
"Kenapa?" Ivan memeluk Aleena yang tampak berdiri termenung di balkon kamar memandang ke arah taman bunga rumah baru mereka.
Ivan langsung memboyong Aleena ke rumah baru mereka setelah satu minggu pernikahan. Ia merasa apartemen tidak akan cocok bagi perkembangan anak mereka nanti. Karena itu Ivan memutuskan untuk membeli rumah. Meski tidak terlalu besar namun sangat nyaman untuk mereka tinggali.
"Uda lama pulang nya mas?" Tanya Aleena yang tersentak dengan kehadiran tiba-tiba Ivan.
"Saking asiknya ngelamun sampai nggak sadar suami pulang" Ucap Ivan setengah merajuk.
"Iya maaf" Aleena memutar tubuhnya menghadap ke arah suaminya lalu mengusap wajah pria itu.
"Apa ada hubungan nya sama papa kamu?" Aleena tersenyum, suaminya begitu peka pada kerisauan nya. Ivan sebelumnya memang merasa khawatir membiarkan Aleena bertemu papanya sendirian, namun karena Aleena meyakinkan Ivan bahwa semua akan baik-baik saja pria itu mengizinkan nya meski dengan berat hati.
"Kamu mandi aja dulu sayang, nanti aja ngobrolnya" Aleena mengusap dada pria itu. Ivan mendaratkan kecupan hangat di kening Aleena.
"Mandiin ya?" Bisik Ivan. Belum sempat Aleena menjawab pria itu sudah lebih dulu menggendong tubuh istrinya dan membawanya berjalan ke arah kamar mandi.
"Mas aku uda mandi, masa mandi lagi" Aleena meronta berusaha melepaskan diri namun Ivan tak menggubris nya. Ia malah memagut bibir Aleena hingga suara protesan istrinya teredam oleh sesapan rakus bibirnya.
Satu bulan pernikahan nyatanya belum mengurangi intensitas percumbuan mereka, Ivan tak pernah bosan mereguk kenikmatan sebanyak-banyak nya pada tubuh Aleena. Ia bahkan selalu merasa ketagihan pada kehangatan yang tubuh Aleena tawarkan. Karena itu setiap ada kesempatan Ivan tak akan pernah menyia-nyiakan nya.
Setibanya di kamar mandi Ivan dengan cepat melucuti pakaian yang melekat pada tubuhnya dan juga tubuh Aleena.
__ADS_1
"Mas aku uda mandi" Rengek Aleena ia masih berusaha agar bisa lepas dari terkaman Ivan. Tapi bukan Ivan namanya jika menyerah begitu saja. Sekali ia menginginkan maka jangan harap Aleena bisa lepas dari genggaman nya.
"Albert sudah sangat merindukan mu, dia pengen ditemenin mandi sama kamu" bisik nya dengan suara serak menandakan bahwa pria itu telah dikungkung gairah. Ah selalu saja Albert dijadikan Alasan. Ivan mendaratkan kecupan di pipi Aleena lalu turun menyusuri leher wanita itu, ia menyesapnya dengan cukup kuat hingga meninggalkan jejak kemerahan di sana.
Ivan menuntun tangan Aleena untuk mendarat pada Albert yang seperti biasa sudah berdiri dengan begitu gagah.
Ivan menyesap bibir Aleena, ia berusaha meredam des ahan nya akibat rasa nikmat dari usapan tangan halus Aleena pada miliknya.
Gairah yang semakin memuncak, membuat tubuh Ivan terasa ngilu namun begitu nikmat. Pria itu tak bisa menahan lebih lama lagi, ia mengangkat tubuh Aleena dan berusaha menghujamkan miliknya pada inti tubuh istrinya
"Arghh..." leng uhan Aleena memenuhi ruangan itu saat Ivan berhasil menembus intinya, setelah berdiam sejenak Albert lalu memulai penjelajahan nya melakukan penyusuran di goa hangat Aleena.
Hentakan tubuh Ivan selalu berhasil membuat Aleena lupa diri, rintihan dan des ahan silih berganti menyulut semangat Ivan untuk segera menghadiahkan kenikmatan yang berkali lipat.
