
Ivan memerintahkan kepada orang-orangnya untuk meretas akun Instagram Rania untuk mengendalikan semua kekacauan yang Rania buat lalu menghilangkan akunnya itu. Pria itu juga meminta mereka mencari informasi lengkap mengenai Rania untuk mencari sisi lemah gadis itu yang dapat dijadikan alat melumpuhkan Rania. Rania tidak akan mempan jika hanya digertak biasa. Ia benar-benar harus membuat perhitungan padanya
"Kamu bisa tenang sekarang, semua akan bisa dikendalikan. Aku akan membuat perhitungan pada gadis tak tau diri itu" Ivan memeluk pinggang Aleena yang tengah menata sarapan pagi yang baru saja diantarkan oleh pelayan hotel. Ivan memejamkan matanya saat menghirup aroma wangi shampoo istrinya.
"Ternyata seperti ini rasanya punya suami tampan dan keren. Selain menyenangkan juga begitu merepotkan" sontak Ivan terbahak mendengar ucapan istrinya. Ia menciumi wajah Aleena dengan gemas.
"Aku baru tau bahwa istriku ini begitu pintar menggombal."
"Aku bicara apa adanya" jawab Aleena sambil mengulum senyum.
"Lalu apa maksud kamu tentang merepotkan?" Ivan memutar tubuh Aleena agar menghadap padanya.
"Jelas merepotkan, karena kamu tampan dan keren banyak wanita yang kehilangan akal. Mereka melakukan segala cara agar bisa bersama mu" cebik Aleena.
"Hari pertama menjadi istrimu saja sudah diserang masalah" lanjut Aleena. Ivan terkekeh lagi. Kali ini ia mendaratkan kecupan di bibir Aleena. Kecupan yang lembut namun begitu dalam.
"Kita sarapan dulu" Aleena menghentikan aksi Ivan. Jika diteruskan Aleena yakin sarapan mereka akan tertunda hingga makan siang.
"Makanan itu sama sekali tidak menarik lagi sayang. Albert menginginkanmu lagi, semalam kurang katanya" Bisik Ivan begitu dekat di telinga Aleena. Semalam mereka memang hanya melakukan nya satu kali mengingat Aleena begitu kesakitan. Karena melihat darah akibat robekan selaput dara Aleena cukup banyak, Ivan mengkhawatirkan gadis itu dan memutuskan untuk menahan dirinya.
"Aku lapar banget, lemes." rengek Aleena.
"Baiklah kita sarapan" Ivan tak tega untuk menyerang Aleena sekarang. Semoga saja Albert tidak berulah.
__ADS_1
Ada banyak menu yang tersedia, namun keduanya kompak memilih roti isi daging asap serta segelas jus tomat.
"Kamu apain Rania?" Aleena baru ingat ucapan suaminya mengenai Rania.
"Aku meminta orang-orang ku meretas akun nya. Aku juga memerintahkan mereka mencari tau tentang Rania agar bisa menekan wanita licik itu supaya nggak berani ganggu lagi" Kilat amarah begitu jelas pada raut wajah Ivan ketika membahas tentang Rania. Ia tak menduga bahwa berurusan dengan Rania begitu menguras emosinya.
"Setelah aku mendapatkan kartu as nya, kita langsung temui dia buat kasih peringatan" Lanjut Ivan.
"Kamu nggak kasihan sama dia?" Tanya Aleena.
"Kamu kasihan? please lah sayang jangan terlalu baik, Rania itu licik banget. Kita nggak bisa bersikap lunak sama dia, yang ada dia semakin menjadi" ucap Ivan gemas. Ia tak suka pada perasaan Aleena yang terlalu halus dan menaruh belas kasihan yang terlalu tinggi.
"Enggak aku nggak kasihan" Aleena tertawa, melihat Ivan jengkel ternyata cukup menyenangkan. Ia harus bersikap kejam pada Rania, sudah cukup gadis itu berulah dan selalu menindas dirinya.
"Siapa takut" Aleena tertawa. Apa lagi yang harus ia takutkan? Ivan suaminya, pria itu berhak penuh atas dirinya. Ia bisa menerima hukuman-hukuman Ivan yang menyenangkan tanpa beban dan ganjalan mengingat status mereka kini sudah terikat dalam hubungan yang sah.
