
Tubuh Ivan bagaikan tak bertulang kala membuka pesan yang Aleena kirimkan padanya. Karena bertemu Sarah ia baru membuka pesan dari Aleena saat sudah berada di dalam mobilnya.
Rasa takut menyerang Ivan, ia segera membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen. Sepanjang perjalanan Ivan terus melayangkan umpatan-umpatan atas kebodohan nya saat Aleena tak menggubris panggilan telfon darinya.
"Angkat sayang" mohon Ivan penuh harap namun Ivan harus menelan kekecewaan karena gadis itu tetap mengabaikan panggilan nya.
Setibanya di basement apartemen Ivan bergegas keluar dari mobil, pria itu bahkan memarkir asal mobilnya. Pria itu berlari menuju unit apartemen agar segera tiba dan berharap mendapati Aleena di sana.
"Aleena, sayang" Panggil Ivan menuju ke arah kamar gadis itu, namun tak ia temui siapapun saat membuka kamar Aleena. Di sana tampak kosong, Ivan berjalan menuju kamar mandi namun tetap sama tak ada kekasihnya di sana.
Ivan menghela nafas sedikit kelegaan menyapa saat membuka lemari pakaian Aleena masih utuh di sana.
Ivan bergegas keluar menuju dapur, ruang santai hingga ke kamar nya namun nihil tak ada Aleena di semua tempat yang ia datangi.
Ivan menghempaskan tubuhnya di sofa, ia kembali mencoba menghubungi Aleena dan mengirimkan banyak chat pada nomor gadis itu.
"Aghhh Aleena maaf, kamu salah paham!" Eram Ivan. Ia merasa frustasi, ketakutan menguasai dirinya. Ia tak bisa membayangkan andai Aleena meninggalkan nya. Padahal baru saja kebahagiaan menyapa mereka setelah minggu lalu Ivan melamar Aleena.
Sementara itu di tempat lain Aleena tengah merebahkan diri di kursi santai pinggir privat pool kamar hotel yang ia pesan untuk menenangkan diri sebelum menghadapi Ivan. Menginap di hotel itu Ia harus merogoh kocek yang amat dalam untuk ukuran seorang Aleena yang bukan dari kalangan berada.
Bayangkan saja ia harus mengeluarkan biaya sebesar satu bulan gajinya untuk pelarian kali ini. Tapi Aleena tak peduli, toh selama tinggal bersama Ivan uang gajinya aman karena semua kebutuhan nya dipenuhi oleh pria itu.
Aleena meraba dadanya yang masih berdetak tak normal, rasa sakit itu masih terasa nyata. Rasanya belum kering lidah Aleena mengatakan pada papanya bahwa ia hanya ingin menikah dengan Ivan dengan alasan kesetiaan meski dalam pandangan papanya Ivan bukan pria kaya namun ia langsung menyaksikan Ivan bertemu dengan kekasih masa lalunya secara diam-diam. Mungkinkah ini cara Tuhan menunjukkan bahwa Ivan bukan pria yang tepat untuknya?
Tapi rasa cinta di hatinya terlalu besar hingga Aleena harus dilanda kebimbangan untuk memilih jalan terbaik bagi kelanjutan hubungan nya dengan Ivan.
__ADS_1
Aleena mengangkat tangan nya, melihat sebuah cincin yang begitu cantik melingkar di jari manisnya. Ingatan nya kembali membawanya pada momen romantis malam itu, tak disangka setelah semua perlakuan manis Ivan Aleena harus merasakan kepahitan ini.
"Katakan aku harus apa? apa aku harus membuang mu? menutup semua kisah ku dengan Ivan?"
"Kenapa semua baru terkuak sekarang? hatiku sudah terlanjur mencintainya dengan sangat dalam." Keluh Aleena. Ia memejam kan matanya, berusaha mengusir rasa nyeri yang menderanya. Sejak tadi Aleena menahan air matanya agar tak sampai keluar, entah mengapa ia tak mau terlihat menyedihkan dengan menangisi kisahnya yang mungkin sebenarnya tak terlalu diinginkan oleh Ivan.
"Berani-beraninya kamu lari dari ku Aleena!" Aleena tersentak saat mendengar suara itu, terlebih saat tubuh nya tertarik dan jatuh pada kungkungan erat sepasang lengan kokoh. Aroma tubuh itu begitu ia kenali, Seketika kesadaran menarik Aleena dari keterkejutan nya. Ia segera meronta untuk melepaskan dirinya.
"Lepasin!"
