
"Ada apa?" Aleena tersenyum getir saat papanya datang langsung menanyakan tujuan Aleena mengajaknya bertemu, pria itu tak menanyakan kabar apalagi menyatakan kerinduan pada putri nya.
Untuk pertemuan ini saja Aleena harus meminta beberapa kali baru pria itu mengiyakan. Ia sengaja mengajak papanya berbicara berdua dulu sebelum nanti Ivan dan papa nya datang secara resmi melamar dirinya pada sang papa. Ia tak mau nanti sang papa malah mengucapkan kata-kata yang bisa menyinggung Ivan dan papanya
"Aleena mau izin untuk menikah pa. Setelah ini calon suami Aleena dan papanya ingin menemui papa untuk melamar Aleena secara resmi" Ucap gadis itu tanpa basa basi.
"Menikah? sama siapa? pekerjaan nya apa"
"Namanya Ivander Handono, dia guru di Pelita Harapan tempat Aleena mengajar. Kebetulan mas Ivan dulu juga guru Aleena" Aleena melihat senyum meremehkan sang papa dan itu membuat Aleena menahan kecewa.
"Guru? berapa sih gajinya seorang guru? kamu yakin bisa hidup hanya dengan mengandalkan gaji yang tak seberapa?" Sungguh Aleena menahan geram atas penghinaan sang papa.
"Sampai detik ini Aleena masih hidup pa, dan tentu saja dari gaji Aleena bekerja di Pelita Harapan, Aleena nggak pernah kekurangan kalo soal biaya hidup. Lagipula materi nggak menjamin kebahagiaan hidup pa, Aleena nggak butuh pria kaya tapi nggak setia" Papa Aleena tersenyum sinis mendengar ucapan putrinya. Ia tau Aleena sedang menyindir dirinya. Aleena sengaja tak memberitahu papanya tentang bisnis menjanjikan yang juga Ivan geluti. Aleena ingin membiarkan pria itu tau dan malu dengan sendirinya suatu saat nanti
"Kalau kamu mau papa bisa mengenalkan kamu dengan pria kaya anak dari rekan bisnis papa" Ucap pria itu masih dengan senyum meremehkan yang setia tersungging di bibirnya
"Nggak pa terima kasih, Aleena uda bilang nggak butuh pria kaya. Aleena hanya mau menikah dengan mas Ivan. Jadi kapan papa bisa ditemui oleh mas Ivan dan papanya?"
"Baiklah semoga kamu tidak menyesal dengan keputusan kamu ini. Besok malam papa free silahkan jika mereka ingin menemui papa. Datang saja ke rumah nanti papa kirim alamatnya" ucap papa Aleena dengan keangkuhan nya. Jika saja tak ingat ucapan Ivan, Aleena tak akan sudi menemui pria ini lagi. Semakin hari level siksaan papa nya semakin menjadi.
"Tapi Aleena mohon papa jangan sampai mengecewakan mereka. Ini permintaan terakhir Aleena pada papa. Tolong jangan halangi pernikahan ini." Semoga saja papanya tak berulah. Sudah cukup kesakitan yang pria itu berikan padanya
"Baiklah tidak usah takut, papa pergi dulu. Masih ada meeting yang haru papa hadiri" Ucap pria itu sambil beranjak dari tempat duduk.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru pa? papa nggak mau makan berdua Aleena dulu? papa nggak kangen Aleena?" Aleena tau sang papa tak akan peduli, namun entah kenapa ia begitu ingin mengatakan hal itu. Jauh di lubuk hatinya ia juga tak ingin berlama-lama berada di dekat papanya.
"Papa sibuk Aleena" Pria itu berlalu begitu saja dari hadapan Aleena yang tersenyum pahit.
Aleena menikmati makanan di piring nya dalam kesendirian. Rasa kecewa pada sang papa masih memenuhi benaknya. Aleena berharap bersama Ivan semua kesedihan nya akan sirna.
Mengingat Ivan Aleena segera membuka ponselnya, namun tak ada pesan dari pria itu. Akhirnya Aleena berinisiatif mengirimkan pesan lebih dulu.
