
"Ini nikmat" Bisik Aleena, yah dia berbohong. Namun ia ingin Ivan mengambil hak nya tanpa harus merasa bersalah.
"Benarkah?" mata Ivan berbinar penuh kebahagiaan. Ivan mulai menggerakkan perlahan tubuhnya, membiarkan Albert mulai melakukan penjelajahan nya.
Aleena memejamkan matanya menahan rasa tidak nyaman di bawah sana. Albert begitu liar mengaduk-aduk dirinya yang belum terbiasa. Rasa perih tak kunjung hilang.
Namun lenguhan dan des ahan Ivan membuat rasa sakit Aleena sedikit teralihkan, berganti menjadi rasa bangga dan bahagia karena bisa memberikan kenikmatan pada suaminya. Ivan begitu bersemangat menghentak tubuhnya, terkadang pelan lalu berganti cepat. Menciptakan sensasi yang begitu melenakan mereka berdua. Meski rasa sakit belum sepenuh nya hilang namun Aleena sudah mulai terbiasa, gelenyar-gelenyar kenikmatan mulai terasa. Hentakan berirama Ivan membuat tubuh Aleena terasa seperti disengat.
Saat Albert menjelajahi titik-titik sensitif yang terdapat pada goa, Aleena tak bisa menahan de sahan nya. Gadis itu begitu terlena pada kepiawaian Ivan memainkan Albert.
"Sayangh ud-dah" Rintih Aleena saat ia mulai merasa tak sanggup lagi, rasa perih bercampur nikmat seperti menyulut ledakan besar pada tubuhnya.
"Tahan sayang, sebentar lagi" Ivan semakin kuat memacu tubuhnya, *rangan dan des ahan keduanya saling beradu memenuhi kamar pengantin mereka.
Ivan merasakan kenikmatan itu mulai terkumpul pada satu titik membuat Ivan mempercepat pacuan nya hingga akhirnya Ivan menghentakkan tubuhnya dengan begitu dalam. Pria itu menengadahkan kepalanya bersamaan dengan *rangan panjang Aleena dengan tubuhnya bergetar. Pecah sudah, Ivan dan Aleena berhasil melewati momen indah mereka untuk pertama kalinya.
Ivan memeluk erat tubuh Aleena, pria itu belum berpindah dari posisi sebelumnya. Nafas keduanya saling berlomba, sisah-sisah pelepasan masih merayapi seluruh tubuh mereka.
"Makasih ya, kamu uda bikin aku jadi pria paling beruntung sekaligus paling bahagia di dunia." Bisik Ivan, pria itu menatap dalam pada Aleena yang juga tengah menatap nya.
"Iya, aku juga wanita yang paling beruntung dan bahagia karena memiliki kamu" Balas Aleena. Pria itu begitu berbinar mendengar jawaban istrinya. Ia mendaratkan kecupan di kening, pipi dan bibir Aleena sebelum menggulir tubuhnya. Pria itu lalu menarik tubuh Aleena agar merapat padanya.
"Apa pendapat mu tentang Albert?" Tanya Ivan tiba-tiba. Wajah Aleena merona karena nya. Ia tak menyangkan Ivan akan menanyakan hal ini padanya.
"Jawab sayang, apa Albert memuaskan mu?" Wajah Aleena bagaikan terbakar.
"I-iya" Jawab Aleena singkat.
"Apa dia hebat?" Oh Tuhan Ivan masih melanjutkan pertanyaan nya. Aleena merasa begitu risih.
__ADS_1
"I-iya dia hebat" balas Aleena lagi.
"Kamu suka?"
"Iya aku suka" Tak ada pilihan lain, Ivan tak akan berhenti sampai ia mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Seberapa suka?" Aleena ingin menjerit rasanya karena pertanyaan Ivan terus berlanjut. Nampaknya Ivan masih penasaran perihal keberhasilan nya dalam memberikan kepuasan pada Aleena.
"Sangat suka, Albert hebat, gagah dan sangat memuaskan" Ivan terkekeh, ia mendaratkan banyak kecupan di wajah istrinya. Ia tau Aleena tak nyaman dengan pertanyaan nya.
"Albert masih menginginkan mu, tapi aku tau kamu capek kita harus beristirahat sekarang" Aleena tersenyum, ia merasa bahagia karena Ivan begitu pengertian. Rasa ngilu masih sangat terasa. Ia tak bisa membayangkan akan seperti apa sakitnya jika Ivan meminta Albert kembali beraksi sekarang juga.