"Nggak akan! kamu nggak akan bisa lari dari aku Aleena, kamu nggak boleh pergi dari ku!" Ucap Ivan dengan suara tegas nya.
Aleena dilanda kebingungan, hatinya bertanya-tanya kenapa Ivan bisa tau keberadaan nya.
"Lepasin aku pak! Jangan seperti ini aku kesulitan bernafas" Tak butuh waktu lama Aleena merasakan sesapan rakus pada bibirnya.
"Kenapa? bukan kah aku bukan siapa-siapa untukmu?" Aleena kembali harus tercekat kala Ivan kembali menyesap dalam bibirnya.
"Jangan sembarangan bicara Aleena. Kamu ini milikku, kekasihku, calon istriku" Aleena melihat Ivan begitu terluka dengan kata-kata yang ia lontarkan. Tapi kenapa bukankah ia pihak yang amat tersakiti di sini?
"Kamu sendiri yang menyatakan itu, kamu bahkan berbicara seolah aku ini bukan siapa-siapa saat kamu sedang bersama Sarah kekasihmu" ucap Aleena sinis. Ia tak mau tampak lemah di hadapan Ivan yang terlihat ingin menguasainya meski hatinya sendiri tengah kalut.
"Kamu kekasihku Aleena. Bukan yang lain! Kamu salah paham sayang, kamu harus dengerin penjelasan ku dulu!" Ini alasan Aleena ingin menyepi beberapa saat. Ia takut terjadi hal seperti ini, Ivan akan memaksa mendengarkan penjelasan darinya sementara dalam keadaan seperti ini Aleena sedang tak mampu mencerna semuanya dengan baik. hal positif saja bisa berubah negatif. Beda kasus andai Aleena melihat orang yang bersama Ivan adalah Rania, ia tak akan sekecewa ini.
"Oke kita bicara, tapi lepasin aku dulu" Aleena takut terlena dan luluh dengan cepat andai terus berada dalam dekapan Ivan yang menenangkan.
__ADS_1
"Nggak, kamu pasti akan kabur dan menghindar dari ku" Ivan sama sekali tidak melonggarkan pelukan nya
"Sekarang aja kamu bisa menemukan ku, itu menandakan sejauh apapun aku pergi kamu tetap akan menemukan aku. Lantas apa yang kamu takuti?"
"Kalo kamu nggak lepasin, aku nggak akan pernah mau bicara sama kamu. Aku akan berusaha mencari cara agar aku bisa menghilang dari hidup kamu selamanya." Ancam gadis itu saat Ivan tak juga bergeming. Seketika Ivan melonggarkan dekapan nya. Tapi Aleena tak bisa benar-benar bernafas lega karena Ivan menariknya duduk di pangkuan pria itu.
"Dengan begini kita bisa mengobrol nyaman dan kamu tidak akan bisa ke mana-mana" Ucap Ivan sambil menyeringai.
"Kamu licik! kamu kenapa bisa ada di sini? padahal aku lagi nggak mau lihat muka kamu" ucap Aleena. Ia tak peduli Ivan akan tersinggung dengan ucapan nya.
"Zaman uda canggih sekarang sayang, untung saja aku pernah memasangkan pelacak di ponsel kamu" Ucap Ivan merasa menang. Ah Aleena merasa bodoh, Ia tak mematikan ponselnya.
"Terus kamu Kok bisa masuk ke sini? percuma dong aku bayar mahal-mahal hotel ini tapi segampang itu membiarkan orang lain masuk. Aku pasti kasih penilaian rendah pada hotel ini"
"Hotel ini milik orang tua dari teman aku" Ivan tersenyum miring.
"Kamu mengerikan, itu pelanggaran tau nggak aku bisa laporin kamu ke polisi. Dasar penguntit"
"Menguntit istri sendiri bukan kejahatan sayang" Aleena mengumpati hatinya karena saat seperti ini sempat-sempatnya ia merasakan debaran tak menentu saat disebut istri oleh Ivan.
"Aku bukan istrimu!"
"Tapi sebentar lagi kamu akan menjadi istriku Aleena kamu milikku" Jawaban dan ekspresi Ivan sangat menjengkelkan.
"Kata siapa? aku nggak mau. Kamu uda bohongin aku, nyakitin aku dan ngecewain aku. Aku nggak mau menghabiskan hidupku bersama orang yang uda mengkhianati aku" Aleena menatap tajam pada Ivan. Rasa sakit saat mendapati Ivan bersama Sarah kembali terasa.
__ADS_1
"Kamu salah paham sayang" ucap Ivan sendu.
🍁🍁🍁