
Baru beberapa jam Ivan pergi Aleena bukan nya merasa tenang malah semakin resah. Sebesar itu ternyata pengaruh pria itu bagi diri Aleena. Ia tak memungkiri semua beban nya seakan hilang saat bersama Ivan yang begitu peduli padanya. Ia merasa berharga dengan semua kasih sayang yang pria itu berikan.
Aleena risau, ia terlanjur mengusir Ivan dan sok-sok an ingin sendiri. Tentu saja gengsi nya akan jatuh andai ia tiba-tiba pulang ke apartemen atau meminta Ivan datang sementara tadi ia begitu jual mahal pada Ivan meski pria itu begitu berharap Aleena mengizinkan nya tinggal.
Aleena terlonjak girang saat Ivan menelfon nya. Namun Aleena tak langsung menjawab, ia membiarkan Ivan menunggu terlebih dahulu meski ia sudah sangat tidak sabar untuk menjawab panggilan nya. Aleena masih ingin bersikap jual mahal pada pria itu.
Saat panggilan ke tiga Aleena baru mengangkat panggilan nya.
"Ada apa?" Tanya Aleena. Ia sengaja menjawab dengan nada malas padahal diam-diam ia tersenyum bahagia.
"Sayang, udahan dong ngambek nya. Nggak kuat ni nggak ada kamu. Nunggu besok kayak nya lama banget Al. Aku ke sana ya?" Aleena kembali tersenyum lebar.
"Nggak" Aleena pura-pura tegas padahal hati nya cemas. Gadis itu takut Ivan menuruti permintaan nya. Padahal ia juga berharap Ivan datang menemaninya. Hati mereka diam-diam saling terikat.
"Al please sayang, aku kangen kamu"
"Kan baru pisah beberapa jam yang lalu" Ucap Aleena.
"Iya tapi rasanya kayak uda bertahun-tahun sayang. Jangan siksa aku kayak gini dong"
"Salah sendiri bohongin aku"
"Kan aku uda jelasin semuanya sayang, aku juga uda minta maaf. Aku ke sana ya? boleh?" Ivan terus memohon, Aleena merasa menang.
"Ya udah terserah deh" Ucap gadis itu pura-pura kesal padahal ia merasa sangat bahagia. Dengan begini gengsinya tetap terjaga sementara rindunya terobati.
"Beneran boleh?" Ivan terlonjak senang.
"Iya"
__ADS_1
"Makasih ya, aku sayang kamu" Aleena tak menjawab lagi. Aleena mengulum senyum, tak sabar menantikan kehadiran Ivan.
Aleena menoleh ke arah pintu saat terdengar bel berbunyi. Tak mungkin jika Ivan sampai secepat ini, bahkan menyentuh angka 5 menit saja belum.
Gadis itu berjalan menuju pintu dan membukanya, benar saja tampak Ivan tersenyum lebar padanya.
"Ka-kamu? kok cepat?" Aleena setengah shock melihat nya.
"Uda kangen banget. Aku terbang ke sini nya" ucap Ivan sambil terkekeh. Ia langsung memeluk Aleena erat dan menciumi wajah gadis itu.
"Jangan-jangan dari tadi kamu nggak pulang?" Aleena menatap penuh selidik pada pria itu.
Seringai jahil pria itu cukup menjadi jawaban bagi Aleena. Ia menggelengkan kepalanya pada tingkah Ivan.
"Aku sengaja menyewa kamar sebelah" ucap Ivan.
"Ih nyebelin kamu tuh" Cebik Aleena.
"Jangan seperti ini lagi sayang, aku nggak kuat. Kayaknya aku mesti nyiapin borgol supaya kamu nggak kabur-kaburan kalo lagi ada masalah" ucap Ivan menenggelamkan Aleena dalam tatapan mata legam nya.
"Kamu juga jangan coba-coba bohongin aku lagi. Aku nggak akan kasih kesempatan lagi buat kamu kalo sampai bohongin aku" ancam Aleena.
