
"Coba hitung berapa kali kamu menyebut aku pak Ivan hari ini?" Ivan memeluk Aleena dari belakang saat gadis itu tengah menuang air putih ke dalam gelas setibanya mereka di apartemen.
"Kan di depan papa kamu sama kak Celine. Kamu bilang nggak boleh panggil pak saat berduaan, kalo di depan orang-orang berarti boleh dong?" protes Aleena.
"Mulai sekarang aturan nya dirubah. Di depan keluarga aku kamu harus tetap panggil sayang sementara di depan orang lain yang bukan keluarga kamu harus panggil mas Ivan" ucap Ivan dengan seringai lebarnya.
"Iya" Jawab Aleena singkat.
"Jadi kamu harus dihukum" Bisik Ivan sambil mencium pipi Aleena. Nafasnya yang berhembus mengenai leher dan telinganya membuat tubuh Aleena meremang. Gadis itu berusaha melepaskan diri dari rengkuhan tangan kokoh pria itu.
"Kan aturan nya baru berlaku sekarang. Masa uda main hukum segala. Nggak bener deh kamu. Seenak nya aja mengubah peraturan" Ivan terkekeh mendengar protesan Aleena ia semakin bersemangat menjahili kekasihnya itu.
"Oh ya sayang, kamu masih ada rasa ya sama Sarah" Aleena memutar badan nya agar berhadapan dengan Ivan. Aleena melihat Ivan tampak tenang, pria itu malah mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkan nya di kitchen bar.
"Sudah aku duga kamu pasti uda tanya-tanya tentang Sarah ke kak Celine." Ivan mengusap rambut Aleena dan mencium kening Aleena lama.
"Jawab sayang" ucap Aleena. Gadis itu sudah mencoba menahan diri agar tidak bertanya namun Aleena tak tahan lagi. Pada Rania Aleena tak merasa cemburu seperti ini mungkin karena Ivan bilang tak pernah mencintai Rania. Berbeda dengan Sarah seperti yang Celine bilang Ivan berniat serius dan mencintai gadis itu.
"Enggak" Jawab Ivan tanpa keraguan.
"Aku malah bersyukur putus dari dia Al. Mungkin kalo Sarah nggak berkhianat sama aku, sekarang aku sama dia udah nikah. Dan aku nggak akan pernah merasakan kebahagiaan yang benar-benar sempurna seperti saat bersama kamu" Ivan menatap dalam mata Aleena, agar gadis itu bisa melihat ketulusan nya.
"Kamu masih suka ketemu dia?"
"Semenjak putus udah enggak, aku ganti nomor dan nggak mau tau lagi semua hal tentang dia" Ivan terlihat tanpa beban.
__ADS_1
"Tapi siapa tau nanti saat bertemu rasa cinta kamu ke dia kembali datang" Ivan malah terkekeh dan menciumi pipi Aleena dengan gemas.
"Aku suka kamu cemburu seperti ini. Aku jadi ngerasa sangat dicintai. Tapi udahan yah bahas Sarah. Dia cuma masa lalu aku yang nggak bisa aku ubah. Kalau aja aku udah tau bahwa suatu saat aku akan bertemu kamu dengan perasaan sebesar ini aku pasti tak akan pernah melirik dan menaruh perasaan pada gadis manapun. Aku ingin seperti kamu yang meletakkan hatimu pertama kali dan satu-satunya hanya padaku. Tapi nggak bisa Al, itu udah terjadi. Tapi aku bisa jamin cintaku ke kamu itu berbeda, Kalo diibaratkan seluruh cinta yang aku punya itu sebesar dunia dan masa lalu aku hanya kebagian seluas kuku jari sementara sisah nya semua untuk kamu"
Aleena tak bisa menahan haru mendengar ungkapan manis Ivan padanya. Harusnya Ia tak merasa cemburu yang berlebihan seperti ini mengingat betapa Ivan mencintainya.
"Makasih, aku sangat mencintaimu" ucap Aleena dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga sangat mencintaimu" Senyum hangat tersungging di bibir Ivan. Ia menarik Aleena ke dalam pelukan nya.
🍁🍁🍁
"Sebelumnya Ivan mau minta maaf sama Om mungkin apa yang akan Ivan sampaikan ini akan membuat om kaget, kecewa atau mungkin sangat marah. Tapi Ivan harus mengatakan nya om" Ivan memulai obrolan nya pada dokter Robert.
