
"Sayang buruan" Rengek Aleena di depan pintu kamar mandi.
"Maaf ya lama" Ivan buru-buru mendekap Aleena dan membawa tubuh istrinya ke atas ranjang. Aleena segera memeluk Ivan erat seolah sudah berpisah bertahun-tahun lamanya padahal Ivan hanya meninggalkan nya untuk buang air besar.
"Jangan tinggalin aku lagi ya" ucap Aleena lirih.
"Iya sayang" Ivan berusaha menahan perasaan nya akibat perubahan sikap Aleena selama 2 bulan terakhir. Istrinya berubah sangat sensitif dan selalu ingin berada di dekat Ivan akhir-akhir ini.
Jangan kan untuk pergi dalam waktu lama hanya pergi ke kamar mandi saja Aleena begitu berat melepaskan suaminya. Pernah suatu pagi Aleena menangis tersedu-sedu karena tak mendapati Ivan di sisinya saat ia terbangun padahal Ivan hanya pergi ke kamar mandi, Aleena bersedih karena Ivan tak meminta izin padanya lebih dulu.
Ivan sempat melayangkan protes yang akhirnya berakibat fatal. Aleena semakin menangis dengan pilu seolah Ivan tak mencintainya lagi dan butuh waktu 2 jam untuk menenangkan Aleena kembali. Sejak saat itu Ivan memilih menuruti semua kemauan istrinya.
Ivan dan Aleena akhirnya terpaksa berhenti sementara dari Pelita Harapan mengingat kondisi Aleena yang tak memungkinkan bagi mereka untuk tetap mengajar.
"Kita mau ke mana hari ini?" Tanya Ivan sambil mengusap lembut rambut Aleena yang berada dalam pelukan nya.
"Mau di rumah aja"
"Nggak mau beliin pakaian buat bayi kita?" Mengingat usia kehamilan Aleena sudah memasuki bulan ke 7.
"Beli online aja" Aleena semakin merapatkan dirinya pada Ivan.
"Uda satu minggu loh sayang kita nggak pernah keluar. Nggak bosan?"
"Asal sama kamu aku nggak akan pernah ngerasain bosan" Ivan menghela nafas mendengar jawaban Aleena.
"Kamu tu sebenar nya kenapa sayang, kok kayak malas banget buat keluar rumah?" Saat awal kehamilan sampai usia 5 bulan Aleena tak menampakkan keanehan apapun. Bahkan Aleena tidak mengalami mual muntah seperti kebanyakan wanita hamil lain nya. Namun setelah lewat dari 5 bulan Aleena mulai menunjukkan. perilaku anehnya, selain tak ingin berjauhan dari Ivan ia juga begitu malas bertemu orang luar atau berada di keramaian.
"Aku nggak apa-apa" Ucap Aleena.
__ADS_1
"Nggak percaya, ayo kasih tau kamu kenapa?" Ivan mengubah posisi agar bisa melihat wajah Aleena.
"Aku nggak PD sama tubuh aku yang udah kayak tandon air saking gedenya. Sementara kamu ganteng banget, aku takut diejek orang. Takut juga nanti kamu kecantol sama cewek lain yang seksi dan langsing" ucap Aleena sambil tersedu. Lagi-lagi Ivan harus terperangah pada pemikiran tak masuk akal istrinya. Apa menghadapi wanita hamil memang sesulit ini?
"Kata siapa? kamu tetap cantik dan seksi. Kamu tau sendiri kan Albert selalu ngamuk-ngamuk pengen main ke padang rumput saking nggak kuat menahan pesona kamu yang makin hari makin terpancar dengan kuat" Bujuk Ivan.
"Siapa yang berani mengejek bidadari tercantik di galaksi ini hem? terus tadi kamu bilang apa? takut aku kecantol sama cewek lain? sayang kamu tau sendiri mata dan hati aku apalagi Albert nggak akan pernah bisa berpaling sama gadis lain seseksi apapun itu. Jadi jangan berfikir macam-macam lagi oke?"
"Gombal banget sih, itu lagi kenapa Albert disebut-sebut juga" ucap Aleena sewot.
