ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-73


__ADS_3

Rumah Zifana yang biasanya sepi, kini terasa ramai saat para anggota bergantian datang berkunjung untuk melihat Nana. Clay yang melihat bayi mungil itu, merasa gemas dan beberapa kali hampir saja merem*s wajah Nana. Mungkin, Clay pikir Nana adalah sebuah boneka untuk mainan yang bisa ia cubit atau gigit sesuka hati. 


Suara tawa bahagia selalu terdengar di rumah itu. Zifana sungguh merasa senang karena ia tidak lagi kesepian. Binae kebahagiaan pun selalu terlihat menghiasi wajahnya semenjak kelahiran Nana. 


"Re, kau belum juga merasakan kontraksi?" tanya Zifana. 


Rere menggeleng lemah. Raut wajahnya pun mendadak sendu.


"Belum. Semoga saja dia sehat dan mau lahir tepat waktu." Rere mengusap perutnya yang sudah membuncit. Bahkan, jika dalam posisi berdiri, perut Rere seperti akan terjatuh dari tempatnya. 


Melihat Zifana yang sudah melahirkan terlebih dahulu membuat Rere merasa sedikit cemas di lubuk hatinya. Ia khawatir karena sampai saat ini belum juga merasakan kontraksi. Namun, di relung hatinya yang lain, Rere berusaha menguatkan hatinya kalau semua pasti baik-baik saja. Bayinya pasti akan lahir dengan selamat.


Ketika jam sudah menunjuk angka sepuluh malam, Nicky mengajak anak dan istrinya untuk pulang karena sudah waktunya untuk beristirahat. Nicky beberapa kali melihat Rere yang terlihat sedih meskipun beberapa kali Rere berusaha untuk menutupi kesedihannya dengan memaksakan senyumnya. 


"Kau kenapa? Apa kau sudah merasakan sakit?" tanya Nicky cemas. Hari perkiraan lahir yang makin dekat membuat Nicky selalu saja merasa tidak tenang. Takut jika tiba-tiba Rere merasakan kontraksi. Hal itulah yang membuat Nicky mengambil cuti untuk menemani istrinya karena hanya dirinya yang bersama wanita itu. Orang tua Rere masih berada di luar negeri dan baru akan datang jika Rere sudah melahirkan nanti. 


"Belum. Aku bahkan belum merasakan sama sekali. Aku cemas, Nick. Takut bayi kita tidak lahir sesuai perkiraan." Rere menjawab lesu. Mengungkapkan kegelisahan hatinya. 


"Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin kalau bayi kita akan lahir dalam waktu yang tepat. Kita tunggu saja." Nicky menasehati. Rere pun mengangguk mengiyakan. 

__ADS_1


Setibanya di rumah, mereka pun langsung tidur. Rere yang merasa mengantuk pun langsung tertidur lelap. 


Akan tetapi, baru satu jam terlelap, Rere merasakan perutnya begitu mulas. Ia pun langsung ke kamar mandi. Ia sengaja tidak membangunkan Nicky karena tidak mau menganggu suaminya yang baru saja tidur. 


Rere merasa heran karena tidak biasanya ia merasakan mulas. Mungkin karena efek hamil tua. Bahkan, dalam waktu semalam Rere bukan hanya sekali dua kali ke kamar mandi, tetapi berkali-kali. 


"Kau mau ke mana?" Nicky yang melihat Rere hendak turun dari kasur pun, ikut bangkit duduk tegak dan mendekati istrinya. 


"Aku mau kencing. Sudah beberapa kali kencing terus. Entah apa yang salah dari tubuhku," sahut Rere. 


"Kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Nicky kesal. Ia justru merasa tidak dianggap jika keadaan seperti ini. Namun, Nicky tidak mau mendebatkan hal itu. Ia tidak mau bertengkar dengan istrinya di saat keadaan sedang seperti ini. 


"Aku akan mengantarmu." Nicky hendak turun dari ranjang, tetapi Zifana langsung menahan. Meminta lelaki itu agar tetap berada di ranjang. 


Ketika baru dua langkah berjalan, Rere berhenti saat merasakan nyeri yang hebat di bagian pinggang belakang. Rasanya seperti tertusuk ribuan jarum. Nicky yang merasa cemas pun langsung turun dari kasur dan mendekati istrinya. 


"Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" Nicky mulai tidak sabaran.


"Sepertinya aku akan melahirkan, Nick."  Rere memberi kode kepada Nicky agar melihat ke arah bawah di mana air ketuban sudah mengalir dari pangkal paha wanita itu.  

__ADS_1


Dengan gegas, Nicky membopong Rere menuju ke mobil. Tak lupa ia meminta pelayan untuk menemani Clay yang masih tertidur lelap. 


Nicky sengaja tidak menghubungi siapa pun karena ia tidak ingin semua orang panik. Ia baru akan mengabari mereka jika bayinya sudah lahir. 


Sesampainya di rumah sakit, Rere langsung masuk ke ruang bersalin. Nicky pun menemani istrinya berjuang di dalam sana. suasana di ruangan tersebut pun menegang saat rintihan Rere makin terdengar keras karena rasa sakit itu semakin sering terasa dan semakin sakit juga. 


Selang beberapa saat, suasana di ruangan mendadak penuh haru saat terdengar tangisan bayi yang menggema di sana. Sama seperti Zifana, Rere berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. 


"Terima kasih, Tuhan." Nicky merasa sangat bahagia. 


Setelahnya, Nicky menghubungi Joshua dan orang tua Rere bahwa ia sudah memilik putri yang cantik. Mendengar kabar membahagiakan itu, mereka pun mengatakan bahwa akan datang ke rumah sakit setelah ini. 


***


Sekar Dewi Ayunda. 


Nama itu tidak kalah cantiknya dari Nana. Nama putri pertama Nicky. Yang lahir hanya selang beberapa hari saja dari Nana. 


Kelahiran Sekar pun menjadi warna tersendiri dalam keluarga mereka. Menjadi pelengkap kebahagiaan mereka. Sama seperti apa yang dirasakan oleh Zifana.

__ADS_1


Tiada harapan yang lebih indah selain doa semoga putri mereka menjadi anak yang berguna. 


__ADS_2