Air Mata Di Atas Sajadah

Air Mata Di Atas Sajadah
Bab 11 (Seperti Di Usir)


__ADS_3

Happy Reading.


"Mas Kemal!"


Amaira langsung mengangkat telepon dari atasannya itu. Ada apa kiranya Kemal meneleponnya, Apakah ada pekerjaan yang tidak benar. Amaira jadi takut sendiri, takut kalau ada sesuatu sehingga membuat Kemal langsung meneleponnya.


"Halo,, assalamualaikum."


Di sebrang, pria tinggi itu senyum-senyum sendiri karena teleponnya langsung diangkat oleh sang pujaan.


"Waalaikumsalam, Maira?"


"Iya Mas, ada apa ya?"


Amaira bertanya, tetapi yang ditanya malah diam saja. Kemal sedang berpikir, mau jawab apa, padahal dia selama ini selalu berhadapan dengan berbagai macam wanita dan tidak pernah jadi grogi seperti ini. Tapi entah kenapa dengan Amaira, Kemal jadi gugup setengah mati. Sekitar 5 detik kemudian, baru Kemal menjawab.


"Kamu udah nyampe rumah?"


Astaga, Kemal! Hanya ingin tanya seperti itu saja sudah membuat pria itu dag dig dug tidak karuan. Bahkan dia harus merangkai kata-kata yang akan diucapkan kepada Amaira, tetapi tidak keluar satupun.


"Alhamdulillah, udah sampai mas 30 menit yang lalu. Apakah saya ada kesalahan di tempat kerja ya?"


Kemal terkejut dengan pertanyaan Amaira. Haduh sebenarnya apa sih yang dipikirkan oleh cowok itu. Amaira kan pegawainya, tentu saja wanita itu bertanya seperti itu karena menganggap Kemal adalah atasannya.


Mungkin saat ini Amaira malah bertanya-tanya. Apakah dia melakukan kesalahan sehingga bosnya menelponnya.


Kemal kamu itu bego banget sih! Batin cowok tersebut.


Padahal Kemal hanya khawatir kepada pegawai barunya itu, karena tadi pada waktu Amaira pulang hujan turun begitu lebat.


Bukan hanya itu saja, karena memang wanita itu spesial di hatinya. Kalau itu bukan Amaira dan hanya pegawai baru biasa ,dia juga tidak akan sampai meneleponnya seperti ini.


"Oh, enggak kok, kamu nggak ngelakuin kesalahan, malah justru pekerjaan kamu baik banget dan aku rasa mulai besok kamu boleh memasak, nggak usah jaga Kasir di depan, biar Fira aja yang gantiin."


"Oh, iya,, terima kasih mas Kemal."


"Ya udah kalau gitu, sampai jumpa besok ya, Maira, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam!"

__ADS_1


Kemal di dalam kantor nya jungkir balik salto, merasa se-senang itu hanya karena baru teleponan dengan Amaira.


"Duh, aku harus gimana ini, kenapa otakku jadi konslet gini ya? Duh, Maira .... Kamu bikin jantung mas terasa akan copot dari tempatnya."


"Mas Kemal! Mas!"


Kemal terkejut ketika melihat Faiz sudah berada di hadapannya.


"Ada apa? Kok kamu nggak ketok pintu dulu?" Tanya Kemal tidak suka karena Faiz datang menyela kebahagiaan nya.


"Loh, saya sudah ketok pintu sejak sepuluh menit yang lalu, tapi mas Kemal nggak jawab, ya udah saya masuk dan lihat mas Kemal malah senyam-senyum sendiri," jawab Faiz tidak terima.


Wong dia memang nggak salah kok dijutekin. Huh, maklum Faiz, atasanmu ini sedang jatuh cinta.


Kemal jadi malu sendiri karena ketahuan Faiz tengah senyum-senyum mirip orang gila. Yaz gila karena Amaira. Kemal tidak tahu saja kalau yang dia gilai itu adalah wanita bersuami.


"Iya-iya, memang kenapa kamu nyari saya?"


"Loh, biasa to mas, mau ngasih laporan keuangan, ini mas laporannya dalam sebulan," Faiz, pria yang umurnya dua tahun di bawah Kemal itu menyodorkan map biru tua padanya.


Dan beginilah nasib seorang pengusaha rumah makan, yang hanya ongkang-ongkang saja karena sudah sukses meski di usia muda. Walaupun belum punya istri, Kemal ini tipe lelaki yang suka bekerja keras. Mungkin setelah ini dia akan bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan hati seorang Amaira.