"Iya janji" Ivan menyesapkan wajahnya pada ceruk leher Aleena. Kembali dapat memeluk Aleena bagaikan mimpi baginya. Tadinya ia begitu ketakutan membayangkan gadis itu benar-benar meninggalkan nya. Ia tak akan sanggup jauh dari gadis itu.
🍁🍁🍁
Ivan menggenggam erat tangan Aleena saat mereka turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah papa Aleena. Gadis itu sudah menceritakan pada Ivan hasil pertemuan nya dengan sang papa. Karena itu Ivan tak ingin membuang waktu lagi, ia segera menghubungi sang papa untuk mengajaknya menemui papa Aleena.
Pintu tak kunjung terbuka meski mereka sudah menekan bel beberapa kali. Aleena mengumpati sang papa yang sama sekali tak menunjukkan sikap baik pada Ivan dan papanya. Papa Aleena sama sekali tak menyambut mereka padahal Aleena sudah mengabarkan kepada pria itu perihal kedatangan mereka malam ini.
__ADS_1
"Maaf" Aleena menatap bergantian dengan penuh rasa bersalah pada Ivan dan papanya. Namun keduanya tersenyum hangat.
"Ini sama sekali bukan salah kamu" Bisik Ivan. Pria itu juga sudah menceritakan pada papanya bagaimana hubungan Aleena dan sang papa yang tak terlalu baik.
Beberapa saat menunggu terdengar langkah kaki dan handle pintu yang diputar. Pintu tersebut terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang merupakan seorang asisten rumah tangga.
"Maaf cari siapa?" tanya wanita paruh baya itu.
"Pak Gunawan nya ada bu?" tanya Aleena.
"Oh iya ada, silahkan masuk" ucapnya dengan sopan. Mereka bertiga memasuki rumah itu. Asisten rumah tangga mempersilahkan Aleena, Ivan dan papanya untuk duduk di ruang tamu sebelum berpamitan untuk memanggil majikan nya.
Setelah hampir 10 menit berlalu tampak sosok papa Aleena yang begitu arogan datang didampingi istri barunya dan duduk dengan angkuh di sofa yang berhadapan langsung dengan papa Ivan.
Saat mata papa Aleena menatap pada papa Ivan sontak saja pria itu terhenyak.
"Pak Tio?" Sirna sudah segala keangkuhan yang sebelumnya ia tunjukkan saat menyebutkan nama papa Ivan dengan suara bergetar dan wajah memucat. Begitupun dengan mama tiri Aleena saat suaminya menyebutkan nama papa Ivan. Ia langsung menundukkan wajahnya. Menyesal karena sudah memasang wajah arogan nya.
"Yah pak Gunawan, ternyata anda papanya Aleena" Papa Ivan tersenyum sinis pada pria yang beberapa bulan ini begitu mengemis kerja sama dengan nya.
"Saya juga tidak menyangkan bahwa calon suami Aleena itu putranya pak Tio" ucap Papa Ivan salah tingkah.
"Kalau tau kenapa pak Gunawan? Ah pasti pak Gunawan tidak akan membiarkan kami menunggu terlalu lama kan" papa Ivan terkekeh sementara papa Aleena terlihat semakin salah tingkah.
"Jadi langsung saja pak Gunawan. Kami ingin melamar Aleena untuk dijadikan istri oleh anak saya Ivander Handono. Putra bungsu saya, Sulistio Handono. Mohon kesediaan bapak untuk menerima lamaran putra saya" Ucap papa Ivan dengan penuh penekanan.
"Ten-tentubsaja pak Tiom saya sangat senang berbesanan dengan anda. Mana mungkin saya menolak. Ini sungguh suatu kehormatan bagi saya" Ucap papa Aleena dengan terbata.
Aleena dan Ivan saling menatap, senyuman terbit di bibir keduanya. Aleena merasa lega sang papa tak mempersulit pemberian restu pada mereka.
__ADS_1
🍁🍁🍁