelar setelah ijab-kabul terlaksana.


"Ciee, yang mau jadi manten," goda Joshua.


"Apaan, sih, Bang!" cebik Zifana.


"Calon Nyonya Jason." Joshua terus saja menggoda. Tidak peduli meskipun wajah sang adik sudah merah merona.


"Abang! Kalau tidak diem juga, aku laporin Papa!" ancam Zifana. Namun, Joshua justru tergelak keras membuat Zifana makin kesal rasanya.


Setelahnya, Joshua memeluk sang adik dengan sangat erat. "Abang setelah ini bakal kesepian. Biasanya ada adik Abang yang cantik ini yang bisa digoda, setelah ini kau harus ikut suami."

__ADS_1


"Ih, jangan bikin melow, sih, Bang. Lagian aku juga bakal masih sering ke sini nantinya. Abang juga nikah, dong. Biar ada temennya." Zifana membalas pelukan sang kakak tak kalah erat.


"Nanti lah, belum ada calonnya. Lagian, kau juga baru nikah. Kalau Abang nyusul cepet, nanti kasihan mama dan papa mikirin biayanya," celetuk Joshua.


Zifana pun memukul dada bidang sang kakak.


Ketika sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ada telepon masuk dari Jason. Dengan gegas Zifana pun segera menerima panggilan tersebut.


"Zi, kau sedang apa?" tanya Jason saat panggilan itu sudah terhubung.


"Lagi sama Bang Joshua. Kenapa?" tanya Zifana balik tanpa rasa curiga.


"Em, Zi ...." Jason terdiam beberapa saat. Suaranya terdengar penuh keraguan. "Maaf, kalau aku besok datang terlambat."


"Memangnya kenapa?" sela Zifana tidak sabar.


"Suami Rere kecelakaan dan koma. Sekarang ini aku sedang dalam perjalanan ke sana. Aku usahakan akan pulang sepagi mungkin."

__ADS_1


__ADS_2