
Beberapa bulan kemudian.
Hubungan Zifana dan Rere justru semakin membaik. Mereka sekarang sangatlah dekat. Mengalahkan kedekatan Rere dengan Jason. Hampir setiap hari Rere menghubungi Zifana untuk bertukar cerita. Apalagi sekarang ini, Rere sudah hamil besar dan tinggal menghitung hari sampai bayinya lahir.
Zifana sangat senang mendengarkan cerita wanita hamil itu. Ia ingin sekali bisa merasakannya walaupun dari cerita yang didengar kalau hamil muda itu, terkadang sampai membuat lemas tak berdaya. Namun, Zifana tetap ingin merasakannya. Hanya saja, sudah tiga bulan lebih usia pernikahannya, Zifana belum juga mendapatkan amanah untuk memiliki bayi.
"Rere bilang, kita bisa merawat anaknya sebagai pancingan," kata Zifana saat sedang berdua bersama Jason di ruang keluarga.
Saat ini, Jason sudah tinggal berdua bersama Zifana di sebuah rumah pribadi yang sangat megah. Hampir setara dengan milik keluarga mereka.
"Sayangnya jauh. Bagaimana kita bisa merawatnya? Lagi pula, mana mungkin Rere mau meninggalkan anaknya," ujar Jason. Merangkul istrinya lalu menyandarkan kepala wanita itu di bahunya. Zifana pun hanya menurut saja.
"Iya juga, sih." Zifana menyetujui ucapan Jason.
"Ya sudah, kita berdoa saja semoga lekas mendapat momongan. Kalau semisal sampai lama aku tidak memiliki anak, apa kau akan meninggalkanku?" tanya Zifana khawatir.
Jason mencubit pipi istrinya dengan gemas. "Mana mungkin aku meninggalkanmu. Bukankah kita sudah berjanji akan menua bersama. Ada atau tidak ada anak di antara kita." Jason beralih mencium pipi istrinya dengan lembut.
"Ya kali aja." Zifana kembali sibuk memainkan ponsel dan kembali bertukar cerita. Saking asyiknya, Zifana sampai melupakan Jason di sampingnya. Wanita itu cekikikan sendiri hingga membuat Jason merasa penasaran.
"Kau kenapa? Apa ada hal yang lucu?" Jason berusaha mengintip isi ponsel Zifana, tetapi wanita itu langsung menjauhkannya.
"Jangan ngintip, nanti bintitan." Telunjuk Zifana berada tepat di depan wajah Jason hingga membuat lelaki itu langsung menggigitnya dengan gemas. "Jason, sakit."
"Padahal aku gigit pakai perasaan dan sepertinya lebih sakit saat malam pertama daripada ini," celetuk Jason.
__ADS_1
Zifana mendelik tajam. Ia sungguh heran dengan suaminya yang sekarang suka sekali berbicara mesum. Apakah seseorang ketika sudah merasakan surga dunia maka ucapannya akan menjadi dewasa.
Zifana menggeleng cepat. Untuk apa ia memikirkan hal tersebut. Di saat hendak memainkan ponselnya lagi, Zifana tersentak ketika Jason tiba-tiba membopongnya ke kamar dan melakukan hal yang sudah menjadi rutinitas untuk pasangan tersebut.
***
Joshua merasa kesepian semenjak Zifana menikah. Biasanya ada adiknya yang bisa digoda dan diajak mengobrol, tetapi sekarang lelaki itu hanya sibuk bekerja. Kalaupun bersama Zifana, mungkin bisa satu minggu sekali bahkan terkadang sampai dua minggu.
Seperti sekarang ini, sudah sepuluh hari Zifana tidak berkunjung ke rumah, sedangkan ia juga tidak bisa datang ke sana karena jadwal pekerjaaan yang sangat padat. Mereka hanya bertukar kabar lewat pesan atau panggilan video.
Saking kangennya, Joshua pun langsung ke rumah Zifana setelah pulang kantor. Tanpa mengatakan kepada Zifana. Entah, adiknya ada di rumah atau tidak, yang terpenting Joshua sudah sampai di sana.
Namun, belum juga sampai di rumah Zifana, mobil Joshua terpaksa berhenti ketika ada seorang gadis menyeberang tanpa menoleh. Joshua menggeram kesal bahkan sampai merem*s setir kemudi dengan kuat.
Ia pun bergegas turun dari mobil dan hendak memarahi wanita tersebut. Namun, ia justru terpaku ketika bertatapan dengannya. Seperti terpesona pada kecantikannya. Wanita itu membungkuk hormat sambil menangkup kedua tangan di depan dada.
"Maafkan saya, Tuan. Saya sangat ceroboh."
Kening Joshua mengerut dalam ketika mendengar wanita itu berbicara. Logatnya bukan seperti orang Indonesia meski wajahnya tidak terlalu bule juga.
"Oh, tidak apa. Untung kau tidak apa-apa," balas Joshua. Kemarahannya tiba-tiba menghilang. Ia mendadak lembut. "Em, kalau boleh tahu, kau berasal dari mana? Apa kau bukan orang Indonesia?"
"Saya orang Indonesia, Tuan. Hanya saja, saya lama tinggal di luar negeri dan sekarang sayang sedang mencari keberadaan kakak saya yang kabur dari rumah."
Joshua menggeleng. Tidak percaya bahwa wanita itu akan berbicara jujur padahal ini adalah pertemuan pertama mereka. Bicaranya sangat santai seolah mereka pernah mengenal sebelumya.
__ADS_1
"Apa Anda pernah melihat lelaki ini?" tanyanya sambil menunjukkan sebuah foto.
Joshua mengambil foto tersebut lalu tersentak setelahnya. "Bukankah ini Nicky?"
"Anda tahu kakak saya?" Wajah wanita itu terlihat semringah. Tatapannya pun penuh harap. Joshua mengangguk cepat.
"Ya, tapi sekarang dia sudah tidak berada di sini. Setahuku dia tinggal di luar kota sejak beberapa bulan yang lalu," ucap Joshua.
"Apa Anda tahu alamatnya? Kalau tahu, bolehkah saya meminta? Saya sudah lama mencarinya. Saya akan membayar berapa pun yang Anda minta," ujarnya penuh harap.
Joshua pun langsung mengajak wanita itu agar bertemu dengan Zifana dan Jason karena mereka yang lebih tahu pasti alamat Nicky sekarang.
Selama dalam perjalanan, Joshua beberapa kali melirik wanita di sebelahnya. Dalam hati mengagumi kecantikan wanita itu. Wajahnya masih terlihat sangat imut seperti anak SMP. Dengan cepat, Joshua mengusir pikirannya yang terus mengagumi wanita itu.
Jangan sampai aku jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap orang yang salah. Apalagi wanita yang baru pertama kukenal.
Joshua mendes*hkan napas secara kasar ke udara hingga mengalihkan perhatian wanita di sebelahnya.
"Kenapa? Apa kau tidak ikhlas menolongku?"
"Em, tentu saja aku ikhlas. Aku hanya heran saja. Aku mau menolongmu, padahal aku belum mengenal siapa namamu." Joshua mencari alasan.
Wanita itu pun menepuk kening cukup keras. "Ah iya, aku lupa. Kenalkan, namaku Ruby." Wanita itu mengulurkan tangan di depan Joshua.
Awalnya Joshua merasa ragu, tetapi ia membalas uluran tangan tersebut karena tidak ingin menyinggung perasaan Ruby. "Joshua."
__ADS_1