
Tubuh Aleena terasa remuk setelah digagahi habis-habisan oleh suaminya. Namun anehnya ia justru merasa begitu bahagia.
Aleena menyunggingkan senyum sambil mengusap perutnya saat teringat ucapan Ivan sehabis bercinta beberapa saat yang lalu. Ivan tiba-tiba mengusap perutnya sambil mengatakan "Semoga benih yang aku tabur segera tumbuh di sini" mata Ivan berbinar saat mengucapkan nya. Aleena mengangguk dengan wajah yang tak kalah bahagia. Ia lega karena Ivan juga menginginkan banyak anak dalam pernikahan mereka, dengan begitu Aleena bisa memenuhi permintaan mama nya.
Aleena memandangi wajah Ivan yang tampak terlelap setelah melahap habis dirinya. Terlihat begitu tampan dan meneduhkan. Dulu Ivan hanya bisa ia pandangi dari kejauhan, terlalu mustahil untuk ia gapai. Bahkan Aleena tidak berani meski hanya sekedar bermimpi untuk memiliki Ivan, namun sekarang pria telah resmi menjadi miliknya.
Aleena memberanikan diri mendaratkan kecupan di kening dan bibir Ivan. Seketika wajah Aleena memanas, ia merasa malu karena diam-diam mencuri ciuman pria itu.
"Beri aku satu ciuman lagi di sini" Aleena terperanjat saat mendengar suara berat Ivan, jari pria itu mengetuk-ngetuk bibirnya. Wajah Aleena semakin merona saat melihat senyum penuh arti Ivan padanya.
"Harusnya lakukan saat aku sedang sadar, ayo ulangi sekali lagi" Aleena memalingkan wajahnya. Ia benar-benar merasa kehilangan muka karena ketahuan mencuri ciuman pria itu. Meski Ivan adalah suaminya namun Aleena masih merasa malu.
"Apanya, aku tidak mengerti" Aleena berusaha mengelak.
"Jangan pura-pura sayang" Ivan tiba-tiba menarik tangan Aleena hingga sang istri terjatuh menubruk tubuhnya. Ivan dengan cepat mengubah posisi hingga Aleena berada di bawah tubuhnya, Ivan begitu erat menggenggam pergelangan tangan gadis itu.
Ia menatap wajah Aleena sambil menyeringai, belum sempat Aleena menguasai keadaan Ivan sudah lebih dulu menyesapkan wajahnya pada wajah Aleena, ia mel *umat bibir Aleena dalam. Ivan menggigit bibir Aleena agar istrinya membuka mulutnya agar ia bisa menyapa dan membelit lidah Aleena. Lalu terjadilah pergumulan panas seperti yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu.
Suasa kamar kembali memanas, dipenuhi lenguhan dan *rangan keduanya. Satu sesi percintaan kembali terjadi menjelang makan siang mereka.
🍁🍁🍁
__ADS_1
"Kalian benar-benar jahat" ucap Rania dengan wajah terlukanya.
"Berkacalah Rania! jangan selalu melemparkan kesalahan pada orang lain. Tanyakan pada hatimu siapa penjahat yang sebenar nya. Kamu terus saja memfitnah Aleena. Bahkan karena drama yang kamu ciptakan begitu banyak orang yang terhasut hingga ikut menghujat aku dan Aleena" ucap Ivan geram. Sebenarnya Ivan sudah tidak ingin melihat wajah Rania lagi. Namun Ivan sudah pastikan bahwa ini terakhir kalinya ia melihat gadis itu. Ia yakin Rania tak akan berani mengusik kebahagiaan nya bersama Aleena.
"Apa yang uda kalian lakuin ke aku tu uda kelewatan. Kalian pantas dihujat" Rania begitu kesal saat akun media sosialnya hilang, ia tau Ivan yang berulah. Belum lagi ancaman Ivan sehingga mau tidak mau ia menemui sepasang suami istri yang sejak tadi saling menautkan jarinya, mereka seperti sengaja ingin membuat hati Rania panas dengan kemesraan mereka. Rania benar-benar terluka dan merasa sakit hati yang teramat dalam pada Aleena dan Ivan.
