
Maaf sebelumnya buat para reader Air Mata Di Atas Sajadah karena 2 hari tidak up. Othor jadi down gara-gara ada yang melaporkan karya ini. Mungkin yang nggak suka poligami dan males sama alur ceritanya jadi main lapor-lapor. Mudah-mudahan kedepannya nggak ada lagi ya, sumpah bikin males nulis jadinya. Alur yang ku buat jadi amburadul kalau tiba-tiba sat set sat set. Jadi enjoy ya, nikmati aja alurnya meski bikin hati gondok🙏🤭
Happy Reading.
Azka pulang kembali ke rumah kakeknya di kampung, dia habis bertengkar Icha. Azka akui jika dia memang goyah hatinya. Azka jadi makin tidak karuan, setiap harinya hanya ada rasa penyesalan.
Menyesal karena telah melepaskan Amaira, istri yang hampir seumur pernikahannya dia benci. Dan kini Azka memutuskan untuk pulang ke kampung, dirumah kakeknya yang sudah lama tidak dia sambangi.
Meskipun begitu, rumah itu ada yang merawatnya, membersihkan setiap hari dengan gaji dari Azka.
Pria itu menatap bangunan yang tidak terlalu besar itu. Dihalaman nya ada bunga mawar dan anggrek yang sepertinya dirawat dengan baik oleh Pak Aji dan Bu Siti. Dua Suami istri yang dia tugaskan membersihkan rumah kakek yang rumahnya tidak terlalu jauh dari sana.
Azka memang tidak memberitahu pada mereka jika dia akan pulang. Tapi Azka selalu membawa kunci cadangan rumah Kakek itu.
Disampingnya yang berjarak sekitar 50 meter ada rumah sederhana milik Amaira. Bukan, sekarang sudah bukan milik Amaira lagi, karena rumah itu sudah dijual sebulan setelah wanita itu menikah dengan Azka.
Tidak ingin bernostalgia dengan mengingat Amaira kembali, Azka kemudian berjalan ke arah pintu bercat coklat muda itu dan membukanya dengan kunci cadangan yang dia bawa.
Azka masuk dan bisa melihat jika rumah itu terlihat bersih dan rapi. Tidak ada debu ataupun sarang laba-laba disana, yang artinya jika memang rumah itu terawat dengan baik.
__ADS_1
Azka tidak langsung menuju kamarnya, dia rindu kakak dan kakeknya yang meninggalkan nya begitu cepat. Mas Zaki meninggalkan dua tahun lalu karena kecelakaan, waktu itu Azka sudah di kota dan hanya bisa melihat jenazah sang kakak yang sudah dikafani.
Sedangkan kakeknya baru beberapa bulan ini meninggal karena sudah sepuh. Azka melihat kamar kakeknya terlebih dahulu, duduk di atas ranjang yang dulu selalu dipakai kakeknya istirahat. Azka di sana menangis tergugu, dia rindu kakeknya yang sudah merawat dia dan Zaki sejak kecil.
Azka merasa durhaka kepada kakeknya karena telah menyia-nyiakan amanah yang diberikan oleh beliau. Entah kenapa kakeknya begitu getol ingin dia menikah dengan tetangganya itu. Kakek hanya mengatakan jika dia harus menjaga Amaira dengan baik.
Amaira wanita yang baik-baik dan dia sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Dulu ketika kakek masih sehat beliau sering bercerita kepada Azka ketika pria itu pulang kampung jika Amaira selalu membawakannya masakan yang enak, peduli dan perhatian terhadap kakek Imran.
Amaira harus dijaga, itulah pesan kakeknya, beliau benar-benar menyayangi Amaira seperti menyayangi cucunya sendiri.
Setelah puas menangis karena mengingat kakek dan juga merasa bersalah karena Azka tidak bisa memenuhi amanah beliau, akhirnya pria itu memutuskan untuk keluar dari dalam kamar tersebut.
Setelah itu Azka menuju ke kamar Zaki, dia juga merindukan kakaknya itu. Zaki yang bertugas menjaga kakeknya ketika Azka mendapatkan pekerjaan di kota. Zaki mengelola kebun milik sang kakek yang lumayan luas.
Perlahan Azka membuka kamar Zaki, kamar itu masih sama seperti dulu ketika Zaki meninggalkannya.
Azka masuk dan berjalan menuju meja samping tempat tidur. Di sana ada foto dirinya dan Zaki ketika masih SMA. Waktu itu Zaki kelas 12 dan Azka kelas 10.
Keduanya baru saja merayakan ulang tahun Azka ke 16 tahun dan Zaki memberikannya motor baru. Waktu itu Azka bahagia meskipun belum memiliki SIM, tapi dia benar-benar merasa bahagia luar biasa.
__ADS_1
Azka mengambil foto itu dan mengusap air matanya yang kembali mengalir. Dia duduk diatas ranjang sambil mengingat memori kebersamaan nya dengan dua orang yang begitu berharganya dihidupnya.
Azka mengambil foto yang berada didalam figura itu, dia akan membawa kenangan itu ke kota. Pada saat membuka penutup figura dibelakang, Azka melihat sebuah kertas yang terselip di tempat itu.
Azka mengambil kertas itu dan meletakkan figura ke atas meja. Azka membukanya dan dia bisa melihat tulisan Zaki disana.
Perlahan Azka membacanya, matanya fokus pada setiap bait yang tercoret di atas kertas itu. Mata Azka membola ketika membacanya, dadanya bergemuruh kencang, ada sebuah rasa sesak yang membuatnya tercekat.
Azka, adek Mas. Tolong maafin Mas, Masmu ini banyak dosa. Mas telah melakukan kesalahan yang begitu fatal. Ceritanya sebenarnya panjang, tapi mas persingkat saja. Waktu itu Mas mabuk, Mas diputus oleh wanita yang mas cintai. Mas sudah hilang akal dan ketika mas pulang, mas salah rumah dan mengetuk pintu rumah Amaira. Tetangga kita yang manis itu. Mas sudah lupa dengan apa yang terjadi, saat itu mas merasakan sakit hati dan melampiaskan kemarahan mas pada orang yang salah. Mas telah menodai Amaira. Semenjak itu hidup mas semakin tidak tenang dengan melihat Amaira yang trauma. Mas sudah tidak sanggup hidup lagi, karena Amaira selalu ketakutan kalau lihat mas. Tolong jaga dia Ka! Amaira tidak bersalah. Jangan sampai aib ini diketahuinya oleh orang lain, bisakan kamu memenuhi amanah dari mas?
Tubuh Azka merosot ke lantai, pria itu semakin menangis sampai tersedu. Dia tidak pernah tahu surat itu karena Zaki mungkin memang sengaja meletakkan disana.
"Mas, kenapa mas lakuin ini!! Apa mas memang sengaja menabrakkan diri karena perasaan bersalah mu pada wanita tidak berdosa itu!"
Azka meraung, merasakan bersalah yang luar biasa dengan nasib dirinya. Apa mungkin karena amanat itu sehingga kakek menjodohkan nya dengan Amaira?
Azka jadi ingin bertemu dengan mantan istrinya itu. Lima bulan sudah mereka resmi bercerai, setelah hari itu dia tidak pernah bertemu lagi dengan Amaira. Azka hanya uring-uringan tidak jelas karena penyesalannya.
Sungguh, Azka terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Seandainya saja dia mau belajar membuka hati dan mencintai Amaira, pasti sekarang dia tidak akan merasa bersalah seperti ini.
__ADS_1
Bersambung.