"Tidur ya" Ivan mengusap rambut Aleena dengan begitu lembut, melahirkan kenyamanan yang sudah lama tidak gadis itu rasakan selama ini. Aleena merasa sangat beruntung bisa memiliki pria sebaik Ivan dalam hidupnya.
🍁🍁🍁
Aleena membuka ponselnya, ia heran karena ada banyak notifikasi yang masuk. Sejak kemarin ia memang belum sempat memegang ponselnya lagi.
Jantung nya seakan meloncat dari tempatnya saat membaca postingan Rania di Instagram gadis itu. Tampak foto saat Rania dan Ivan bertunangan yang ia buat kolase dengan Foto pernikahan nya dengan Ivan kemarin. Serta beberapa foto yang menggambarkan keakraban antara Aleena dan Rania kala mereka bersahabat dulu.
"Aleena sahabat ku...
Aku tidak pernah menyangka kau akan melakukan ini, kau sahabat yang sangat aku sayangi begitu tega menusukku dari belakang, kau ambil kekasihku dengan tipu muslihat mu. kau memfitnahku dan membuat tunangan ku membenciku...
Ahh... Tapi aku ikhlas, aku memaafkan mu dan selamanya kau akan menjadi sahabatku tak peduli seberapa dalam luka yang telah engkau torehkan. Semoga bahagia selalu bersamanya!"
Tubuh Aleena bergetar membaca caption penuh provokasi yang Rania tuliskan. Aleena menscroll kolom komentar yang sudah ratusan itu, sekilas ia bisa melihat ada banyak sekali hujatan yang ditujukan pada nya di kolom komentar.
"Dia bukan sahabat, dia pela**r!"
__ADS_1
"Karma buruk akan menimpanya, sabar Rania! kamu pantas mendapat pria yang jauh lebih baik dari pengkhianat itu!"
"*Tunggulah karma mu wanita ja*ang*"
Masih banyak lagi komentar bernada serupa, Aleena tak sanggup membaca kalimat-kalimat menusuk yang mengutuknya itu.
Ivan yang baru saja keluar dari kamar mandi tampak bingung melihat istrinya yang terlihat ketakutan, ada air mata yang mengalir di pipi Aleena.
"Kamu kenapa sayang?" Ivan menarik Aleena ke dalam dekapan nya. Berada dalam dekapan Ivan membuat tangis Aleena pecah. Beberapa komentar buruk yang sempat ia baca membuat Aleena merasa sangat tertekan.
"Ada apa sayang? beritahu aku" Ivan begitu panik. Ia mengusap punggung istrinya yang masih mengenakan kimono sehabis mandi pagi. Gadis itu belum sempat mengganti pakaian.
"Ra-Rania mas" Ucap Aleena dalam isakan nya.
"Kenapa Rania?"
"Itu" Aleena tak sanggup menjelaskan lebih jauh, ia hanya menunjukkan ponselnya yang tergeletak di dekat kakinya
Ivan masih memeluk Aleena saat meraih ponsel milik istrinya. Ia tampak mengotak atik ponsel itu untuk mengetahui apa yang istrinya tangisi.
Respon Ivan tak jauh berbeda saat ia menemukan apa yang istrinya maksud. Ia begitu geram. Wajahnya memerah kareba amarah yang menguasainya. Ternyata Rania ingin bermain api dengan nya.
"Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya sayang. Jangan takut" Bisik Ivan.
"Semua akan baik-baik saja Al, serahkan semuanya padaku" lanjut Ivan. Ia mati-matian meredam hasrat ingin membunuh Rania atas perbuatan nya yang sangat menyakiti hati istrinya. Ia sama sekali tak peduli pada komentar dan penilaian buruk orang-orang terhadapnya. Namun ia tak bisa menerima jika kata-kata kasar penuh penghinaan itu disematkan pada sang istri.
"Mereka menganggap kita begitu buruk" ucap Aleena.
"Jangan terpengaruh pada mereka Aleena. Mereka tidak tau apa-apa, mereka juga bukan siapa-siapa. Jangan sampai kebahagiaan kita terusik oleh sampah-sampah seperti mereka" ucap Ivan, pria itu menahan geram atas ulah Rania yang yak kunjung sadar
__ADS_1
🍁🍁🍁