
Kabar kehamilan Zifana pun menyebar ke seluruh anggota keluarga. Mereka mengucapkan banyak selamat kepada wanita tersebut dan mendoakan banyak hal semoga kandungan Zifana selalu sehat sampai proses melahirkan nanti.
Jason pun menjaga Zifana dengan sangat baik. Menuruti semua keinginan wanita hamil tersebut. Tidak lagi mengeluh seperti kemarin-kemarin. Mereka sungguh menikmati masa-masa ngidam yang dinanti sejak lama. Tidak mau melewatkan setiap momennya terutama saat Zifana ngidam hal yang aneh-aneh.
Kabar membahagiakan pun tidak hanya datang dari Zifana saja karena ternyata Rere juga sedang mengandung anak keduanya. Benih cinta dari Nicky. Bahkan, kandungan Rere hanya selisih dua Minggu dari usia kehamilan Zifana. Bisa saja mereka akan melahirkan bersama nanti.
Namun, sayangnya setelah pernikahan Joshua dan Ruby benar-benar selesai, Rere dan Nicky langsung kembali ke luar negeri membawa Clayton bersama mereka. Padahal Zifana sudah meminta untuk tinggal di Indonesia dan mereka bisa bermain ataupun bertukae cerita, tetapi Rere justru menolak.
Ia akan ikut ke mana pun Nicky pergi.
"Kau ingin apa?" tanya Jason.
Ia dan Zifana sudah bersiap untuk pulang kerja. Padahal Jason sudah menyuruh istrinya agar berhenti bekerja karena ia sudah memiliki sekretaris baru, tetapi Zifana menolak dan bersikukuh akan terus ikut ke kantor. Wanita itu beralasan bahwa ia pasti akan merasa bosan jika hanya di rumah saja tanpa melakukan apa pun.
Jason yang awalnya melarang pun pada akhirnya mengiyakan. Setidaknya jika berada di kantor, ia bisa memantau keadaan istrinya dengan baik dan tidak perlu bingung jika Zifana menginginkan sesuatu.
"Aku tidak mau apa-apa. Perutku sudah kenyang karena ngemil dari tadi," sahut Zifana.
"Kau yakin? Aku tidak mau jika sudah sampai di rumah, kau baru memintanya." Jason mewanti-wanti. Sudah menjadi kebiasaan bagi Zifana melakukan hal tersebut.
Wanita itu tidak akan meminta apa pun ketika sedang di luar, tetapi jika baru saja sampai di rumah maka ada saja hal yang diinginkan.
"Kalau kau tidak mau ya sudah. Aku bisa membeli sendiri apa pun yang kumau." Zifana justru menantang.
__ADS_1
Jason mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Mulai kumat lagi sikap keras kepala istrinya itu. Tidak mau berdebat untuk hal sepele, Jason pun segera mengajak wanita itu untuk pulang. Kalaupun nanti Zifana akan meminta sesuatu, maka ia akan menuruti begitu saja.
Bukankah ia sudah terbiasa dengan hal itu.
***
"Kak Zi dan Kak Rere sedang hamil. Mereka pasti sangat bahagia. Aku kapan bisa hamil," keluh Ruby.
Joshua menggeleng ketika melihat raut wajah istrinya yang begitu manja dan menggemaskan. Wanita itu terkadang terlihat sangat kekanak-kanakan dan anehnya Joshua menyukai itu. Semenjak mereka sah menjadi suami-istri, hubungan Joshua dan Ruby sangatlah baik. Mereka berdua terlihat sangat romantis.
"Kau ingin segera hamil?" tanya Joshua. Menarik tubuh istrinya hingga menempel rapat padanya. Ruby mengangguk cepat. "Kalau begitu, kita harus lembur setiap malam."
"Ish! Kau ini!" Ruby memukul dada bidang suaminya dengan perlahan. Bibir wanita itu tersenyum malu-malu seperti seekor kucing.
