
"Papa kangen sayang" Sang papa menyambut dengan senyum lebar nya. Pria itu merangkul tubuh Aleena dan memeluk putrinya itu. Kecupan mendarat di puncak kepala Aleena.
Aleena mengerutkan kening nya atas perlakuan aneh papanya. Bukan tak senang, hanya saja ini terlalu mencurigakan.
"Mau makan apa?" Tanya papa Aleena saat keduanya sudah duduk saling berhadapan.
"Papa belum pesan?" tanya Aleena melihat meja di hadapan nya masih kosong. Sebenar nya Aleena merasa heran saat papanya tiba-tiba mengajak nya bertemu. Setelah beberapa tahun ini pria itu begitu tak peduli padanya. Bahkan dulu saat Aleena meminta bertemu ia harus menunggu beberapa hari sampai papanya bersedia untuk ditemui
"Belum sayang, papa masih nungguin kamu" dulu sebelum papanya bertemu wanita lain dan mencampakkan mama Aleena pria itu memang selalu memanggilnya sayang, namun setelah semua yang terjadi ditambah sikap pria itu beberapa tahun terakhir membuat panggilan itu terdengar aneh dan asing di telinga nya.
Papa Aleena memanggil pelayan dan memesankan makanan untuk mereka. Karena Aleena tak begitu lapar ia hanya memesan kentang dan sosis goreng serta jus jeruk.
"Suami kamu nggak ikut?" tanya papa Aleena.
"Mas Ivan ngajarnya full hari ini" Jika tidak tentu pria itu sudah ikut bersamanya. Mana mungkin Ivan akan rela jauh-jauh dari Aleena jika dirinya sedang tak ada urusan.
"Papa ada apa ketemu Aleena?" Tanya Aleena tanpa basa basi lagi.
"Nggak apa-apa. Emang nggak boleh papa mau ketemu putri papa?" Aleena ingin tertawa mendengar ucapan tak masuk akal pria itu.
"Biasanya papa sibuk" timpal Aleena.
"Yah walaupun sibuk, meluangkan waktu untuk buah hati papa tetap saja suatu keharusan sayang" Kenapa baru sekarang? kemana saja pria itu selama hampir 3 tahun ini?
"Makan dulu ya, abis ini baru bicara" Ucap papa Aleena saat pelayan sudah menghidangkan makanan untuk mereka.
"Suami kamu kenapa malah milih jadi guru? kenapa nggak ambil alih perusahaan papanya?" Sang papa kembali memulai obrolan di sela makan nya.
"Karena mas Ivan lebih suka mengajar pa. Lagian perusahaan papa Tio uda dipegang sama suaminya kak Celine"
__ADS_1
"Oh gitu, tapi dengar-dengar dari mertua kamu Ivan juga punya bisnis selain mengajar?" Perasaan Aleena mulai tak enak saat sang papa mulai mengorek kehidupan suaminya.
"Iya" Aleena sungguh tak berminat untuk membahas hal ini.
"Kamu bahagia bersama Ivan? dia baik sama kamu?"
"Mas Ivan baik pa, tentu saja Aleena sangat bahagia bersama mas Ivan" Jawab Aleena. Ia meraba-raba akan ke mana sang papa membawa pembicaraan ini.
"Syukurlah, papa lega jika Ivan bisa membahagiakan kamu" pria itu tersenyum, senyuman yang cukup tulus namun tetap saja tak membuat Aleena tenang.
Hening menyelimuti keduanya saat papa Aleena tak lagi mengajak Aleena bicara. Pria itu fokus menikmati makanan nya, sementara Aleena juga tak berminat untuk memulai pembicaraan. Entahlah, rasa kecewa nya pada pria itu belum bisa ia hilangkan. Kenangan indah nya dulu seakan sirna berganti kenangan pahit yang pria itu semai akhir-akhir ini.
"Al, papa tau beberapa hari yang lalu kamu menyaksikan apa yang terjadi pada papa" Sang papa memulai pembicaraan ketika ia sudah menghabiskan makanan nya.
"Iya Aleena lihat" Aleena tau apa yang papanya maksud. Ia mencari-cari penyesalan dan rasa malu di wajah pria itu, namun tak ada dan itu membuat Aleena kecewa.