"Karena cuma Albert yang bisa menjadi bukti tak terbantahkan betapa Ivan Handono itu sangat memuja Aleena Salindri!" Ivan bahkan membawa tangan Aleena untuk mengusap Albert yang selalu siaga.
"Udah ah, ayo cari baju bayi" Aleena menarik tangan nya.
"Iya ayo kita siap-siap" Ucap Ivan sambil mengulum senyum melihat wajah Aleena yang memerah.
🍁🍁🍁
"Aduh gemes banget sayang" Aleena menunjukkan kaos kaki dengan motifnya yang begitu lucu.
"Tapi itu buat cewek kan sayang?" Aleena mengangguk.
"Bayi kita kan cowok" ucap Ivan lagi.
"Aku kan cuma mau bilang ini gemes, nggak bilang mau beli ini" Aleena melepaskan pegangan nya pada kaus kaki yang ia tunjukkan pada Ivan sebelumnya. Aleena sepertinya sangat kesal. Pria itu menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan.
"Iya emang gemes banget, nanti setelah bayi kita lahir Albert langsung kita suruh kerja untuk program anak kedua yang cewek ya" bujuk Ivan sambil memeluk istrinya.
"Uda, aku mau pulang. Aku capek" Aleena masih terlihat gusar meski Ivan sudah berusaha merayunya.
__ADS_1
"Iya ayo, kita ke kasur eh ke kasir dulu" Ivan merangkul Aleena. Pegawai yang sudah menyiapkan perlengkapan bayi yang sudah sepasang suami istri itu pilih mengikuti di belakang.
"Beneran langsung pulang sayang?" Tanya Ivan setelah mereka berada di dalam mobil.
"Iya mau pulang" Aleena masih belum melunak.
"Nggak mau cari makan? mumpung lagi di sini. Sayang banget kalo langsung pulang nggak ngedate dulu" Ucap Ivan dengan tatapan menggodanya.
"Bilang aja kamu belum puas tebar pesona" Ketus Aleena.
"Siapa yang tebar pesona?" Ivan mengerutkan kening nya melihat wajah Aleena yang terlihat begitu kesal.
"Dari tadi pegawai baby shop yang melayani kita tu ngeliatin kamu terus. Mana senyum-senyum lagi. Kalo nanya pasti ke kamu bukan ke aku. Apalagi waktu aku nunjukin kaus kaki terus kamu bilang itu buat cewek sementara anak kita cowok dia ketawa mengejek seakan aku ini istri yang bodoh buat kamu" Ivan terpaku beberapa saat, ia kini mengerti sumber kegusaran sang istri.
"Itu perasaan kamu aja sayang, pegawai baby shop itu hanya mau bersikap ramah pada pelanggan" Ivan meraih tangan Aleena dan mengusapnya lembut.
"Kamu ngebelain dia? atau emang kamu diam-diam suka juga sama dia?"
"Aku nggak ngebelain sayang. Udah ya nggak usah dibahas" Ivan menyerah, apapun yang ia ucapkan tetap akan salah di mata Aleena yang sedang dikuasai cemburu
"Beneran kan kamu suka juga sama dia? makanya kamu terus aja tebar pesona" Aleena sepertinya akan menangis, matanya sudah berkaca-kaca dengan wajahnya yang memerah.
"Aku nggak suka sama dia sayang, ngeliat wajahnya aja enggak. Aku juga mana ada tebar pesona sayang, dari tadi aku nempelin kamu terus loh. Bahkan aku nggak pernah lepasin tangan kamu sedetik pun saat kita belanja" Ivan sudah mulai kesal namun ia terus mencoba menenangkan dirinya agar tidak terpancing pada sikap Aleena yang menyebalkan.
Ia berusaha memahami istrinya yang sedang tidak percaya diri akan perubahan postur tubuhnya semenjak kehamilan semakin membesar. Walaupun di mata Ivan Aleena tetap terlihat cantik dan menawan.
"Kita langsung pulang, makan di rumah aja kalo gitu ya" Putus Ivan. Daripada nanti Aleena mencemburui pelayan kafe atau restoran mungkin memang lebih baik mereka pulang saja.
🍁🍁🍁
__ADS_1