Pasangan pengantin yang masih terbilang baru itu, sungguh tidak merasa lelah karena terus saja bergulat di atas ranjang. Saling berlomba untuk mencapai puncak kenikmatan bersama. Setiap kali adik kecilnya muntah, maka Joshua akan membenamkan dengan sangat dalam. Berharap semoga ada satu benihnya yang tumbuh di rahim istrinya.
Keesokan paginya, Ruby merentangkan tangan karena tubuhnya serasa remuk redam. Tulangnya seperti patah karena digempur habis-habisan oleh Joshua. Ya, walaupun wanita itu merasa ketagihan setelahnya. Namun, tetap saja. Percintaan panas itu membuat Ruby merasa lelah setiap bangun tidur.
Joshua yang baru terbangun, langsung melingkarkan tangan di perut wanita itu. Seolah memintanya agar tetap berada di tempat tidur dan jangan beranjak sedikit pun. Bahkan, dengan jahilnya Joshua mencium tengkuk istrinya hingga membuat seluruh tubuh wanita itu meremang seketika.
"Mas ...." Ruby mendes*h. Ini sungguh tidak baik untuknya. Jika seperti ini, sudah bisa dipastikan kalau akan ada ronde kedua dan selanjutnya. Percintaan panas itu sudah bisa dipastikan akan terulang lagi.
"Aku masih ingin," rayu Joshua. Suaranya serak khas orang bangun tidur. Terdengar sangat sensasional dan menggoda iman. Jika boleh jujur, sebenarnya Ruby pun ingin jika mereka melakukannya lagi. Namun, ia gengsi. Tidak ingin dicap sebagai wanita murahan padahal itu wajar karena mereka adalah pasangan suami istri dan sah jika melakukan hal itu.
__ADS_1
"Mas, ini sudah siang dan aku harus bersiap untuk kerja. Bukankah kau juga akan berangkat ke kantor," ucap Ruby. Berusaha menahan diri dan merayu suaminya agar tidak 'anu' lagi.
"Ya. Aku akan ke kantor. Maukah kau berhenti bekerja di butik mulai hari ini," pinta Joshua yang membuat Ruby tersentak karenanya.
"Kenapa? Aku merasa nyaman di tempat kerjaku sekarang ini." Ruby masih belum merasa rela jika harus berhenti bekerja. Namun, ia juga harus mempertimbangkan hal tersebut jika Joshua yang memintanya.
Bukankah seorang istri harus menuruti perintah suaminya?
"Aku ingin kau di rumah. Menunggu aku pulang kerja. Jika kau bosan maka kau bisa menemaniku ke kantor. Ruby, aku sudah bertanggung jawab penuh atas dirimu baik lahir maupun batin. Jadi, kau cukup menurut pada perintahku dan katakan saja apa yang akan kau inginkan, aku pasti akan memberikannya," ucap Joshua. Membalik tubuh Ruby hingga kini mereka saling berhadapan.
"Kau yakin akan mengabulkan apa pun keinginanku?" Ruby tersenyum licik. Joshua mengangguk ragu. "Kalau begitu, kalau aku meminta untuk menikah lagi, apa kau akan mengabulkannya?"
Joshua mendelik tajam seolah akan menerkam Ruby secara habis-habisan. Namun, yang ditatap bukannya takut, justru tergelak sangat keras. Merasa terhibur melihat wajah suaminya yang memerah karena dipenuhi amarah.
"Kau ...." Joshua terdiam ketika Ruby sudah menciumnya sangat lembut dan dalam.
"Aku hanya bercanda. Aku tidak mungkin melakukan itu karena aku sudah menaruh hatiku padamu seutuhnya. Aku hanya tidak ingin kau menyanggupi hal yang kau sendiri belum tentu mampu dan mau melakukannya." Ruby kembali mencium bibir suaminya.
"Kau ini sangat licik." Joshua mencubit hidung Ruby untuk menyalurkan rasa gemas kepada wanita itu. Ruby terkekeh dan tersenyum seolah tidak berdosa setelahnya.
Teng teng teng ....
Ronde selanjutnya pun dimulai. Pengantin baru itu kembali memadu kasih tanpa peduli meski akan terlambat bekerja nantinya.
__ADS_1