"Lagian kenapa papa melakukan hal yang begitu memalukan? bukan nya dulu papa bilang istri papa itu sudah sempurna? kenapa papa kembali mencari kehangatan pada wanita lain?" Aleena melihat wajah papanya memerah, sepertinya pria itu sangat marah pada nya. Namun Aleena sama sekali tak peduli.
"Papa butuh hiburan dari penat nya pekerjaan" alasan yang sama seperti yang ia ucapkan dulu pada mama Rossa.
"Harus dengan cara itu?" Aleena tak habis fikir.
"Bukan ini yang mau papa bahas sama kamu Al" Pria itu tampak kesal.
"Ya jadi apa?"
"Papa tinggal menunggu keputusan dari perusahaan mertua kamu. Kalo sampe papa kalah tender maka papa benar-benar habis. Tapi kalo papa berhasil mendapatkan kerja sama dengan mertua kamu, kerugian papa bisa tertutupi dari keuntungan kerja sama itu" Yah semakin jelas tujuan papa Aleena mengajaknya bertemu.
"Al, papa mau minta tolong bujuk mertua kamu supaya mau menerima kerja sama yang papa ajukan" jelas sudah, memang tak akan mungkin pria itu mengajak bertemu karena merindukan Aleena.
__ADS_1
"Aleena minta maaf pa, tapi Aleena nggak berani ikut campur pada urusan yang Aleena nggak ngerti."
"Apanya yang ngga berani Al, kamu tinggal bilang aja sama pak Tio untuk menerima kerja sama yang papa ajukan" ucap pria itu, papanya terlihat begitu kesal namun berusaha menahan mengingat ia membutuhkan Aleena.
"Aleena nggak berani pa, kalau memang kerja sama yang papa ajukan itu bisa menguntungkan kedua belah pihak Aleena yakin papa Tio akan menerimanya meski tanpa bujukan dari Aleena" tolak Aleena lagi. Bukan ia tak kasihan melihat kesulitan papanya. Hanya saja Aleena tidak mau dijadikan alat oleh sang papa, Aleena yakin jika ia membantu papanya kali ini hal itu akan menjadi kebiasaan.
"Perusahaan saingan papa untuk memenangkan kerja sama itu cukup berat Aleena"
"Papa percaya diri saja kalau memang program papa itu bagus"
"Kamu nggak mau bantuin papa?" Suara pria itu mulai meninggi.
"Bukan nggak mau, Aleena nggak bisa pa. Aleena nggak mau mencampur adukkan hubungan pribadi dengan pekerjaan. Papa harus profesional" ucapan Aleena menyulut emosi Gunawan.
"Tapi kondisi papa sedang terdesak Al, andai rekan bisnis papa tidak membatalkan kerja sama karena skandal papa tempo hari papa juga nggak akan terlalu mengharapkan kerja sama dengan mertua kamu itu"
"Makanya papa berfikir dulu sebelum bertindak, istri papa juga harusnya bisa mengendalikan diri kalau nggak mau mengalami kerugian seperti ini. Jangan asal melabrak, di tempat umum lagi. Harusnya dia belajar dari mama, nggak peduli sesakit apapun mama nggak pernah berniat menghancurkan papa" puas sekali rasanya bisa mengatakan hal ini.
"Kamu nggak udah nasehatin papa Aleena. Jangan kurang ajar kamu. Papa ke sini mau minta bantuan sama kamu bukan minta nasehat" Hilang sudah segala sikap manis yang tadi pria itu tunjukkan.
"Maaf Aleena nggak bisa bantu apa-apa"
Ucap Aleena datar.
"Sombong sekali kamu Aleena. Durhaka kamu sama papa. Kamu nggak ada rasa terima kasih sama sekali padahal papa sudah banyak berkorban buat kamu selama ini"
"Aleena nggak bermaksud durhaka, Aleena cuma mau papa berubah. Sadarlah pa, mungkin kejadian ini teguran buat papa karena menyia-nyiakan mama. Papa bahkan nggak peduli saat Aleena butuh bantuan untuk pengobatan mama, jangan lupa papa juga menjual rumah yang Aleena tinggali selepas kepergian mama. Papa tak pernah peduli pada hidup Aleena setelah itu"
🍁🍁🍁
__ADS_1