
Tangis Clay pecah saat ia terbangun dari tidur lelapnya karena Cakra terus saja menciuminya. Lelaki paruh baya itu berusaha menenangkan cucunya yang menangis, tetapi Clay tidak mau diam. Justru semakin menangis kencang hingga Zifana pun terpaksa mengambil alih bocah itu.
Dengan sabarnya Zifana menggendong Clay lalu mengusap punggungnya dengan perlahan sambil membisikkan ucapan yang membuat bocah itu tenang, sedangkan Jason dengan telaten membuatkan susu. Terbiasa membantu Zifana membuatkan susu untuk Clay membuat Jason sampai takarannya di luar kepala.
"Ini." Jason menyerahkan botol susu tersebut dan langsung diraih oleh Zifana. Tangisan bocah itu pun perlahan terhenti saat sudah mendapatkan apa yang ia mau.
Mereka yang berada di ruang tersebut hanya melihat betapa kompaknya Jason dan Zifana ketika mengasuh bocah itu. Mereka benar-benar salut dengan ketelatenan pasangan suami istri tersebut. Setelah tenang, Clay terus saja menempel pada Zifana. Sama sekali tidak mau dengan siapa pun termasuk Jason.
"Dia tidak mau denganku," kata Cakra kecewa. Dari tatapannya terlihat jelas betapa Cakra ingin menggendong cucunya yang tampan.
"Pa, jangan langsung seperti itu. Sudah pasti dia akan menangis karena menganggap kita adalah orang asing. Kita harus bisa merayunya." Belinda terus menatap lekat wajah Clay. Bocah itu sangat menggemaskan. Ingin sekali Belinda memeluknya, tetapi untuk saat ini ia belum berani. Khawatir bocah itu akan menangis lagi.
"Kalau begitu, tunggu sebentar." Cakra mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Pokoknya sekarang harus dikirim. Mobil remot model terbaru dan mainan untuk anak satu tahun. Yang pastinya harus aman."
Zifana dan Jason saling pandang. Tidak menyangka kalau Cakra justru akan seantusias itu menerima kehadiran Clay. Padahal sebelumnya mereka sudah berpikir buruk. Cakra kembali mendekat untuk menggendong Clay, tetapi bocah itu justru bersembunyi di tubuh Zifana. Membuat Cakra merasa sedih. Namun, lelaki itu tak kenal lelah. Terus merayu Clay agar mau bermain bersama. Begitu pun dengan Belinda yang membantu suaminya mendekati sang cucu.
Merasa suasana sudah aman terkendali, Jason pun segera menghubungi Rere dan mengatakan kalau sekarang ini dirinya sedang di rumah orang tua wanita tersebut. Ia sudah tidak akan menutupinya lagi.
Jason bahkan sampai terkejut ketika mendengar teriakan Rere yang begitu memekakkan telinga bahkan membuat kepalanya serasa pusing. Banyak umpatan yang keluar dari mulut Rere, tetapi Jason tidak mengambil hati karena memang sudah terbiasa dengan sikap Rere tersebut.
Tanpa berpikir apa pun, Rere mengatakan akan menyusul ke sana sekarang juga.
***
__ADS_1
"Nick! Bisakah kau menyetir lebih cepat! Aku tidak mau Clay kenapa-napa. Aku takut papa akan menyakiti Clay." Rere tidak sabar. Sejak tadi terus saja gelisah dan menyuruh Nicky pergi dengan buru-buru. Namun, Nicky tetap saja menyetir dengan tenang.
"Re, lebih baik sekarang kau tenang. Aku tidak mungkin mengebut karena aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kita. Soal Clay, aku yakin kalau dia akan baik-baik saja. Jason pasti bisa menjaganya dengan baik. Kalau memang Clay dalam bahaya, sudah pasti Jason akan bertindak." Nicky berusaha menenangkan Rere.
Wanita itu pun langsung diam dan terus berdoa sampai akhirnya mobil Nicky berhenti di depan rumah orang tuanya. Tidak menunggu lama, Rere langsung berlari masuk rumah mewah tersebut dengan perasaan cemas.
Akan tetapi, ketika sampai di ambang pintu, langkah Rere terhenti. Wanita itu menatap haru ke arah Cakra yang sedang mencoba bermain dengan Clay. Sebuah pemandangan yang membuat hatinya merasa bahagia. Jauh dari pikirannya yang membuat ia merasa sangat cemas tadi.
