
"Aku mau nyanyiin sebuah lagu boleh?" tanya Ivan saat keduanya telah selesai makan malam.
"Kamu bisa nyanyi?" tanya Aleena.
"Bisa sedikit, biasanya aku nyanyi buat diri aku sendiri. Tapi kali ini aku pengen nyanyi buat kamu" Aleena mengangguk dengan senyum manisnya.
Pelayan datang membawakan gitar untuk Ivan, sepertinya semua memang sudah disiapkan oleh pria itu.
Aleena tak bisa menahan senyum nya saat Ivan mulai memetik senar gitar, melahirkan nada-nada merdu yang memanjakan telinga. Jantung Aleena berdetak saat tau lagu yang akan Ivan nyanyikan.
Aleena menatap pada Ivan dan pria itu tersenyum dengan tatapan tulusnya.
It's a beautiful night, we're looking for something dumb to do
Hey baby, I think I wanna marry you
Is it the look in your eyes or is it this dancing juice?
Who cares, baby, I think I wanna marry you
Well, I know this little chapel on the boulevard we can go
No one will know, oh, come on girl
Who cares if we're trashed, got a pocket full of cash we can blow
Shots of patron and it's on, girl
Don't say no, no, no, no, no
Just say yeah, yeah, yeah, yeah, yeah
And we'll go, go, go, go, go
If you're ready, like I'm ready
Just say I do
__ADS_1
Tell me right now, baby
Tell me right now, baby, baby
Benar saja, Ivan menyanyikan lagu marry you dari Bruno Mars dengan mata tak lepas menatap pada Aleena. Tatapan matanya penuh kesungguhan. Ada pengharapan besar di sana.
Setelah selesai menyanyikan bait terakhir dari lagunya Ivan berjalan mendekat pada Aleena lalu pria itu menekuk kakinya posisinya kini membungkuk sebelah tangan nya mengeluarkan sebuah cincin.
"Sayang, menikahlah dengan ku" Aleena ternganga dengan kejutan yang Ivan berikan padanya untuk kedua kali. Matanya berkaca-kaca, hatinya diliputi keharuan yang teramat besar hingga membuat bibirnya kesulitan untuk mengatakan apapun.
"Tolong jangan tolak aku Aleena. Aku sangat mencintaimu dan ingin menghabiskan sisah usiaku bersama mu. Menikahlah dengan ku dan tetaplah di sisiku selamanya" Ucap Ivan lagi saat tak kunjung ada jawaban dari bibir gadis yang amat ia cintai itu. Kali ini buliran bening tak lagi mampu Aleena tahan. Air matanya mengalir dengan deras.
"A-aku mau" Ucap Aleena terbata kepalanya mengangguk beberapa kali, Matanya mengabur oleh air mata.
"Terimakasih sayang" Ivan merasa tubuhnya mengawang, tak ada yang paling membahagiakan baginya saat ini selain penerimaan Aleena atas dirinya. Ivan memeluk Aleena erat setelah menyematkan cincin di jari manis Aleena.
"Aku mencintai mu Aleena, terima kasih telah memberikan aku kesempatan untuk memiliki kamu seutuh nya" Bisik Ivan sementara Aleena semakin terisak.
"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu. Terimakasih karena kamu memilihku" Keduanya larut dalam kebahagiaan yang sempurna.
Ivan melepaskan pelukan nya, menangkup pipi Aleena dan memandangi wajah cantik gadis itu. Ia tersenyum lalu menghapus air mata Aleena.
"Apa itu?"
"Dilamar oleh pria yang aku cintai dengan lagu marry you dari Bruno Mars" Ivan tampak begitu terpana mendengar ucapan Aleena.
"Beneran Al?"
"Iya, sepertinya kamu memang Tuhan ciptakan buat aku. Buktinya kamu mewujudkan 2 mimpi aku sekaligus padahal kamu nggak tau sebelumnya" ucap Aleena.
