ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-41


__ADS_3

..."Setiap masalah pasti ada jalan keluar dan setiap kesulitan pasti ada kemudahan setelahnya. Nikmati semua prosesnya dan jalani sesuai dengan alur yang sudah Tuhan gariskan untuk kita." ...


...****************...


Joshua menyerahkan semuanya kepada kepolisian sampai para manusia brengsek itu mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka. Kini, saatnya mereka fokus pada Zifana yang baru tersadar setelah seharian terus memejamkan mata. 


"Perutku sakit sekali," rintih Zifana saat ia ingin duduk. 


"Sayang, kau jangan terlalu banyak bergerak." Dyah, sang mama, menahan putrinya agar tidak bangun karena luka jahitnya belum kering. 


"Aku lupa, Ma. Apa Leli memang menusukku? Kupikir semua hanyalah mimpi buruk saja," tanya Zifana pelan. 


"Ya, tapi mereka semua sudah berada di penjara sekarang. Biarlah mereka semua mempertanggungjawabkan perbuatan mereka," balas Dyah. Ia mengusap puncak kepala Zifana dengan lembut. Wajahnya yang tadi dipenuhi kekhawatiran kini terlihat lebih tenang. 


Begitu pun dengan yang lain. Mereka semua bernapas lega karena Zifana yang telah sadar. 


Merasa belum bisa berbicara berdua dengan Zifana, Jason pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Ia berjanji akan kembali datang esok hari. Keluarga Zifana pun mengiyakan dan mengucapkan terima kasih karena Jason telah banyak membantu. 

__ADS_1


Namun, Jason tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia terlebih dahulu pergi ke apartemen Rere untuk menemui sahabatnya. Sekadar mengucap kata terima kasih karena Rere juga sudah banyak membantunya. 


"Jason, kau sudah datang? Bagaimana keadaan Zifana? Apa dia sudah sadar? Apa lukanya sangat parah?" Rere memberondong dengan banyak pertanyaan. 


Jason pun menghela napas panjangnya. "Ya, dia sudah sadar dan lukanya juga tidak terlalu parah karena beruntung pisau itu tidak mengenai organ dalamnya." 


Mendengar jawaban Jason, seketika Rere mengembuskan napas lega. "Syukurlah. Aku sangat khawatir padanya." 


"Kalau kau khawatir, kenapa kau tidak di rumah sakit untuk menunggunya?" Jason menghempaskan tubuhnya lalu berdecak kesal. 


"Maksudnya? Kau akan pergi ke mana? Apa kau akan kembali ke luar negeri?" tanya Jason tidak sabar. 


Rere menggeleng lemah. "Tidak, aku akan pergi ke tempat yang jauh. Aku tidak mau bilang ke siapa pun, termasuk kau. Aku hanya ingin hidup tenang bersama dengan orang yang mencintaiku." 


"Maksudnya?" Jason kembali bertanya. Masih belum bisa mencerna ucapan Rere dengan baik. 


"Son, sekarang aku baru sadar bahwa lebih baik dicintai daripada mencintai. Karena mencintai apalagi bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan. Aku ingin jujur padamu." Rere bangkit dan berjalan mendekati jendela. Menatap pemandangan dari sana untuk sekadar menghilangkan kegugupannya. 

__ADS_1


"Re ...." Jason bangkit dan berdiri di belakang Rere. "Terima kasih karena kau selalu membantuku selama ini. Katakan semua dengan jujur agar aku bisa membalas semua kebaikanmu." 


"Kau tidak perlu berterima kasih. Aku melakukannya dengan ikhlas. Sekarang, aku yakin kau pasti akan bahagia hidup bersama dengan Nona Zifana. Jadi, aku memilih untuk mundur," ucap Rere lirih. 


"Aku tidak mau kau pergi, Re! Kita ini sudah bersahabat baik dan aku tidak mau jika harus jauh darimu. Kau harus tahu, Re, sampai kapan pun kau akan selalu menjadi sahabat baikku," ucap Jason tegas. 


Rere memejamkan mata. Membiarkan bulir bening mengalir dari kedua sudut matanya. Tidak ada alasan untuk tetap bertahan karena Jason sudah memberi penegasan bahkan mereka hanya akan menjadi sahabat. Tidak pernah lebih dari itu. 


Mungkin, ini saatnya Rere harus menyerah pada perasaannya sendiri. 


"Son, aku mencintai seseorang. Bahkan, sangat mencintainya. Apa pun aku lakukan dan kukorbankan demi melihat dia bahagia. Apa pun itu meskipun hatiku sendiri harus terluka. Namun, sekarang saatnya aku harus menyerah karena aku sadar diri bukan diriku yang diharapkan. Hubungan kita selamanya hanya akan menjadi sahabat saja." Rere mengusap bulir-bulir bening itu. 


Ia tidak ingin menangis, tetapi tidak bisa. Air mata itu seolah menjadi tanda bahwa hatinya sangat sakit sekarang. 


"Re, apa itu artinya kau ...." 


"Ya. Aku mencintaimu, Son." Rere menyela ucapan Jason dengan cepat. 

__ADS_1


__ADS_2