******


Dia tidak ikut sarapan ataupun menunggu Azka untuk berpamitan, karena Amaira tahu kalau suaminya itu pasti sudi untuk di salami tangannya.


Amaira memang berangkat pagi-pagi buta menggunakan motor matic milik Azka. Maklum jarak Cafe&Resto dengan rumahnya cukup jauh, dia juga belum begitu hafal jalanan di kota itu, meskipun sudah hidup hampir setahun, tapi Amaira tidak pernah keluar rumah terlalu jauh. Dia juga hanya memanfaatkan Maps untuk sampai di Cafe&Resto meskipun sekarang sudah hampir hafal jalannya.


Hari ini Jum'at pagi, besok Amaira bisa dapat jatah libur dalam seminggu sekali. Wanita cantik itu sudah bersiap untuk berangkat bekerja.


Dia melihat Icha yang sudah memakai apron bersiap memasak di dapur.


"Nggak nunggu sarapan dulu, Ra? Masih pagi banget loh ini," ujar Icha.


"Nggak Mbak, biasanya juga sarapan di sana, aku pamit kerja dulu ya mbak," Amaira bersalaman dengan Icha.


"Oh, ya Ra! kenapa kamu nggak nge-kost aja yang dekat sana, kan kamu nggak jauh-jauh tuh kalau kerja, kasian loh badanmu kalau harus jalan hampir sejam setiap hari?"


Amaira mematung hanya karena mendengar ucapan Icha. Entah kenapa Amaira merasa Icha seperti mengusirnya.

__ADS_1


Wanita berhijab itu tidak menjawab, dia langsung pergi begitu saja dan langsung mengendarai motornya. Dalam perjalanan menuju tempat kerja, tiba-tiba Amaira banyak berpikir. Mungkin selama ini sikap Icha memang baik, tapi menurut Amaira, Icha sepertinya memang tidak suka jika dia tinggal di rumah itu.


Entah tidak berkonsentrasi atau karena apa, tiba-tiba Amaira terkejut saat menabrak mobil di depannya yang tiba-tiba nge-rem mendadak.


BRUKK!!


Amaira terjatuh, tubuhnya tertimpa motornya.


"Astaghfirullah, ya Allah Mbak!" Seorang wanita berhijab datang menolongnya.


"Anda tidak apa-apa?"


"Kak, angkat motornya, kasihan Mbaknya ini!" Seru wanita muda itu pada seorang pria berpakaian formal tersebut.


"Ya Allah, sikunya berdarah Mbak! Kak Farhan, ayo bawa Mbak cantik ini ke rumah sakit!!"


"Fara, coba bantu Mbaknya masuk ke dalam mobil!" Wanita bernama Fara itu langsung membantu Amaira berdiri dan berjalan menuju mobil yang ditabraknya tadi.


Amaira masuk dikursi belakang bersama Fara.


"Tapi motor saya gimana?" tanya Maira sambil menahan sakit. Sikunya tadi menumpu tubuhnya yang ambruk tertimpa motor.


Mungkin darahnya juga karena gesekan dengan aspal yang begitu keras, Amaira merasakan sakit yang begitu besar di bagian siku itu.


"Nanti biar diambil sama asisten saya, sekarang sebaiknya saya bawa kamu ke rumah sakit dulu," ucap Pria bernama Farhan itu.


"Iya, Mbak, yang penting Mbaknya diurusin dulu! Nanti biar kakak saya yang urus semuanya. Namanya siapa mbak?"


"Maira," jawab Amaira tersenyum simpul. Dia jadi merasa tidak enak sendiri karena telah merepotkan orang-orang baik ini.


Padahal tadi sebenarnya dia yang salah, Amaira melamun saat naik motor, membuatnya jadi menabrak mobil yang berhenti di depannya.


Mungkin jika Amaira tidak melamun dan fokus, pasti tidak akan terjadi kecelakaan ini.


"Maaf Maira, tadi saya nge-rem mendadak karena tiba-tiba ada kucing lari," ujar Farhan menatap Amaira dari kaca spion.


Mata mereka beradu pandang, namun sedetik kemudian Amaira langsung menunduk.


"Saya juga minta maaf, karena telah menabrak mobil nya Mase," jawab Amaira.

__ADS_1


"Cie-cie,, kak Farhan di panggil Mase!!"


Bersambung.


__ADS_2