"Yah Aleena memang tercipta untuk Ivan begitupun sebaliknya" Bisik Ivan sebelum menautkan bibirnya pada bibir gadis itu. Aleena memejam kan mata saat merasakan sesapan kuat Ivan padanya.
Untuk sesaat keduanya terhanyut pada pertarungan lidah mereka yang berusaha saling melumpuhkan. Rasa panas mengaliri tubuh Ivan dan Aleena, jika tak ingat bahwa mereka sekarang bukan di apartemen mungkin pertarungan itu akan berlanjut pada sentuhan-sentuhan yang lebih dalam.
Ivan memandangi wajah Aleena yang memerah dengan nafas terengah.
"Harusnya aku nyiapin makan malamnya di apartemen aja" Ucapnya dengan wajah menyesal.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Supaya kita bisa melanjutkan permainan seperti yang sering kita lakukan" ucap Ivan tanpa beban berbeda dengan Aleena yang kini wajahnya tampak merona. Ia masih belum terbiasa dengan obrolan-obrolan vulgar.
🍁🍁🍁
"Sayang, kapan aku dan papa bisa menemui papa kamu? aku ingin segera meresmikan hubungan kita" Ivan kembali memulai obrolan serius nya setiba mereka di rumah sehabis makan malam romantis yang berujung lamaran beberapa waktu lalu.
"Emang harus ya ketemu papa?" Membahas sang papa hanya akan membuat hatinya sakit.
"Iya harus Al. Karena gimana pun dia tetap papa kamu. Kalau mau rumah tangga kita bahagia kita harus meminta restu papa kamu."
"Papa kayak nya nggak peduli deh sama aku. Bahkan hingga detik ini papa nggak ada hubungin aku" Hal itu menunjukkan betapa papa nya tak lagi menganggap dirinya ada. Ia sama sekali tak mengkhawatirkan putrinya sendiri.
"Terkait gimana papa ke kamu itu biar menjadi urusan nya sama Tuhan sayang, nggak mungkin Tuhan hanya diam menyaksikan segala ketidak adilan yang papa kamu lakukan. Yang penting kamu sudah melaksanakan kewajiban kamu sebagai anak" Ivan merengkuh erat tubuh Aleena. Melihat gadis itu berubah murung membuat hati Ivan turut mendung.
"Kalau papa nggak kasih restu gimana?"
"Aku pastikan kita akan mendapatkan nya sayang, tenang saja" ucap Ivan tanpa keraguan.
"Ya kalau seandainya dengan segala upaya yang udah kamu lakukan papa tetap nggak kasih izin gimana?"
"Aku tetap akan menikahi kamu. Lagian masa papa kamu nggak kasih izin sih, apa coba kurang nya aku?" Aleena terkekeh mendengar pertanyaan Ivan yang terasa menggelitik.
"Nggak ada sayang, kamu itu mendekati sempurna" ucap Aleena, ia sengaja menyanjung Ivan setinggi langit agar ia bahagia.
"Ah uda lah kalau bahas yang gitu-gitu jadi keingat saat kamu muji Gio" Aleena ternganga, niat hatinya ingin membuat Ivan bangga malah membuat mood pria itu hancur berantakan.
"Aku nggak nyangka kamu marahnya kayak cewek" Ucap Aleena sambil mencebik kesal
"Gimana emang nya?"
"Yah marahnya secara historis, mengingat sejarah yang udah-udah" ucap Aleena. Ivan terkekeh mendengar gerutuan calon istrinya. Ia memeluk Aleena semakin erat hingga gadis itu setengah berteriak karena kesulitan bernafas.
"Kamu mau bunuh aku ya? meluknya gitu, aku bisa kehabisan nafas" rengek Aleena yang semakin membuat Ivan gemas. Ia meraup bibir Aleena dan menyesap nya kuat, ciuman nya terasa rakus dan menuntut.
Aleena kewalahan menghadapi serangan Ivan yang berbeda dari biasanya. Pria itu begitu bersemangat menjarah bagian-bagian tubuh Aleena dengan sentuhan tangan nya.
__ADS_1
🍁🍁🍁