
..."Hanya dengan cinta yang indah kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan."...
...~Khalil Gibran~...
...****************...
Ruby hanya bisa terpaku ketika mendengar ucapan Joshua yang benar-benar tidak pernah ia sangka sebelumnya. Ia masih belum percaya bahwa Joshua sekarang ini sedang melamar dirinya. Hal yang bahkan tidak ada dalam bayangannya sama sekali.
Tatapannya mengarah pada sebuah cincin yang berada di tangan lelaki itu. Bergantian dengan menatap Joshua yang juga sedang menatapnya penuh harap. Ruby benar-benar tidak tahu keputusan apa yang akan diambil olehnya. Dirinya dipenuhi dengan kebimbangan.
Joshua yang melihat keraguan di wajah wanita itu pun langsung mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Seolah tahu apa yang membuat Ruby sebimbang itu. "Kau tidak harus menerima lamaran ini, tetapi kuharap kau menjawab sesuai kata hatimu," ujarnya pasrah.
Ruby masih betah menutup rapat mulutnya sampai beberapa saat. "A-aku belum merasa pantas bersanding denganmu."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Joshua bangkit berdiri karena kakinya merasa lelah berjongkok sejak tadi.
"Aku belum yakin bisa menjadi wanita yang baik untukmu. Bahkan, aku memiliki banyak sekali kekurangan. Aku bahkan merasa tidak sebanding dengan dirimu. Ya pokoknya kita berbeda jauh." Ruby menghirup napas dalam. "Apa kau yakin bisa menerimaku apa adanya?"
"Tentu saja. Hatiku sudah mantap memilihmu tanpa ada keraguan. Aku juga tidak memaksa kau untuk menerima. Jawablah sesuai dengan kata hatimu," kata Joshua lembut.
Ruby masih diam memikirkan dengan matang-matang.
"Kalau begitu. Aku menerima lamaran ini," ucap Ruby. Membuat bibir Joshua terbungkam rapat selama beberapa saat.
Ia baru tersadar ketika mendengar tepuk tangan meriah dari anggota keluarganya. Joshua sungguh merasa sangat bahagia karena Ruby tidak menolak lamaran ini. Bahkan, Joshua dengan tidak sabarnya ingin membahas kapan pernikahan mereka akan digelar. Namun, Ruby menolak dengan tegas.
Ia ingin membahas hal tersebut ketika Nicky sudah di Indonesia karena Nicky lah yang akan menjadi walinya nanti jika mereka menikah. Mereka pun mengiyakan ucapan wanita itu karena harusnya memang seperti itu.
__ADS_1
***
Sementara itu, Rere dan Nicky mengembuskan napas lega karena Bibi Gracia berhasil dijebloskan ke penjara. Dengan kepintarannya Nicky berhasil mengungkap otak di balik kecelakaan orang tuanya adalah sang bibi. Kecelakaan yang memang sengaja dilakukan oleh Bibi Gracia untuk mengambil harta keluarga Nicky dan sekarang harta tersebut yang sebelumnya direbut pun kini telah kembali.
Setelah urusan dengan keluarga Nicky selesai. Kini, Rere merasa gelisah saat dirinya sedang dalam perjalanan menuju ke tempat orang tuanya. Sebenarnya ia sudah menolak, tetapi Nicky terus memaksa untuk datang ke sana. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di rumah orang tuanya membuat Rere tidak yakin apakah orang tuanya masih mau menerima dirinya atau tidak.
Rere masih bisa merasakan kekecewaan yang dirasakan oleh orang tuanya karena ia sendiri pun merasa menyesal karenanya. Namun, Rere membenarkan saran Nicky, apa salahnya mencoba bertemu dan membicarakan semuanya dengan baik-baik.
Menyadari kegelisahan yang dirasakan oleh istrinya, Nicky pun langsung menggenggam tangan wanita itu dengan erat. Seolah menyalurkan ketenangan yang membuat Rere sedikit bisa bernapas lega.
Ketika mobil itu sudah masuk ke pelataran rumah keluarga Rere, debaran jantung wanita itu kian cepat. Rasanya gelisah dan tidak karuan. Bahkan, terlihat jelas beberapa kali Rere menghirup napas dalamnya.
"Nick ...."
"Tenanglah. Aku yang akan berbicara pada mama dan papamu." Nicky memberikan angin segar pada istrinya. Rere mengangguk lemah lalu segera turun dari mobil.
