
Happy Reading.
Amaira melihat jalanan di depan, hujan semakin deras, padahal seharusnya dia sudah sampai rumah sejak tadi. Tapi gara-gara taksi yang dia tumpangi mendadak ban-nya bocor akhirnya dia harus menunggu.
"Bapak panggil taksi lain aja ya neng? Kalau nunggu ganti ban, nanti nunggu lama," ujar sopir taksi itu.
"Nggak apa-apa pak, saya nunggu saja," jawab Amaira.
Akhirnya sopir taksi itu mengalah dan keluar dari dalam mobil sambil memakai payung. Sang sopir mengambil jas hujan yang ada di jog belakangnya dan juga ban serep.
Amaira hanya diam menunggu di dalam sambil menyetel lagu sholawat di ponselnya. Jujur hari ini Amaira begitu senang. Ditempat kerjanya dia memiliki sahabat-sahabat yang baik padanya. Meskipun ada satu yang sedikit judes menurutnya, tapi itu tidak apa. Yang penting Amaira merasa nyaman.
Akhirnya setelah menunggu selama satu jam lebih, Amaira sampai di depan rumahnya. Dia segera membayar taksi dan keluar dari mobil itu. Amaira sedikit berlari karena hujan
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga!" Amaira membersikan jilbab dan bajunya dari tetesan air hujan. Setelah itu dia membuka pintu rumah perlahan, Amaira masuk dan menutup pintunya lagi, tapi dia terkejut ketika mendengar suara bariton suaminya yang tiba-tiba berada dibelakangnya.
"Dari mana kamu?"
"Astaghfirullah, mas Azka! Ngagetin aja!" Amaira mengelus dadanya karena betulan kaget.
Azka menatap penampilan Amaira dari ujung kaki hingga kepala, baju wanita itu sedikit basah. "Kamu belum jawab pertanyaan saya, Maira! Dari mana saja kamu?"
"Assalamualaikum, Mas!" Karena suaminya ada disitu, Amaira berucap salam. "Maira baru pulang dari kerja," jawabnya kemudian.
"Kerja? Kamu kerja apa? Kenapa tidak bilang sama saya?" Tanya Azka mengerutkan keningnya.
Amaira melebarkan matanya, "tadi aku udah chat mas Azka kok, aku minta izin buat kerja karena ada lowongan dari sahabat ku, mungkin mas Azka belum buka pesanku," ucap Amaira. Tentu saja Azka pasti belum membuka pesannya, mungkin namanya saja di kontak suaminya itu belum ada, alisa nomernya belum di simpan oleh Azka.
"Hape ku ada di kamar, mana tau kalau kamu kirim pesan!" Azka masih tidak mau kalah.
Amaira menghela nafas, sebenarnya dia ingin segera masuk kedalam kamarnya dan mandi, dia juga belum sempat sholat ashar.
"Udah dari pagi aku kirim, mungkin mas Azka belum buka, aku ke kamar dulu ya mas, mau mandi!" Amaira langsung melenggang pergi begitu saja dari hadapan suaminya.
Untuk apa juga berlama-lama, toh Azka tidak mungkin mencarinya seharian ini bukan. Pasti karena Amaira tidak kelihatan saja Azka langsung tanya dia dari mana.
Mungkin Azka memang tidak mencarinya sampai siang hari, tapi ketika hujan turun lebat dan melihat sendal sepatu Amaira tidak ada di rak, membuat Azka jadi kepikiran.
Meskipun sempat menepis pikiran tentang kemana perginya istri pertamanya itu, tapi tidak dipungkiri jika tadi Azka sempat merasa khawatir.
__ADS_1
Apakah sekarang Azka mulai peduli pada Amaira? Buktinya dia kepikiran, bukan?
Lihatlah langkah Azka yang begitu cepat menaiki tangga, dia tiba-tiba juga ingin bertanya Amaira kerja apa dan dimana? Lalu kenapa istri pertamanya itu ingin bekerja. Bukankah selama ini Azka selalu mengirimkan uang ke rekening Amaira.
Lalu apakah wanita itu kekurangan uang? Azka tidak habis pikir dengan istri pertamanya itu, sungguh wanita yang keras kepala sekali.
Azka sudah sampai di depan kamar Amaira, tangannya sudah terangkat ingin mengetuk pintunya, tapi tiba-tiba suara Icha menginterupsi Azka sehingga lelaki itu urung mengetuk.
"Mas, kamu mau ngapain?"
"Oh, enggak, tadi Amaira baru pulang, jadi aku mau tanya dia pergi kemana," jawab Azka sedikit salah tingkah.
"Oh, kenapa dia nggak ngomong sama kita kalau mau keluar?"
