
..."Cinta tidak menciptakan pernikahan. Pernikahan yang sadar, terencana, menciptakan cinta. Hal yang sama terjadi dalam semua hubungan."...
... ~Harville Hendrix~...
...****************...
Hari yang dinanti-nanti pun tiba. Di mana Joshua akan mengucap ijab kabul atas diri Ruby. Hal yang paling membahagiakan bagi semuanya terutama Zifana. Wanita itu menjadi adik paling bahagia ketika mengantar Joshua menuju ke tempat di mana ijab kabul akan dilangsungkan. Setelah melewati perjalanan yang tidak mudah, Joshua akhirnya resmi menyandang gelar sebagai suami sah Ruby.
Tentu saja acara itu sangat meriah. Orang tua Joshua bahkan menyiapkan pesta yang mewah untuk merayakannya.
Hal yang membuat Zifana makin merasa bahagia adalah kabar bahwa Rere juga sudah menikah secara resmi dengan Nicky. Sudah tercatat dalam buku nikah. Jason yang melihat istrinya sebahagia itu pun merasa sangat senang. Setidaknya Zifana sudah tidak sesedih saat berpisah dari Clay.
"Jason, aku mau makan mie ayam di tempat langganan itu." Zifana merengek.
"Zi, kau jangan bercanda. Di sini banyak sekali makanan enak dan kau justru memilih untuk makan mie ayam?" Jason mengeleng. Tidak habis pikir dengan keinginan Zifana.
"Ya, aku tidak mau makanan ini. Semua tidak enak. Aku hanya mau makan mie ayam di warung biasanya. Ayolah," rengeknya. Menarik lengan jas Jason sambil terus merayu.
"Tapi, Zi ...."
"Kalau kau tidak mau ya sudah. Aku bisa pergi sendiri." Zifana bangkit dan berjalan keluar dari tempat acara. Jason pun kalang kabut mengejar wanita itu. Beberapa kali Jason mencoba memanggil Zifana, tetapi wanita itu terus saja berjalan. Berpura-pura tuli dan tidak peduli pada suaminya.
"Zi, tunggu!" Jason menahan lengan Zifana. Membuat langkah wanita itu terhenti saat itu juga. "Kau mau ke mana?"
__ADS_1
"Beli mie ayam." Zifana menjawab ketus.
"Kau jangan bercanda!"
"Tentu saja tidak. Kalau kau tidak mau ikut ya sudah. Aku bisa pergi sendiri." Zifana menghempaskan tangannya hingga cekalan tangan Jason pun terlepas. Lalu wanita itu berjalan pergi lagi.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke warung itu." Jason memilih untuk menuruti karena tidak ingin ada perang dunia di antara mereka. Mendengar Jason yang sanggup, Zifana pun berbalik dan langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Terima kasih. Aku akan meminjam motor dulu." Zifana lagi-lagi membuat Jason melongo.
"Untuk apa kau meminjam motor?" tanya Jason heran.
"Untuk pergi ke warung itulah. Aku ingin kita naik motor agar lebih romantis. Selama dalam perjalanan nanti aku bisa memelukmu dan ya begitulah. Lebih romantis daripada naik mobil." Zifana mendecakkan lidah.
Sungguh, Jason masih belum rela jika harus menuruti keinginan Zifana yang tidak biasa itu.
"Kita bisa pakai jaket. Jangan banyak alasan!" cebiknya. Jason pun menyerah dan mengikuti keinginan istri tercintanya.
Pasal satu, wanita itu selalu benar.
Pasal dua, jika wanita salah maka kembali ke pasal satu.
Benar juga ucapan itu dan Jason merasakan itu bahwa wanita itu selalu benar. Ia tidak bisa melawan istrinya karena wanita itu memiliki ribuan cara yang membuat Jason selalu akhirnya terpaksa menuruti keinginan Zifana.
__ADS_1
***
Hueeek huueekkss
Jason terkejut saat mendengar suara orang muntah. Ia pun bergegas turun dan melihat Zifana yang sedang berada di wastafel. Wajah wanita itu terlihat begitu pucat dan lemas.
"Kau kenapa bisa muntah seperti ini?" tanya Jason cemas.
"Entahlah. Saat bangun tadi, aku merasakan semua berputar hingga membuatku mual," sahut Zifana lirih.
"Ini pasti karena semalam kita naik motor. Kau jadi masuk angin seperti ini, kan. Dasar tukang ngeyel," omel Jason. Zifana hanya diam saja. "Ayo, aku gendong ke ranjang dan akan kupijat supaya masuk angin ini tidak lama." Jason memasang kuda-kuda. Zifana pun naik ke punggung suaminya dan hanya menurut karena ia merasa sudah tidak berdaya lagi.
Dengan telaten Jason membalur tubuh Zifana dengan minyak kayu putih lalu membuatkan jahe hangat agar mual itu mereda. Jason pun tidak akan berangkat bekerja, tetapi Zifana justru mengomel. Meminta lelaki itu agar tetap bekerja dan bertanggung jawab pada pekerjaannya.
Walaupun merasa cemas, Jason pun menuruti perintah istri tercinta.
Selepas kepergian Jason, Zifana langsung mengambil ponsel dan menggulir layar untuk melihat-lihat perkembangan Clay dari bayi yang selalu ia abadikan. Tanpa sadar air mata Zifana mengalir karena sangat merindukan bocah itu. Walaupun ia selalu melakukan panggilan video, tetapi rasanya tidak sama jika bertemu langsung.
Mungkin ini yang dirasakan oleh Rere dulu. Batin Zifana.
Ia menghirup napas dalam lalu mengembuskan dengan cepat. "Semoga Tuhan lekas menitipkan amanahnya padaku."
Zifana mengusap perutnya yang masih datar. Ia sungguh sedih karena sudah satu lebih menikah, belum ada tanda-tanda ia akan mengandung. Padahal ia tidak kenal lelah untuk terus berdoa dan berusaha.
__ADS_1
Rencana kita memang indah, tetapi rencana Tuhan lebih indah meskipun jalan yang harus kita lalui tidaklah mudah. Ada sakit dan kecewa yang harus kita rasakan untuk bisa meraih hal indah itu. Percayalah bahwa Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita. Apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita mau, dan hal itu akan datang di waktu yang tepat.