"Kau sudah datang, Re." Jason yang melihat keberadaan Rere pun membuat perhatian mereka semua teralihkan.
"Clay." Rere berjalan cepat dan langsung memeluk Clay dengan sangat erat. Namun, yang terjadi justru bocah itu menangis sangat keras. Sama seperti saat digendong oleh Cakra tadi. "Ini Mama, Sayang."
Rere menimang bocah itu dan berusaha membuatnya diam, tetapi tidak bisa. Tangisan Clay tetap keras bahkan sampai sesenggukan.
"Maaa ...." Clay mengamuk. Zifana pun mengambil alih bocah itu lagi.
***
"Kak Nicky, aku sangat merindukanmu." Ruby memeluk Nicky dengan erat. Di saat semua sedang sibuk dengan Clay, Nicky mengambil kesempatan itu untuk berbicara dengan Ruby.
Membicarakan hal yang sejak kemarin membuatnya penasaran saat Ruby mengatakan bahwa ia sudah menerima pinangan Joshua. Tatapan Nicky begitu menyelidik hingga membuat Ruby menunduk dalam seolah dirinya sudah melakukan kesalahan.
"Ruby, apa kau yakin menerima pinangan Joshua. Bukankah kau mengenalnya belum lama?" tanya Nicky.
__ADS_1
Ruby mengangguk cepat. "Iya, Kak. Aku merasa Joshua itu orang yang baik dan selalu menolongku. Jadi, aku tidak punya alasan apa pun lagi untuk menolaknya."
"Kalau begitu, kakak tidak bisa lagi melarangmu. Kakak hanya akan mendoakan semoga kau benar-benar bisa hidup bahagia bersama Joshua. Setelah kakak pulang ke Indonesia, kita bahas tentang pernikahan kalian. Ruby ...." Nicky menjeda ucapannya selama beberapa saat. "Kakak akan tinggal di sini untuk menghuni rumah papa. Apa kau tidak mau tetap tinggal di sini?"
Mulut Ruby bungkam seketika. Di saat situasi seperti ini, wanita itu benar-benar merasa bimbang. Ingin sekali ia tinggal bersama sang kakak, tetapi ia juga tidak bisa jika harus jauh dari Joshua.
"Jangan dipikirkan sekarang. Lebih baik kita sekarang bergabung bersama mereka." Nicky merangkul pundak adiknya dan mengajak bergabung bersama yang lain.
Senyum Nicky mengembang sempurna ketika melihat Rere yang terus tersenyum karena perlahan-lahan Clay mau bermain dengan wanita itu. Meskipun Clay belum bisa jauh dari Zifana.
Saat malam sudah datang, mereka semua menginap di rumah Cakra. Padahal mereka akan pulang, tetapi lelaki paruh baya itu memohon dengan sangat. Akhirnya mereka mengiyakan karena tidak tega dengan lelaki itu.
Malam ini pun, Clay tidur bersama dengan Rere dan Nicky. Melatih bocah itu agar terbiasa bersama ibu kandungnya. Yang merasa kesepian di sini adalah Zifana. Biasanya setiap malam ia akan bangun sampai beberapa kali hanya untuk membuatkan susu untuk bocah itu. Namun, mulai malam ini, Zifana tidak akan melakukan hal itu lagi. Rere yang akan menghandel semuanya.
"Kau belum tidur?" Jason sudah terlelap selama satu jam, tetapi ia terkejut ketika melihat Zifana masih membuka mata lebar.
"Aku tidak bisa tidur. Aku khawatir kalau Clay terbangun dan mencariku." Zifana menjawab dengan suara berat. Tak ayal hal itu membuat Jason langsung memeluk wanita tersebut dengan sangat erat.
"Aku yakin kau pasti bisa. Sekarang tidurlah, kau butuh istirahat. Besok aku akan mengajakmu berkeliling tempat ini sebelum kembali ke Indonesia," ujar Jason. Berusaha menenangkan hati istrinya.
Zifana tidak membuka suara lagi. Ia membenamkan wajah di dada bidang suaminya lalu berusaha untuk bisa tertidur lelap. Jason pun mengusap punggung istrinya dengan lembut seolah sedang menina-bobo wanita itu.
Namun, baru saja hendak terlelap, Zifana langsung terduduk ketika mendengar suara tangis bayi yang mendekat. Dengan gegas wanita itu turun dari ranjang.
__ADS_1
"Zi ...."
"Clay menangis. Aku yakin dia pasti mencariku."