
Happy Reading.
"Allahumma inni a'udzu bika minal 'ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a'udzu bika min 'adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir."
Amaira hanya bisa menengadahkan tangan ke atas, berdoa kepada Tuhan-Nya agar diberi kelapangan hati. Sabar ya Seluas Samudra dan juga kemantapan diri.
"Ya Allah, mudah-mudahan jalan yang Maira ambil ini adalah jalan yang benar. Semoga engkau memaafkan segala kesalahan hamba yang banyak dosa ini, Maira banyak dosa ya Allah, Maira tahu jika engkau sangat membenci perceraian, tapi jika Maira meneruskan rumah tangga yang tidak pernah sehat ini, Maira takut hanya akan memupuk dosa, ampuni dosa-dosa Maira, berikanlah kebaikan pada Maira ke depannya, Maira sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Maira hanya punya engkau wahai dzat yang maha pengasih lagi maha penyayang!"
Amaira sama sekali tidak lelah meminta ampun kepada yang maha kuasa dan juga minta di permudahkan segala urusan kedepannya.
Wanita itu hanya memasrahkan diri, setelah Azka menceraikan nya. Setelah ini Amaira akan mengurus surat cerai di pengadilan agama. Untung saja surat nikahnya selalu dia bawa kemana-mana. Amaira juga tidak membawa baju banyak, waktu siang itu dia pulang untuk mengambil beberapa barang pribadi dan bajunya dan Icha menyambutnya dengan tatapan tidak suka.
Bahkan Icha tidak menanyakan tangan Amaira yang tengah di perban dan digendong itu.
Dari situ jelas Amaira semakin yakin untuk memberikan Azka pada Icha setelah madunya mengatakan 'lepaskan Azka, biar dia bahagia bersama dengan wanita yang dicintainya!'
Jelas Amaira tahu siapa wanita yang dicintai Azka. Dan perasaan pada Azka langsung menguap begitu saja ketika mendapati Azka yang ternyata berani berbohong pada Icha, wanita yang katanya dicintai oleh Azka.
Kalau dengan orang yang dicintai saja bisa bohong seperti itu, lalu bagaimana dengan nasib orang yang tidak dicintainya. Azka memang bukan laki-laki yang baik. Amaira semakin yakin untuk berpisah dari pria itu.
****
Azka masuk ke dalam rumah setelah Icha membukakan pintu untuknya, pria itu pulang lebih awal dari apa yang dibicarakan tadi ditelepon. Icha heran melihat penampilan Azka yang sudah berantakan.
"Mas, katanya mau lembur? Ini bahkan belum waktunya pulang tapi kamu sudah di rumah? Apa ada masalah?" Tanya Icha lembut pada suaminya itu.
Azka duduk di sofa sambil memijit pelipisnya, rasanya kepala Azka may pecah, dia merasa sudah tidak sanggup lagi untuk tidak penasaran dengan apa yang di katakan oleh Amaira tadi.
"Mas?" Panggil Icha karena merasa suaminya itu tidak menyahut sama sekali.
__ADS_1
"Cha, apa benar kalau kamu sedang hamil?" Kali ini Azka menatapnya dengan tatap tajam.
Glek!
Icha menelan salivanya, tidak menyangka jika Azka akan menanyakan hal ini padanya. Apakah suaminya itu sudah bertemu dengan Amaira, bukankah hanya wanita itu yang tahu jika dirinya hamil. Hamil palsu.
"Nggak mas, a-aku nggak hamil kok, siapa yang bilang?" Jawab Icha gugup dan hal itu begitu terlihat di mata suaminya.
"Bilang jujur sama aku!! Kamu hamil atau pura-pura?" Tekan Azka, dia tidak percaya kalau Amaira berbicara bohong. Pasti Icha yang telah mengarang cerita itu, kalau tidak apakah dia benarkah hamil?
"Mas, aku nggak bohong! Aku nggak hamil kok!" Kali ini suara Icha lebih tegas dari tadi. Dia merasa kalau Azka benar-benar marah.
"Jadi kamu bohong sama Amaira? Iya? Bilang sama dia kalau kamu hamil?"
"Iya mas!" Jawab Icha menunduk.
"Astaghfirullah, buat apa Cha?"
Icha kali ini berani menatap wajah suaminya, dia kesal karena Azka benar-benar tidak peka.
Plak!
Icha merasakan pipinya panas setelah tangan Azka menampar pipi mulusnya.
Azka sendiri juga terkejut dan memandangi tangannya yang baru saja dia gunakan untuk memukul Icha, sungguh dia tidak bermaksud melakukannya. Azka hanya emosi ketika mendengar Icha mengatakan pada Amaira jika wanita yang baru saja dia talak itu melepaskan nya.
Jadi memang semuanya bukan salah Amaira, ada Icha disini yang ikut andil dalam hubungannya mereka yang semrawut itu.
"Mas, tega kamu!!" Icha berlari ke arah tangga dan naik kelantai atas.
Terdengar suara pintu yang di tutup begitu keras. Sedangkan Azka sendiri langsung mengusap wajahnya frustasi, dia sudah menyakiti Icha dan Amaira. Dua wanita yang saat ini mungkin telah menempati hatinya dengan porsi yang sama.
__ADS_1
****
Amaira tertunduk saat Farhan meminta nya naik ke mobil, entah kenapa kata-kata Azka yang mengira dia selingkuh masih terngiang.
"Ayo Ra, silahkan masuk," Farhan membuka pintu mobil samping kemudi untuk Amaira.
Wanita berhijab hijau tosca itu mengambil nafas untuk memenuhi rongga paru-parunya. Dia tidak perlu takut jika Azka akan menuduhnya lagi, bukankah mereka telah bercerai?
Lagian Farhan hanya bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat sikunya jadi retak, jadi tidak perlu takut kalau ada orang yang mengatainya berselingkuh.
Farhan membawa Amaira ke ruangan dokter ortopedi dan langsung ditangani dengan baik. Terapi pengobatan itu berjalan dengan lancar.
Hingga dua bulan sudah Amaira menjalani pengobatan dengan Farhan. Setiap seminggu sekali Farhan pasti menjemputnya dan bertemu dengan dokter spesialis itu.
Perlahan luka Amaira sembuh, dia sudah tidak perlu menggunakan gendongan lagi. Amaira benar-benar bersyukur akan hal itu. Akhir Amaira juga keluar dari pekerjaannya di cafenya Kemal.
Wanita itu memilih nge-kost dan membayar nya dengan gaji pertamanya meskipun tidak full.
Siang ini Amaira baru saja menjalani terapi, dan sikunya sudah tidak sakit sama sekali. Dokter juga mengatakan jika lukanya sudah sembuh total. Jaringan tulang juga sudah menempel sempurna.
"Alhamdulilah ya Allah, akhirnya sembuh juga!" Gumam Amaira tersenyum.
Farhan juga ikut bahagia melihat perkembangan Amaira yang sembuh begitu cepat.
"Saya juga ikut senang kalau kamu sembuh seperti ini," ujar Farhan.
"Makasih ya mas, udah merawat Maira."
"Itu memang sudah tugas saya karena saya yang membuat kamu jadi seperti ini." Jawab Farhan.
"Iya, tapi mas Farhan baik banget, Maira bersyukur bisa bertemu dengan mas Farhan." Entah kenapa ucapan Amaira membuat Farhan jadi tersipu.
__ADS_1
"Ehm,, Amaira, maaf kalau lancang, apakah kamu sudah memiliki kekasih?"
Bersambung.