Namun mengingat Tom Cruise eh Albert Aleena merasa sedikit bergidik. Masih jelas dalam ingatan nya bagaimana rasa sakit akibat Albert yang menerobos goa nya yang masih begitu sempit.
🍁🍁🍁🍁
"Akhh sakit" Aleena menahan tubuhnya, baru kepala Albert yang berada di dalam dirinya namun masih terasa begitu perih pada intinya. Sepertinya ia belum terbiasa menerima benda asing apalagi ukuran Albert tidak kecil, meski Aleena tak begitu paham mengenai ukuran. Lagi pula seumur hidupnya baru Albert yang ia temui dan ia sama sekali tidak berharap bertemu wujud yang lain namun ia bisa menyimpulkan bahwa ukuran Albert cukup besar mengingat tubuhnya bagai terbelah saat pertama kali dimasuki olehnya.
Ivan dengan sabar memegang pinggang istrinya. Mereka tengah mencoba posisi baru agar Aleena merasa nyaman untuk melakukan sesi percintaan kedua mereka pagi ini sehabis sarapan.
__ADS_1
"Pelan-pelan" Bisik Ivan, ia berusaha menahan gelenyar hebat yang membuatnya ingin segera melahap habis tubuh istrinya. Namun ia harus sabar, ia tak bisa egois dengan hanya mementingkan dirinya sendiri.
Setelah cukup tenang, Aleena kembali menurunkan sedikit tubuhnya agar Albert bisa masuk lebih dalam. Aleena memejamkan matanya menahan pedih. Ia tak tau kenapa rasanya masih begitu sakit padahal ini bukan yang pertama kali.
Aleena membuka matanya dan menatap wajah suaminya yang terlihat memerah. Melihat kabut gairah di mata pria itu rasanya Aleena tak lagi memikirkan dirinya sendiri, memuaskan pria itu lebih penting sekarang. Melihat Ivan yang didera kenikmatan sungguh membahagiakan bagi Aleena.
Aleena menghela nafas lalu memejamkan kembali matanya dan menyentak tubuhnya agar keseluruhan dari milik Ivan masuk ke dalam dirinya. Aleena menahan jeritan meski ia kembali merasakan tubuhnya seakan terbelah.
Aleena mendengar *rangan dan des ahan Ivan saat merasakan keduanya telah menyatu, dan itu cukup mengalihkan rasa sakit. Gairah Aleena seakan tersulut, meski masih malu-malu namun naluri nya menuntun Aleena untuk mulai menggerakkan tubuhnya.
"Argh..." Des ahan kembali meluncur di bibir Ivan saat merasakan Albert bergesekan dengan dinding goa yang hangat. Ia merasakan cengkraman kuat yang mengaktifkan titik-titik kenikmatan nya.
Meski pergerakan Aleena masih begitu kaku namun tak mengurangi rasa yang seakan menenggelamkan keduanya. Ivan begitu terkesima melihat usaha Aleena menyenangkan dirinya, tubuh putih mulus itu meliuk dengan rambut yang berkibas mengikuti pergerakan nya. Belum lagi menyaksikan tarian kedua gunung nya seiring hentakan tubuh Aleena. Begitu seksi dan menggairahkan.
Ivan mengangkat kepalanya untuk meraih puncak gunung yang begitu manis dan menggemaskan. Kobaran hasrat nya nembuat Ivan tak bisa menahan lebih lama lagi untuk melahap dan merasakan puncak mungil merah jambu itu. Aleena mempercepat hentakan nya saat merasakan sesapan Ivan, seolah terkoneksi langsung pada bagian inti nya tiba-tiba ia merasa denyutan di bawah sana.
Rasa sakit yang sebelumnya mendera kini sepenuhnya bertukar tempat dengan rasa nikmat yang melenakan. Keduanya terus berpacu memberikan kepuasan pada masing-masing diri mereka.
Pagi yang indah diwarnai *rangan dan leng uhan sepasang manusia yang tengah memadu kasih. Keduanya terus saling memuja lewat sentuhan, sesapan dan hentakan tubuh mereka hingga pada akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka kejar.
🍁🍁🍁
Harap maklum, namanya juga pengantin baru. Mau ada masalah seberat apapun, bercinta tetap harus dong yah... 😉😉
__ADS_1