"Untuk apa kau datang ke sini!" Suara wanita itu menggelegar dan terdengar begitu bergetar. Ia masih marah dengan Rere, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa wanita tersebut sangat merindukan putrinya.
Hampir setiap malam ia menangisi Rere.
"Ma-Mama." Rere berlutut di kaki Belinda dan bahkan sudah mencium telapak kaki wanita itu. Belinda mengedipkan mata dengan cepat saat merasakan cairan hangat keluar dari pelupuk matanya. "Maafkan Rere, Ma."
"Kupikir kau tidak akan sudi lagi menginjak kaki di rumah ini," ujarnya masih menahan tangisan agar tidak mengeras. Padahal ia ingin sekali meminta Rere berdiri dan memeluk putrinya dengan erat. Namun, ia menahan diri.
"Tante, apa kami boleh masuk dan menjelaskan semuanya? Apalagi istri saya ini kelelahan dan belum lama habis melahirkan," ucap Nicky dengan sengaja. Membuat bola mata Belinda membulat penuh.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya bingung. Namun, Nicky tidak mau menjawab jika Belinda tidak mengajak masuk. Dengan gegas, Belinda pun meminta mereka untuk segera duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Belinda memanggil Cakra, suaminya, dan mengatakan bahwa putri mereka datang. Kini, mereka berempat duduk di ruang tamu. Tatapan Cakra begitu menyelidik dan menuntut jawaban.
Nicky menjelaskan semuanya dengan gamblang. Tentang Rere yang hamil bahkan sudah melahirkan, juga mereka yang sudah menikah secara siri. Nicky pun tidak ketinggalan mengucapkan kata maaf berkali-kali, sedangkan Rere hanya diam dan membiarkan suaminya yang menjelaskan semuanya.
"Re, apa semua benar?" tanya Cakra menuntut jawaban.
Rere mengangguk lemah. "Iya, Pa. Aku ke sini karena mau minta maaf sama kalian. Kalau memang aku sudah tidak boleh ke sini pun, tidak apa. Yang terpenting aku senang melihat papa dan mama dalam keadaan sehat."
"Kau yakin sudah tidak mau ke sini lagi?" tanya Belinda. Suaranya serak karena menahan tangis. Rere tidak menyahut, hanya menunduk dalam.
"Biar papa makin percaya padamu, maukah kau membawa putramu ke sini. Untuk memastikan kalau kau tidak berbohong," suruh Cakra.
"Aku hanya bisa menunjukkan fotonya, Pa. Sekarang dia sedang di Indonesia. Aku menitipkannya pada Jason, dan beberapa hari lagi aku akan pulang ke Indonesia untuk menjemputnya," kata Rere dengan suara berat. "Aku tidak mau kalau sampai ada yang melukai putraku, Pa. Jauh darinya saja sudah membuat aku merasa hampa."
"Kau sangat menyayangi anak itu? Padahal anak itu hasil dari kesalahan." Cakra menahan emosi. Ingatannya kembali terputar saat Rere mengatakan ia dinodai oleh kekasihnya.
"Ya salah dan berdosa adalah orang tuanya bukan dia, Pa. Lagi pula, aku sudah mengandungnya selama sembilan bulan. Membawanya ke mana pun aku pergi, dan aku meninggalkan selama beberapa bulan dan sekarang aku tidak akan meninggalkannya lagi, Pa." Rere mengusap air matanya. Ia sungguh sangat merindukan Clay.
"Terserah kau saja, tapi papa harap kau bisa membawa putramu ke sini. Mungkin papa akan mempertimbangkan semuanya nanti." Cakra bangkit dan pergi dari ruang tamu. Meninggalkan mereka begitu saja.
Rere hanya menatap nanar punggung sang papa yang perlahan menjauh dari pandangan.
Ia tahu, sang papa belum bisa menerimanya lagi dengan baik, sedangkan Belinda memeluk putrinya untuk meluapkan rindu yang menggebu.
Nicky mengucap syukur dalam hati, walaupun belum mereka belum berbicara akan menerima Rere, tetapi dari sikap kedua orang Rere, ia bisa menilai bahwa sebenarnya orang tua Rere sudah memaafkan putri satu-satunya sejak lama.
Semoga setelah ini, kau benar-benar bisa menemukan kebahagiaan. Termasuk kebahagiaan kita juga. Batin Nicky mengembuskan napas lega.
__ADS_1