"Sayang aku uda selesai ketemu papa" Pesan nya terkirim namun belum ada tanda terbaca dari Ivan. Mungkin pria itu sedang ada pekerjaan.
Aleena melanjutkan makan nya agar bisa segera pulang, ia berharap Ivan sudah berada di apartemen. Karena hanya bersama Ivan perasaan resah di hatinya bisa hilang dengan sepenuhnya.
Namun saat mengangkat kepalanya dan melayangkan pandangan nya di ruangan restoran tempat nya berada mata Aleena menangkap sesuatu yang menghujam hatinya dengan begitu dalam.
Aleena segera memalingkan wajahnya, entah mengapa ia tak ingin Ivan tau keberadaan dirinya. Aleena ingin mengawasi Ivan bersama wanita itu. Gadis itu masih berusaha untuk mempercayai Ivan meski sebagian besar akal sehatnya sudah dikuasai kekecewaan.
Aleena mengeluarkan ponselnya, membuka pesan yang ia kirimkan pada Ivan dan belum menunjukkan bahwa pesan nya sudah terbaca. Biasanya Ivan selalu fast respon terhadapnya.
Aleena memberanikan diri menelfon pria itu, dengan ditutupi kertas menu Aleena menatap ke arah Ivan. Tampak pria itu membuka ponselnya, dan terdengar telefon disambungkan. Aleena lega Ivan masih mengangkat telfon nya.
"Hallo?" Aleena kembali kecewa. Tak ada panggilan sayang dari Ivan.
"Lagi di mana sayang? kok pesan aku nggak dibaca?"
__ADS_1
"Aku lagi ada kerjaan. Nanti aku buka pesan nya. Udah ya nanti aku hubungi lagi" dan kekecewaan Aleena semakin bertambah saat Ivan langsung mematikan panggilan darinya.
Dada Aleena terasa panas dengan denyutan nyeri yang terasa menyayat. Aleena mengambil gambar Ivan yang tampak belakang namun wajah Sarah yang tengah tersenyum tampak begitu jelas.
Jika memang Ivan berkhianat maka tak perlu berlama-lama untuk ada di sisi pria itu. Aleena tersenyum pahit menyadari betapa ia telah jatuh terlalu dalam pada pesona pria itu hingga ia begitu percaya bahwa Ivan sangat mencintainya.
Aleena berjalan keluar dari restoran tanpa menoleh ke arah Ivan. Ia berharap pria itu tak melihat keberadaan nya karena untuk sekarang ia belum ingin mendengarkan drama dan penjelasan apapun dari Ivan.
Setelah memasuki taxi Aleena tak lagi bisa menahan air matanya. Dadanya terasa begitu sesak, terlalu sulit untuk berfikir positif. Semua gelagat yang Ivan tunjukkan begitu mengarah pada pengkhianatan. Mungkinkah ini karma karena dirinya hadir dalam kehidupan Ivan di saat ia masih bersama Rania? Aleena menghapus kasar air matanya ia merasa tak pantas untuk menangis, ternyata benar selalu ada karma untuk setiap perbuatan buruk.
Setelah beberapa saat Aleena tiba di apartemen Ivan, namun Aleena terdiam sejenak. Ia merasa tak bisa berada di sini dulu. Ia butuh menenangkan dirinya agar masalah nya dan Ivan tidak semakin rumit.
"Pak putar balik ya" Aleena menyebutkan tujuan nya pada sopir taxi. Ia memutuskan menyendiri untuk sesaat.
Aleena membuka ponselnya, membuka chat room dengan Ivan lalu mengirimkan foto yang sempat ia ambil.
"Selamat menikmati kebersamaan mu dengan nya. Terima kasih untuk kebohongan kamu"
Aleena segera mengirimkan nya agar Ivan tau bahwa ia kecewa dan agar pria itu tau bahwa Aleena melihat kebersamaan nya dengan Sarah.
Dengan begitu Ivan tak perlu kebingungan memikirkan kenapa ia pergi jika memang pria itu mencarinya. Tidak, Aleena tak bermaksud melarikan diri dalam waktu yang lama, ia tak terbiasa lari dari masalah. Hanya saja untuk sekarang ia ingin menepi beberapa waktu.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Drama sebelum pernikahan selalu ada kan ya?