🍁🍁🍁
"Apa yang kamu lakukan uda tepat kok sayang, kalau memang program yang papa kamu tawarkan bagus papa pasti akan menerimanya meski tanpa rayuan dari kamu. Papa profesional banget orang nya, benar yang kamu bilang urusan pekerjaan nggak boleh dicampur adukkan dengan urusan pribadi. Lagipula kamu hanya boleh merayuku sayang, nggak boleh merayu orang lain" Ivan mengusap rambut Aleena yang meringkuk dalam dekapan nya. Aleena mencubit lembut dada Ivan atas ungkapan kalimat terakhir pria itu.
"Tapi papa bilang aku durhaka mas, papa nggak nyadar kalo selama ini papa uda jahat banget sama aku. Papa sama sekali nggak peduli sama aku. Bahkan sempat-sempatnya papa nyumpahin aku mas" keluh Aleena, hatinya masih terasa perih saat mengingat tatapan penuh kebencian yang papa nya lemparkan karena penolakan Aleena siang tadi.
"Kamu uda merasa hebat? padahal kalo papa nggak kasih restu kamu juga nggak akan bisa menikah dengan Ivan. Kamu nggak akan bisa hidup sejahtera kayak sekarang. Bukan nya berterima kasih kamu malah seperti ini. Papa yakin kamu nggak akan bahagia karena uda menjadi anak durhaka" ucap Gunawan yang sampai sekarang terus terngiang.
__ADS_1
"Aku sebenar nya kasihan sama papa, tapi aku nggak mau bantuin dia. Aku mau papa bertanggung jawab dengan semua perbuatan nya." Lirih Aleena.
"Istrinya ikut berperan menghancurkan citra papa, terus kenapa aku yang papa minta untuk ikut bertanggung jawab dengan dalih bukti bakti seorang anak kepada orang tua yang sudah membesarkan." keluh Aleena.
Aleena tau istri papanya melakukan hal itu karena merasa sakit hati, istri mana yang akan menerima suaminya bermain gila. Namun harusnya wanita itu berkaca pada apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Bagaimana ia dengan begitu tak tau dirinya hadir dalam kehidupan pria yang sudah memiliki istri dan seorang anak.
Ivan masih diam, membiarkan Aleena terus mengeluarkan keresahan hatinya. Tangan nya tak henti memberikan usapan menenangkan pada rambut dan punggung Aleena.
"Aku nggak nyangka papa begitu banyak berubah. Entah ke mana hilangnya kasih sayang yang papa miliki dulu. Papa juga sudah berubah menjadi sosok yang kehilangan rasa malunya, dulu setau aku papa begitu bijak dan banyak disegani. Rasanya sedih banget, aku masih memiliki papa tapi seperti sebatang kara" Keluh Aleena lagi.
"Kamu doain papa semoga suatu saat papa berubah menjadi lebih baik dari sekarang. Semoga papa segera menyadari kesalahan nya. Satu lagi kamu nggak pernah sebatang kara karena aku dan keluargaku akan selalu ada buat kamu. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu sayang " Bisik Ivan.
"Iya mas, aku nggak tau akan seperti apa nasib aku andai nggak ada kamu. Mungkin aku uda benar-benar kehilangan arah. Makasih ya mas uda memilih aku untuk menjadi istri kamu. Aku adalah wanita yang paling beruntung karena memiliki kamu" Aleena menatap suaminya dengan binar keharuan. Mata Aleena tampak berkaca dengan senyum tulus yang ia sungging kan. Menikah dengan Ivan adalah hal terbaik setelah banyak kemalangan yang menimpanya.
"Aku juga pria yang paling beruntung karena memiliki istri yang tidak hanya cantik namun begitu baik. Tidak heran jika Albert begitu mengidolakan kamu" Aleena menatap shock pada suaminya. Kalimat terakhir pria itu membuyarkan suasana haru yang sempat menyelimuti.
🍁🍁🍁
Aku nggak pernah nyangka kalo novel ini akan mendapatkan apresiasi yang begitu besar.
Aku cuma bisa ucapin makasih banyak untuk orang-orang yang sudah membersamaiku sejak awal sejak novel pertama ku menetas.
__ADS_1
Yang belum mampir, boleh dicoba untuk masuk ke dalam kisah "Alex Bianca dan Brian Bella dalam My Brother's friend is My Partner" juga kisah "Marcell_Loli dalam Tragedi Bachelor Party" Menurut yang uda baca 2 novel itu juga seru (heheh PEDE amat yak)