
Ivan dan Aleena melanjutkan makan setelah kepergian Rania. Mereka sengaja makan siang terlebih dahulu sebelum pulang karena saat sudah berdua maka sudah dapat dipastikan bahwa makan bukan lagi menjadi prioritas mereka. Waktu mereka pasti akan banyak dihabiskan di atas ranjang.
Saat sedang fokus menikmati makanan mereka, Ivan dan Aleena harus terganggu saat mendengar keributan pengunjung di sebuah meja yang tak jauh dari mereka. Keduanya menoleh pada sumber keributan. Tadinya mereka akan memilih tak peduli karena mereka terbiasa untuk tidak mau terlalu tau pada urusan orang lain, namun mereka membulatkan matanya secara penuh saat menyadari apa yang tengah terjadi.
Ivan dan Aleena kompak berdiri dan mendekat ke arah tiga orang yang tengah bertikai.
"Kamu tega selingkuh dengan ja *lang ini mas? kamu jahat!!" ucap sang wanita sambil menangis. Wanita itu tak lain adalah istri dari papa Aleena yang melabrak suaminya tengah berduaan dengan seorang wanita. Yang lebih mengejutkan bagi keduanya adalah saat menyadari bahwa wanita yang tengah bersama sang papa adalah Sarah.
"Kamu salah paham Sinta, kami hanya sedang meeting" Ucap pria itu berusaha mengelak.
"Nggak usah menyangkal mas, aku uda tau semuanya, aku sudah memantau kamu beberapa hari ini. Ja *lang ini semula adalah simpanan rekan bisnis kamu dan sekarang kamu ikut mencicipinya. Kamu menjijikkan mas!" Keduanya terus beradu mulut, tak peduli pada pengunjung yang menyaksikan pertengkaran mereka. Sementara Sarah hanya mematung.
Aleena tersenyum melihat kesakitan yang dirasakan ibu tirinya. Katakan lah ia jahat namun ia tak bisa memungkiri bahwa dirinya merasa sangat puas. Kini istri papa nya itu merasakan kepedihan seperti yang mamanya rasakan saat wanita itu hadir dalam rumah tangga kedua orang tua Aleena dan menghancurkan kebahagiaan mereka dulu. Meski tidak harus melalui tangan sang mama namun akhirnya wanita itu merasakan pembalasan nya lewat tangan Sarah. Cepat atau lambat karma akan selalu datang bagi seorang perusak.
"Ayo kita selesaikan di rumah" papa Aleena menarik istrinya, wanita itu semakin histeris saat papa Aleena masih sempat memberikan uang pada Sarah. Namun ia tak berdaya karena papa Aleena sudah menarik wanita itu untuk segera keluar dari sana.
Sarah tampak cuek meski banyak mata yang menyaksikan aksi pelabrakan terhadap dirinya meski mereka menatap jijik dan sinis padanya. Sepertinya nyali gadis itu sudah tertempa dengan baik. Namun Sarah menciut seketika saat menyadari keberadaan Ivan dan Aleena yang ikut menyaksikan apa yang terjadi sebelumnya. Sarah dengan cepat ingin meninggalkan tempat itu namun Aleena dan Ivan mencegat nya.
__ADS_1
"Kok buru-buru ngobrol dulu dong" Ucap Aleena sinis.
"Mau apa sih, aku sibuk!" Ucapnya ketus
"Kok ketus banget, kamu mau jadi calon emak tiri aku jalur nikung kan ya?" lanjut Aleena dengan senyum mengejek.
"Dih nggak jelas" Sarah menanggapi Aleena dengan tak kalah sinis.
"Om-om yang bareng sama kamu itu mertua aku. Papanya istri aku, jadi kamu bakalan jadi emak tirinya istriku artinya emak mertua aku juga, harusnya kamu bersikap baik sama kita" timpal Ivan sambil terkekeh.
Wajah Sarah merah padam. Ia merasa begitu dipermalukan oleh sepasang suami istri itu.