Rania yang sejak tadi selalu tersenyum karena kedatangan Ivan ke rumahnya sedikit memucat. Awalnya Gadis itu berfikir Ivan datang untuk ingin membahas masalah pernikahan mereka karena dia sudah memaksa sang papa untuk menghubungi papanya Ivan.
"Ivan nggak bisa melanjutkan pertunangan dengan Rania om" Ucap Ivan tanpa keraguan.
"Apa?! apa maksud kamu mas? kamu lagi becanda kan?" Rania sangat shock, ia tak menyangka Ivan akan berani mengatakan hal ini pada papanya. Ia kira selama ini Ivan hanya mengancam.
"Aku sedang tidak ingin main-main Rania. Aku serius dengan ucapan ku. Aku nggak bisa melanjutkan pertunangan kita" Ivan melirik pada dokter Robert yang juga terlihat kaget, namun pria itu dengan cepat menguasai dirinya hingga kembali terlihat tenang.
"Nggak mas, kamu nggak memutuskan pertunangan gitu aja. Kita bahkan uda mau nentuin tanggal pernikahan. Papa bilang pada mas Ivan, dia nggak boleh mutusin Rania" Gadis itu menangis mengadu pada papanya.
"Tenanglah dulu Rania." Ucap dokter Robert. Pria itu beralih menatap Ivan.
__ADS_1
"Kalau boleh tau kenapa nak Ivan tiba-tiba ingin membatalkan pertunangan ini? apa sedang ada masalah diantara kalian berdua? kalau iya harusnya kalian selesaikan dengan kepala dingin. Bukan langsung mengambil keputusan" Pria itu tampak begitu sabar meski hatinya bergemuruh melihat tangisan putrinya.
"Ivan benar-benar minta maaf om. Karena sebenarnya sejak awal Ivan terpaksa menjalani pertunangan ini, papa memaksa Ivan menerima pertunangan ini karena ingin balas budi pada om yang sudah menyembuhkan papa. Rasanya hubungan ini tidak akan berhasil om. Karena itu lebih baik Ivan mundur daripada nanti Ivan dan Rania malah saling menyakiti" Rania menggelengkan kepalanya, ia ingin berbicara lagi namun papanya meminta ia untuk tetap diam dan tenang.
"Terpaksa? bukan kah kalian saling mencintai?" Ia menawarkan pertunangan pada papa Ivan karena Rania mengatakan bahwa dia dan Ivan sudah menjalin hubungan cukup lama.
"Maaf om, itu tidak benar. Aku dan Rania tidak saling mencintai" Ucap Ivan.
"Tapi aku cinta sama kamu mas, kita saling mencintai" Rania tak rela jika harus kehilangan Ivan.
"Tapi aku hanya menganggap mu sebagai siswa dan adik Rania. Nggak lebih, aku nggak bisa melanjutkan pertunangan ini. Aku harap kamu mau mengerti"
"Apa karena Aleena?" Nada bicara Rania penuh kebencian saat mengucapkan nama Aleena.
"Bukan karena siapa-siapa Rania, ini murni keinginan hatiku. Hubungan yang tidak dilandasi cinta nggak akan pernah berhasil Ran"
"Tapi aku yakin kamu akan cinta sama aku suatu hari nanti" Kekeh Rania. Sang papa memeluk putrinya yang tampak kacau.
"Ivan harap om mau mengerti kondisi Ivan om. Ivan benar-benar tidak bisa melanjutkan pertunangan ini." Ivan meraih dompetnya dan mengeluarkan cincin yang memang tak pernah ia pakai itu.
Rania meronta ingin melepaskan diri namun sang papa begitu erat memeluknya.
"Kamu nggak bisa gitu mas. Kita harus tetap menikah"
"Ivan permisi om" Dokter Robert hanya mengangguk. Ia tak tau harus mengatakan apa lagi, ia sangat ingin menahan Ivan dan meminta pria itu melanjutkan pertunangan dengan Rania. Tapi rasanya sangat tidak bijak jika dirinya memaksa Ivan sementara pria itu tak mencintai putrinya.
__ADS_1
🍁🍁🍁