"Udah biarin aja, tadi kamu mau apa manggil-manggil mas? Hem?" Azka menarik istri keduanya itu untuk masuk kembali ke dalam kamar.
Icha menurut dan duduk di sisi ranjang.
"Aku nyari charger ku, kok nggak ada? Kamu tau nggak mas?" Azka menggelengkan kepalanya.
"Pasti kamu cuma lupa menaruhnya, coba cari di dalam laci," ucap Azka.
Icha menurut dan membuka laci meja kecil yang ada disudut. Meja itu sekarang sudah berfungsi menjadi meja rias Icha. Rencananya setelah gajian nanti Azka akan membelikan meja rias satu set untuk istri keduanya itu
"Tuh kan, kamu yang lupa!" Icha hanya nyengir kemudian lanjut mengisi daya ponselnya.
Azka tiba-tiba ingat ucapan Amaira yang mengatakan jika tadi pagi dia mengirimkan pesan. Entah apa yang membuat hati Azka tergerak untuk melihat pesan dari istri pertamanya itu.
Azka jadi penasaran, memang jam berapa Amaira mengirimkan pesan pamit padanya.
Mata Azka melihat satu nomor asing yang berada di urutan nomor dua, karena urutan pertama adalah nomor Icha yang disematkan.
Azka yakin jika itu nomor Amaira karena dia memang belum menyimpan nomor istri pertamanya itu.
Azka belum pernah sepenasaran ini terhadap Amaira. Kenapa tiba-tiba istri pertamanya itu ingin bekerja. Azka lalu membuka pesan itu.
+6234567xxx : Assalamualaikum Mas, aku hari ini izin keluar untuk kerja, tadi malam Arumi minta aku kerja di tempat kakaknya, jadi sekarang aku minta izin, ya,, insyaallah pulangnya tidak sampai malam.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi...
__ADS_1
'Mungkin dia bosan dirumah terus, jadi lebih baik aku izinkan.' Batin Azka.
Akhirnya pria itu memilih membalas pesan Amaira dari pada ngomong langsung dengan orangnya. Entah kenapa, tapi dia tidak mau jika Icha nanti tahu kalau Azka ingin ngomong sama istri pertamanya itu.
Padahal sebenarnya tidak masalah, toh Amaira juga istrinya, bukan?
Mungkin Azka merasa tidak enak hati pada Icha karena sudah terlanjur berjanji jika dia tidak akan peduli pada Amaira.
******
Amaira langsung memakai mukena setelah mandi tadi. Dia langsung melaksanakan salat ashar yang sedikit terlambat.
Setelah bersujud 4 rakaat, tidak lupa Amaira berdoa, meminta pada yang kuasa agar selalu di beri kesehatan dan kebahagiaan. Rezeki yang lancar untuk suaminya dan juga kesehatan untuk orang-orang yang selalu baik padanya.
Setelah melipat mukenanya dan menaruh di atas almari, Amaira berjalan ke arah ranjang untuk merebahkan diri. Dia tidak ingin tidur tetapi cuma ingin rebahan saja.
Amaira mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Seperti kebiasaannya dia selalu menscroll sosial media ataupun YouTube tentang kajian-kajian pengajian.
Namun matanya tiba-tiba terfokus pada satu notifikasi yang dia beri nama 'Suamiku'.
Jantung Amaira langsung berdetak begitu kencang, hampir tidak pernah Azka membalas pesannya apalagi inisiatif mengirim pesan sendiri.
Ah, iya. Amaira lupa kalau tadi pagi kan dia mengirim pesan kepada Azka. Sudah terlanjur senang tetapi kemudian dia hanya bisa menghela nafas.
Akhirnya Amaira membuka pesan dari suaminya.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
'Aku kasih izin kamu kerja, terserah kamu mau kerja apa, yang penting bukan aku yang menyuruh, pakai motor matic di garasi kalau mau kerja, nanti aku suruh ambil bengkel langganan ku buat servis dulu!'
Amaira tersenyum lebar ketika membaca pesan dari suaminya yang panjang lebar itu. Biasanya Azka hanya membalas iya atau tidak. Singkat sekali, tetapi kali ini Azka membalasnya dengan balasan yang begitu panjang, dan izin itu yang membuat senyum Amaira menjadi semakin lebar.
'Terima kasih, Mas!'
Amaira kemungkinan mendekap ponselnya, sepertinya dia benar-benar merasa lega setelah mendapatkan izin dari Azka, meski terkesan ketus tapi Amaira tetap senang.
Sudah dibilang kan, kalau Azka pasti mengizinkan, jadi menurutnya langkah yang dia ambil ini adalah langkah yang baik.
Tiba-tiba ponselnya bergetar lagi, Amaira melihat ponselnya dan terbelalak ketika melihat siapa yang menelepon.
__ADS_1
"Mas Kemal!"
Bersambung.