"Drama yang menyenangkan" bisik Aleena pada suaminya sambil tersenyum puas keduanya kembali ke tempat duduk mereka dan melanjutkan makan yang sempat terjeda. Ivan mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi istrinya yang malah terlihat senang.
"Kamu nggak sedih?" tanya Ivan.
"Ngapain sedih?" Aleena balik bertanya dengan cuek. "Atau kamu sebenar nya yang sedih karena kekasihmu ketauan menjadi selingkuhan papa?" Aleena menatap tajam pada Ivan yang langsung menatap shock pada istrinya.
__ADS_1
"Tunggu hukuman mu di rumah nyonya Handono. Seenaknya saja menuduh, dasar betina!" ucap Ivan begitu dekat di telinga Aleena. Sang istri tersenyum kecut. Tanpa melakukan kesalahan pun Ivan memang selalu menghukumnya.
"Maksudku papa kamu ketauan berselingkuh dan dilihat oleh banyak orang, tadi aku juga sempat melihat ada yang merekam kejadian itu, nggak mungkin buat koleksi pribadi pasti nanti bakalan di upload di media sosial. Kamu tau sendirilah zaman sekarang apa-apa diviralin. pasti reputasi papa akan rusak andai peristiwa ini diviralin sayang." lanjut Ivan.
"Biarin aja, biar tau rasa. sekali-sekali papa memang harus dikasih pelajaran, dia sendiri yang dengan sukarela menghancurkan dirinya sendiri. Papa tu uda tua harusnya tau apa yang baik dan yang enggak buat dia" ucap Aleena dingin. Setelah apa yang papanya lakukan padanya maupun pada sang mama Aleena seolah telah mati rasa. Papanya sama sekali tak mempedulikan nya lagi semenjak kenal dengan wanita yang menjadi istrinya sekarang. Dan disaat seperti ini tak ada salah nya kan jika ia memilih tak peduli?
"Sebagai sesama wanita kamu nggak kasihan sama mama tiri kamu?" Tanya Ivan lagi, ia begitu penasaran. Biasanya sesama wanita memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Mereka akan saling bela dengan membabi buta jika berkaitan dengan perselingkuhan seorang pria, tak peduli benar atau salah.
"Jangan lupa dia juga melakukan hal serupa dulu mas. Dia melukai hati mama dengan tanpa perasaan. Sekarang dia bisa merasakan apa yang mama rasakan dulu anggaplah sedang menikmati karma yang ia semai dulu. Maaf untuk mengatakan nya, aku merasa sangat puas mas" Jawab Aleena sambil menyunggingkan senyum. Ia tak pernah merasa sepuas sekarang.
'Lihatlah ma, dia sudah mendapatkan karma nya lewat orang lain, Aleena tak perlu mengotori tangan Aleena untuk membalas perbuatan nya yang sudah membuat kita sengasara.' Bisik Aleena. Ia berharap sang mama akan merasa bahagia di keabadian nya.
Ivan terpana melihat sisi lain Aleena yang biasanya terlihat lembut dan perasa. "Berkali-kali disakiti Rania saja kamu masih menyisahkan rasa iba pada Rania Al. Tapi pada mama tiri kamu, kamu malah menjadi sosok yang berbeda yang seolah tanpa belas kasih" ucap Ivan.
"Rania hanya menyakitiku mas, bukan mama ku. Sementara istrinya papa tidak hanya menyakiti aku tapi juga menyakiti dan menghancurkan kebahagiaan mama" Jawab Aleena. Jangan salahkan jika ia berubah kejam jika ada yang menyakiti orang yang ia sayangi. Aleena tidak menaruh dendam, bahkan selama ini tak ada secuil niat pun di hatinya untuk membalas wanita itu. Tapi sebagai manusia biasa ia juga tak menampik bahwa ia puas saat orang yang pernah begitu menyakiti nya terutama mamanya merasakan balasan yang sama.
"Baiklah aku mengerti. Sekarang cepat habiskan makanan kamu sayang, Albert uda bosan nih. Pengen main ke padang rumput" ucap Ivan kemudian.
__ADS_1
🍁🍁🍁