Affair Dengan Tunangan Sahabatku

Affair Dengan Tunangan Sahabatku
Extra Part 2


__ADS_3

"Sakit banget mas" keluh Aleena, matanya basah menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.


"Aku harus gimana? mau diusap-usap?" Ivan merasa panik namun ia berusaha tenang agar Aleena juga tenang. Tangan nya dengan sigap mulai mengusap perut istrinya yang terasa keras. Dokter bilang bayinya sedang mencari jalan lahir.


"Ayo sayang buruan temukan jalan lahirnya, kasihan mama kamu kesakitan" bisik Ivan sambil menciumi perut Aleena.


"Mas rasanya sakit banget" Keluh Aleena lagi, rasa sakitnya sudah semakin sering tapi dokter bilang baru bukaan 6. Aleena hampir tak kuat menahan. Namun saat membayangkan bayi mungil mereka semangat Aleena kembali bangkit.


"Bilang dokter buat operasi aja ya?" Ivan benar-benar tak tega melihat kondisi istrinya. Ia lelah berpura-pura tenang padahal hatinya ikut menjerit sakit. Ia tak menyangka Aleena akan merasa kesakitan begini akibat ulah Albert, padahal pada prosesnya begitu menyenangkan dan teramat nikmat. Ivan merasa Albert benar-benar egois. Saat Aleena menderita seperti ini ia tak bisa melakukan apapun untuk meringankan nya.


"Kalau operasi nanti kita cuma bisa memiliki 3 anak mas, padahal mama maunya kita punya banyak anak"


"Kamu masih ingin memiliki banyak anak sementara prosesnya sangat menyakitkan seperti ini? mama juga akan mengerti kalau kita cuma mampunya 3 sayang" Ivan tak percaya atas keinginan Aleena. Ia saja hampir kehabisan nafas saat melihat istrinya sedang kontraksi.


"Tapi aku maunya lebih dari 3, biar kamu banyak yang ngawasin juga. Jadi kamu nggak bisa macam-macam" Aleena menggenggam erat tangan Ivan saat kembali merasakan kontraksi. Nafasnya terengah. Ternyata benar perjuangan seorang ibu untuk menghadirkan buah hatinya ke dunia benar-benar mempertaruhkan nyawa.


"Ya ampun sayang pemikiran macam apa, lagi kesakitan begini sempat-sempatnya mikir begitu" ucap Ivan antara kasihan namun juga kesal.


"Mas sakitnya makin sering, panggilin dokter dong. Udah nggak kuat aku" keringat semakin banyak membasahi tubuh Aleena padahal ruangan itu ber Ac. Itu sudah cukup membuktikan betapa Aleena sangat kesakitan.


"Kalau bukaan nya masih 6 kita operasi aja. Aku juga uda nggak kuat ngeliat kamu kayak gini" Ucap Ivan sambil mencium tangan Aleena sebelum keluar memanggilkan dokter.


Tidak berapa lama dokter beserta perawat datang dengan tergesa. Mereka langsung memeriksa kondisi Aleena yang sudah 6 jam berjuang menahan sakitnya kontraksi.


"Bukaan nya uda sempurna. Sekarang saat nya ya" bisik sang dokter pada Aleena.


"Iya dok" Mata Aleena berbinar, ia menatap pada Ivan yang tampak khawatir.


Ivan meraih tangan Aleena dan menggenggamnya. Dadanya terasa sesak karena diliputi rasa khawatir yang besar. Ia kehilangan kata untuk sekedar menyemangati istrinya. Kali ini ia merasa menjadi pria tak berguna yang tak mampu berbuat apa-apa selain hanya diam dan menyaksikan kesakitan wanita tercintanya.

__ADS_1


Ivan memejamkan matanya tiap kali Aleena meremas tangannya dengan kuat. Doa tak henti ia lantunkan untuk keselamatan istri dan anak mereka. Tanpa sadar air mata telah menyusuri wajah pria itu dengan begitu banyak.


Wajah lelah Aleena begitu melukainya.


"Aku sangat mencintaimu Aleena, aku mencintaimu" Bisik Ivan mengiringi perjuangan istrinya untuk menghadirkan bayi mungil mereka.


Setelah hampir 30menit berjuang, suara tangis bayi akhirnya terdengar memenuhi ruangan diikuti nafas lega Aleena setelah sakit yang menusuk-nusuk perutnya hilang seketika. Aleena meneteskan air mata mendengar tangisan buah hatinya.


"Bayinya laki-laki. Tampan seperti papanya" Ucap sang dokter. Aleena menghela nafas lega sementara sejak tadi Ivan terus menangis sambil menciumi wajah Aleena.


