
Happy Reading.
Tok, tok, tok!
"Ya, sebentar!"
Ceklek!
Amaira tersentak ketika melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini.
"Mas Azka!"
"Assalamualaikum Maira."
"Wa'alaikumsalam, kok mas Azka tahu Maira tinggal disini?"
"Ehmm, boleh duduk?"
Amaira langsung menyuruh Azka duduk di kursi yang ada di teras. Tentu dia tidak enak kalau harus menyuruh Azka masuk ke dalam kontrakannya. Amaira ingat jika pernikahan mereka sudah kandas beberapa bulan yang lalu. Mereka sekarang bukan mahram lagi.
"Ra, gimana kabarmu?" Tanya Azka menatap Amaira dari samping.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, Mas. Oh ya pertanyaan Maira belum dijawab, kok mas Azka tahu Maira ngontrak di sini?"
Azka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tentu saja dia mencari keberadaan Amaira kesana kemari sampai menyewa seseorang untuk mencari sang mantan istri.
"Mas nyari kamu dari sebulan yang lalu, kemarin Mas pulang kampung dan mas menemukan fakta yang sebenarnya," Azka menyodorkan sebuah kertas pada Amaira.
Wanita itu tidak mengambil kertas tersebut, Amaira tahu kalau itu pasti masalah tiga tahun lalu yang diketahui oleh Azka.
"Tidak, tidak, pergi!!" Amaira berdiri dan langsung masuk ke dalam kontrakannya.
Amaira menutup pintu itu rapat-rapat, air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah. Sekelebat kejadian malam itu tiba-tiba saja terlintas. Tapi untungnya Amaira masih bisa menjaga dinding selaput daranya. Zaki belum sempat merobeknya ketika kakek Imran datang menolongnya.
Apakah Amaira bisa melupakan kejadian itu, ketika dia juga yang menjadi penyebab Zaki menabrakkan dirinya.
"Maira, tolong jangan begini! Aku mau minta maaf, aku mau bertanggung jawab sama kamu, aku ingin kita rujuk, aku udah cerai dari Icha, please Maira!"
"Enggak mas, Maira nggak bisa rujuk!" Seru Amaira dengan suara serak.
Sepertinya kejadian di kantor tadi adalah pilihan yang terbaik, dia menerima lamaran Farhan. Bukan karena terpaksa ataupun kasihan pada Farhan, tapi karena Amaira merasa nyaman dan terlintas. Farhan seperti didatangkan untuknya di waktu yang tepat.
Mungkin perasaan cinta itu belum hadir, tapi rasa nyaman dan aman itu ada pada Farhan.
__ADS_1
"Kenapa, Maira? Kenapa kamu nggak mau? Aku janji bakal jadi suami yang baik, aku janji akan memberikan mu hak, aku janji ...!"
"Maaf mas, Maira sudah dilamar!"
****
Farhan masuk ke dalam rumahnya yang besar itu dengan senyum-senyum sendiri. Hatinya membuncah bahagia karena lamaran dadakan nya di terima oleh Amaira.
Sejak pulang dari kantor, senyum lebar itu tidak pernah terlepas dari wajah tampannya.
"Kak Farhan!! Gimana-gimana, kakak diterima 'kan?" Fara datang dan langsung memberondong pertanyaan pada sang kakak.
Farhan duduk di sofa disamping ibunya yang juga tengah menunggu jawaban sang putra. Farhan menceritakan kalau dia akan melamar salah seorang karyawan nya yang bernama Amaira.
"Alhamdulillah, diterima meskipun Amaira masih terkejut, yah mungkin karena lamaran dadakan ini," jawab Farhan sumringah.
"Kak Farhan nekat sih, tau sendiri kalau mbak Maira itu orangnya pemalu, apalagi didepan banyak karyawan kakak," ucap Fara.
Gadis itu sangat tahu bagaimana karakter Amaira, wanita cantik itu memang sangat pemalu. Tapi itulah yang disuka oleh Farhan, biasanya Farhan kesal dengan para wanita yang selalu berusaha menggoda nya. Banyak yang terang-terangan melakukan itu.
Bersambung.
__ADS_1