
Happy Reading.
"Sepertinya aku akan mengabulkan permintaan mas Azka waktu itu!"
Azka langsung menoleh, "permintaan apa?"
"Permintaan mas Azka yang menginginkan bercerai dariku!"
Azka ngerem mendadak ketika mendengar ucapan Amaira. Untung saja tidak ada mobil di belakang mereka, kalau ada pasti sudah tabrakan seperti yang dialami oleh Amaira.
"MAS!! Kenapa tiba-tiba nge-rem!" Seru Amaira memegang dadanya. Dia begitu ketakutan karena masih trauma dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat dia mengalami kecelakaan dan mengakibatkan sikunya retak.
Azka menoleh dan melihat Amaira memejamkan matanya sambil mengatur napas.
"Maaf, Ra! Gimana keadaan kamu?" Tanya Azka merasa bersalah.
"Aku nggak apa-apa mas, cuma bahuku tadi terbentur pintu!"
Azka bingung, dia ingin menyentuh Amaira tetapi istrinya itu selalu menghindar. Bahkan tadi ketika dia menanyakan bagaimana keadaan tangannya, Amaira hanya menjawab baik-baik saja.
Azka merasa jika Amaira memang seakan membatasi diri, tapi pria itu maklum karena selama ini dia memang tidak pernah memperhatikan Amaira. Azka sama sekali tidak mau membuka hatinya untuk wanita berhijab itu.
Tiba-tiba Azka berpikir kenapa dia tidak mau membuka hati untuk Amaira dan malah menutup nya rapat-rapat. Bukankah jika seandainya dia bisa membuka hati sejak awal, pasti alur ceritanya juga beda.
Dan sekarang sepertinya Amaira sudah merasa lelah dengannya yang tidak kunjung membuka hati. Lihatlah bagaimana sekarang istri pertamanya itu dengan mudahnya mengabulkan permintaan cerai yang beberapa bulan lalu dia ucapkan.
"Maira, dengar! Apapun yang mas katakan dulu, sebaiknya kamu lupakan, oke!"
__ADS_1
Kini Amaira berganti menatap wajah suaminya itu. Entah kenapa dia merasa aneh dengan kata-kata Azka. "Tapi mas, aku tidak ingin mengganggu hubungan mu dan mbak Icha, aku adalah orang ketiga di sini, jadi lebih baik aku yang menyingkir, daripada nanti akan ada rasa kecewa lagi!" Ucap Amaira tanpa keraguan sedikitpun.
Azka menggeleng pelan, dia tahu jika situasinya masih belum baik, pria itu tahu jika istri pertamanya itu sedang marah. Mungkin memang Amaira membutuhkan waktu untuk mencerna sikapnya yang sudah mulai luluh.
"Ssstt, sebaiknya jangan bicara apa-apa lagi, aku akan antar kamu ke mess seperti keinginan mu," Azka langsung menghidupkan mobilnya kembali dan melaju dengan kecepatan sedang.
Amaira hanya bisa menghela nafas, kenapa sekarang Azka seakan tidak rela lepas darinya, bukankah seharusnya Azka senang jika Amaira mengabulkan permintaannya.
"Tapi Mas, aku serius, aku ingin berpisah saja, mungkin memang mas Azka bukan jodoh Maira," entah kenapa ada rasa sesak di dada Azka saat mendengar penuturan sang istri.
Mungkin jika Amaira mengatakan ini beberapa bulan yang lalu, ketika Azka meminta nya, dia bisa langsung melepaskan Amaira dengan mudah.
Tapi sekarang entah kenapa rasanya begitu sulit bahkan Azka mengabaikan ucapan istri pertamanya itu. Azka anggap itu ungkapan Amaira saat sedang dalam kemarahan.
Ya, Azka tahu jika Amaira sedang marah dengan nya, tapi Azka yakin jika istri pertamanya itu pasti akan luluh lagi kalau dia memberikan perhatian lebih.
Azka mengabaikan permintaan Amaira, dia tidak menjawabnya. Azka merasakan ponselnya bergetar di saku.
"Assalamualaikum ... Iya, Cha! ini masih kerja,, nanti sepertinya mas akan lembur, nggak tau pulangnya jam berapa, kalau udah kemalaman mending kamu tidur dulu, nggak usah nunggu mas, ... heem, Waalaikumsalam!"
Azka kembali menyimpan ponselnya.
"Ra, nanti aku main di mess dulu ya, jagain kamu, kamu kan lagi sakit,
pasti sulit buat makan dan minum," Azka baru menyadari jika pasti Amaira sangat kesulitan beraktivitas.
Amaira mendelik menatap Azka, bukankah tadi suaminya itu bilang kalau akan lembur kerja, kenapa sekarang jadi mau nemenin dia.
__ADS_1
"Nggak usah mas, nggak perlu ditemenin, Maira bisa sendiri!"
"Kamu nggak boleh nolak suami, Maira!"
"Jadi artinya Mas bohongin mbak Icha?" sadar tidak sadar Azka di sini sudah mulai berubah hatinya.
Lihatlah dia yang berani berbohong pada wanita yang katanya dicintainya hanya karena Amaira, istri yang selalu diabaikan.
"Kamu juga istri ku, Ra!"
Amaira pusing melihat kelakuan Azka, pokoknya dia tidak mau jika Azka nemenin dia di mess nanti.
Di sisi lain.
Farhan sedang berkutat dengan berkas-berkas yang harus dia periksa sebelum ditandatangani. Farhan al-Faruq adalah seorang Presdir disalah satu perusahaan properti di kota itu.
Perkembangan perusahaan nya kini sedang bagus-bagusnya, dia benar-benar bisa membuat perusahaan peninggi Ayah nya berkembang pesat.
"Ah, aku baru ingat, bukankah besok jadwal kontrol Maira, ya,, aku tidak boleh lupa, bukankah aku harus bertanggung jawab pada wanita itu sampai sembuh!" Gumam Farhan.
Sepertinya dia akan menelepon Amaira sekarang, agar wanita itu tahu jika jadwal kontrol nya adalah besok.
Farhan tersenyum lebar ketika melihat nomor Amaira, entah kenapa dia merasa begitu berbeda dengan wanita itu. Farha akui jika dia kagum dengan Amaira.
"Astaghfirullah, huh kenapa aku jadi mikirin yang bukan muhrim!" gumam Farhan tersadar.
"Makanya di jadikan muhrim donk!" Farhan melotot ketika melihat adiknya yang masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
"Huh, kamu itu, kan kakak tidak tau dia sudah ada yang memiliki atau belum!"
Bersambung.