🍁🍁🍁


Ivan memeluk Aleena yang baru saja meletakkan putra mereka di box bayi. Pria itu menciumi leher istrinya dengan nafas yang berat.


"Sayang, umur baby Ansel baru 3 minggu" ucap Aleena. Ia tau Ivan sudah sangat menginginkan dirinya.


"Jadi harus berapa lama lagi sayang" keluh Ivan berubah lesu.


"Bunuh saja aku sayang!" Ivan meringis membayangkan hari-hari kelam nya menahan hasrat yang selalu tak terkendali saat melihat Aleena.


"Kamu bukan satu-satunya suami di dunia ini yang harus berpuasa sayang. Jangan berlebihan" cebik Aleena. Tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa sangat iba.


Ivan merebahkan tubuhnya dan menghela nafas lelah. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar.


"S-sayang kamu mau apa?" Tanya Ivan panik saat tiba-tiba Aleena menelusup kan tangan ke dalam celananya.


"Nikmati saja sayang" bisik Aleena dengan sensual. Rasa iba pada suaminya menuntun Aleena untuk melakukan hal gila yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Tak apa untuk kali ini, Aleena mengusir segala rasa malunya.


"Akhh sayang" Ivan mendesis saat tangan halus Aleena mulai menyentuh miliknya. Aleena merasa tubuhnya ikut memanas saat merasakan benda itu telah berdiri dengan gagah.

__ADS_1


Ragu-ragu Aleena menggusur tubuhnya, ia juga menurunkan kain penutup bagian bawah tubuh Ivan. Hingga ia bisa melihat Albert telah berdiri dengan congkak tepat di depan wajahnya.


Dengan tangan bergetar Aleena meraih tubuh Albert, mengusap halus hingga terdengar erangan dari bibir Ivan. Aleena menatap sejenak wajah suaminya, ekspresi nikmat yang Ivan tunjukkan menyulut semangat Aleena. Membuat pria itu puas akan sangat membahagiakan dirinya.


Aleena mengenyahkan segala keraguannya, ia memutuskan urat malunya untuk sejenak. Ia memejamkan matanya dan mendekatkan bibirnya pada diri Albert yang ia rasa semakin keras.


"Sa-sayang kamu yakin?" tanya Ivan setengah terbangun, ia memegang kepala Aleena yang sudah kembali mendaratkan kecupan di kepala Albert.


"Nikmati saja sayang, jangan banyak bicara!" Aleena merasa kesal, pria itu tak tau betapa malunya ia kini.


"Ba-baiklah" Ivan merebahkan diri lalu memejamkan matanya. Ia pasrah menerima apa yang akan Aleena berikan padanya. Seperti titah sang ratu ia akan menikmati tanpa banyak bicara lagi.


"Arghhh sayangh" Ivan tak bisa menahan erangannya kala merasakan bagian bawah tubuhnya terasa hangat, ia membuka perlahan matanya, tampak Aleena juga sedang menatap padanya. Tubuh Albert tampak diselimuti oleh bibir seksi istrinya sungguh pandangan yang teramat indah.


Ivan kembali mende sah saat Aleena menaik turunkan kepalanya. Ia tak menyangka Aleena bisa melakukan hal segila ini hingga membuat Ivan kelimpungan. Tubuhnya dihempas kenikmatan yang begitu dalam. Des ahan Ivan semakin kuat seiring pergerakan Aleena yang semakin cepat hingga pertahanan Ivan terasa runtuh saat merasakan hisapan kuat bibir istrinya. Sesuatu terasa pecah di bagian sana, tubuh Ivan menggelepar merasakan kenikmatan yang terasa sempurna.


Ivan melihat istrinya berlari ke kamar mandi, namun tubuhnya terasa begitu lemah untuk mengejar Aleena untuk mengetahui apa yang sedang ia lakukan.


Ivan memejamkan mata, menikmati sisah-sisah pelepasannya.


"Nggak enak" Keluh Aleena yang sudah berada di sampingnya.


"Apanya yang nggak enak?" Ucap Ivan sambil mengulum senyum.


"Muntahan si Albert" Ucap Aleena kesal. Tawa Ivan pecah seketika.


"Maaf ya, tapi makasih banget yang tadi itu luar biasa" Wajah Aleena merona mengingat betapa liar dirinya beberapa waktu lalu.


"Kamu belajar di mana sayang? aku pasti ketagihan" Bisik Ivan yang semakin membuat Aleena didera rasa malu.

__ADS_1


"Nggak usah di bahas!" Aleena menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


🍁🍁🍁


__ADS_2