"Lantas menurut kamu apa yang uda kamu lakuin ke aku selama ini nggak kelewatan?" ucap Aleena tajam.
"Tentang ucapan ku yang mengatakan bahwa kamu peliharaan sugar daddy? kamu memang simpanan Al, nggak usah munafik! ada berapa pria yang sudah menikmati tubuh kamu itu!" Rania tersenyum sinis, apalagi saat melihat kilatan emosi di wajah Ivan, Ia merasa menang.
"Jaga bicaramu! istriku wanita yang suci, apa perlu aku perlihatkan darah yang menunjukkan kesucian istriku di sprei yang kami gunakan melewati malam pertama kami?" Hati Rania seperti ditikam berulang kali mendengar ucapan Ivan.
"Kamu sangat berbakat memainkan banyak peran lalu melemparkan tuduhan pada orang lain. Kamu meneriaki aku sebagai seorang simpanan padahal kamu sendiri adalah simpanan!" Wajah Rania memucat mendengar ucapan Aleena yang penuh penekanan.
"Siapa dokter Brata?" wajah Rania semakin memucat saat Ivan menyebutkan nama dokter yang menjadi dokter pembimbing koas nya.
"Lebih baik berhenti mengusik hidupku dan Aleena. Atau semua skandal kamu dan dokter Brata aku buka di media. Tidak hanya kamu yang akan menuai malu, papamu yang banyak disegani oleh orang pun akan menanggung malu atas ulah putri kesayangan nya" Ivan menyeringai membuat Rania semakin memucat. Ia tau ancaman Ivan tidak main-main.
"Atau kamu mau aku menceritakan pada papamu atau istri dokter Brata lebih dulu sebagai percobaan? kamu bisa bayangkan bagaimana reaksi mereka" tanya Ivan sambil tersenyum sinis.
"Kalian mengancam ku? aku tidak takut. Orang tuaku dan siapapun nggak akan percaya pada ucapan kalian. Mereka pasti tau bahwa kalian hanya mengarang cerita"
__ADS_1
Rania masih mencoba bersikap angkuh meski hatinya diliputi rasa takut yang begitu besar
"Apa menurut kamu aku begitu bodoh hingga memberitakan sesuatu tanpa bukti? Atau kamu juga mengira ini hanya sebuah ancaman?" Ivan merogoh ponselnya dan mengirimkan foto yang begitu intim antara Rania dan dokter Brata pada gadis itu.
Tampak jelas tubuh Rania terlihat melemah. Ia berulang kali menggelengkan kepalanya.
"Masih banyak foto dan video serta bukti chat yang jauh lebih menarik dari pada yang aku kirimkan padamu ini Rania. Jadi bagaimana? apa kamu tidak merasa takut? Ketik kamu berusaha mengusikku maka tunggulah kehancuran mu Rania" Ini kali pertama Rania melihat sisi lain dari Ivan yang begitu mengerikan.
"Berubah lah Ran, tidak semua yang ada di dunia ini bisa kamu genggam semau kamu. Nggak semua hal bisa berada di bawah kendali kamu" Ucap Aleena, ia berharap sahabat nya itu bisa menjadi lebih baik.
"Sekarang pergilah. Pilihan ada di tangan mu, maka fikirkanlah ucapan ku. Kamu tau aku tidak pernah main-main, jadi berhentilah berulah" ucap Ivan dingin. Rania dibuat tak berdaya. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, Ia benar-benar sudah kalah. Bukti yang Ivan tunjukkan begitu jelas hingga ia tak bisa mengelak lagi.
Rania beranjak dari duduk nya, tanpa kata ia meninggalkan Aleena dan Ivan yang menghela nafas lega.
"Semoga saja usaha kita kali ini berhasil, dan Rania benar-benar tak akan mengusik kehidupan kita lagi" Gumam Aleena sambil menatap kepergian Rania.
"Kakak yakin kali ini dia benar-benar kapok"
"Yah semoga saja, dan semoga Sarah juga nggak akan datang lagi untuk merecoki hidup kita mas"
"Jangan lupa tambahkan Gio, semoga dia tidak berniat untuk kembali mendekati istriku" ucap Ivan.
__ADS_1
🍁🍁🍁