
Raut wajah Ruby berubah seketika. Ada desiran di dalam hati yang menjalar ke seluruh tubuh. Rasanya panas dan nyeri hingga membuat mata wanita itu mendadak basah. Bahkan, tidak ada lagi senyuman yang biasanya menghiasi bibirnya.
Joshua menyadari perubahan Ruby, tetapi ia tetap saja bersikap tenang. Seolah tidak ada apa-apa dan tidak ada pembicaraan apa pun di antara mereka. Ia bersikap seolah mereka adalah dua orang asing seperti apa yang dikeluhkan oleh Ruby tadi. Walaupun dalam hati Joshua berontak akan hal itu.
"Kau tidak mau turun? Apa kau mau ikut aku ke kantor?" Pertanyaan Joshua menyadarkan Ruby dari lamunan.
Wanita itu langsung melepas sabuk pengaman dan turun begitu saja. Joshua hanya menggeleng. Ia yakin, pasti Ruby sedang marah ataupun cemburu pada ucapannya.
Biarlah! Ia sengaja melakukan itu.
"Wanita itu memang selalu ada-ada saja tingkahnya," ujarnya.
Joshua pun segera pergi dari sana karena ia harus kembali ke kantor sekaligus menyiapkan kejutan lamaran untuk seseorang.
Sementara Ruby berdiri di samping jendela dan menatap mobil Joshua yang perlahan menjauh dari tempat itu. Wanita tersebut menghela napas panjang beberapa kali.
"Pantas saja sikapnya berubah. Ternyata dia akan melamar wanita lain. Kau sungguh terlalu percaya diri selama ini, Ruby."
Wanita itu bergumam sendiri. Lalu bergegas masuk ke ruangan khusus karyawan karena tidak ingin mendapat omelan dari sang bos.
***
"Nanti malam Bang Joshua mau lamaran," kata Zifana saat mereka sedang bekerja. Zifana sudah tahu sejak tadi, tetapi ia lupa mengatakan pada sang suami.
"Ya aku sudah tahu itu." Jason menimpali dengan cepat. Kening Zifana mengerut dalam karena ia merasa belum pernah memberi tahu hal ini sebelumnya. Zifana lupa kalau Joshua dan Jason adalah sahabat baik.
__ADS_1
"Ah, iya. Aku lupa kalian sahabat baik. Aku berharap semoga semua berjalan dengan lancar dan ya. Lamaran itu diterima." Zifana berdoa. Ia selalu mendoakan kebahagiaan sang kakak dan lekas bertemu dengan jodohnya.
Zifana berharap semoga sang kakak tidak pernah salah menambatkan hati. Jatuh cinta pada wanita yang tepat dan bisa membangun rumah tangga yang bahagia selamanya.
"Apa kau akan membeli baju baru untuk acara nanti malam?" tanya Jason menawari.
Zifana menggeleng cepat. "Aku tidak mau. Kata mama gaunku sudah disiapkan. Kita beli baju saja untuk Clay," ajak Zifana antusias.
"Baju Clay sudah sangat banyak bahkan lemarinya hampir penuh." Jason mengeleng. Semenjak ada Clay, Zifana terus saja memikirkan kebutuhan bayi itu bahkan sampai abai pada kebutuhannya sendiri.
Sebegitu sayangnya Zifana kepada Clay.
Sepulang dari kantor, Jason mengantar Zifana menuju ke sebuah butik untuk membeli baju Clay. Ternyata butik itu adalah tempat Ruby bekerja.
"Kau belum pulang ternyata, Ruby," ujar Zifana sambil memilih-milih baju untuk Clay.
"Belum, Kak. Sebentar lagi. Apa Kak Zi akan menghadiri lamaran Tuan Joshua?" tanya Ruby hati-hati.
"Ya, memangnya kau tidak datang?" tanya Zifana balik. Ruby menggeleng cepat. "Kenapa?"
"Aku tidak diundang, Kak. Tuan Joshua bahkan tidak meminta aku untuk datang. Jadi, setelah pulang kerja, mungkin aku akan tiduran saja di apartemen. Tapi, percayalah kalau aku selalu mendoakan kebahagiaan Tuan Joshua." Dari nada bicara Ruby, terdengar kesedihan.
"Apa kau belum tahu siapa wanita yang akan dilamar Bang Joshua?" Zifana penasaran. Ruby menggeleng lemah.
"Tidak, Kak."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kau pulang denganku saja. Aku akan mengajakmu datang ke acara Bang Joshua," cetus Zifana tidak peduli meskipun Jason sudah menajamkan tatapannya.
"Tapi, Kak ...."
"Kau tenang saja. Bang Joshua tidak akan berani marah padamu. Aku akan mengajakmu datang ke acara itu, tapi kita harus berdandan dulu. Aku tidak mau terlihat jelek saat sesi foto nanti," celetuk Zifana.
Ruby awalnya ragu, tetapi Zifana terus saja memaksa hingga akhirnya wanita itu pun mengiyakan dan bergegas ke belakang untuk berpamitan.
"Zi, jangan sampai kau mengacaukan acara kakakmu sendiri," ujar Jason memperingatkan.
"Kau tenang saja. Aku tidak mungkin mengacaukan acara kakakku sendiri." Zifana berbicara tegas dan Jason pun hanya mengiyakan. Ia tidak mau mendebat sang istri karena itu akan bahaya nantinya. Bisa-bisa Zifana akan menyuruhnya tidur di luar.
Mana bisa tahan jika harus memeluk guling sementara biasa yang dipeluk guling hidup. Ia pasti akan kedinginan karenanya.
***
"Kau yang benar saja!" Suara Joshua menggelegar saat anak buah yang ia tugasi untuk menjemput Ruby, mengatakan bahwa Ruby sudah tidak ada di butik. Wanita itu dijemput oleh seseorang dan pemilik butik tersebut tidak tahu siapa yang menjemput Ruby.
Joshua mengacak rambutnya secara kasar. Ia cemas dan khawatir. Waktu tinggal beberapa jam lagi dan Joshua sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Namun, kini semua itu berantakan dan gagal total saat ada orang yang berusaha mengacaukannya.
Joshua berusaha menghubungi Zifana maupun Jason, tetapi tidak ada satu pun panggilannya yang diterima. Dengan gegas, Joshua menuju ke butik tempat Ruby bekerja. Ia meminta rekaman CCTV di butik tersebut karena khawatir yang membawa Ruby adalah orang jahat. Mungkin saja, suruhan Bibi dari wanita itu yang katanya serakah.
Sungguh, Joshua tidak sabar sendiri. Menunggu rekaman detik-detik waktu Ruby pulang dan ketika rekaman sampai pada waktu yang ditunggu-tunggu. Joshua terpaku sesaat sebelum akhirnya menggeram kesal.
"Sialan! Dasar adik laknat!" umpatnya penuh emosi.
__ADS_1