Air Mata Di Atas Sajadah

Air Mata Di Atas Sajadah
Bab 6 (Apa Kamu Sanggup?)


__ADS_3

Happy Reading.


Sebelumnya.


"Di mana sih perasaan kamu, Mas! Apa kamu nggak kasihan sama istri mu, aku juga perempuan, Mas!" Suara Icha sedikit meninggi karena ucapan Azka yang memintanya menjadi madu untuk istri pertamanya.


"Tapi Cha, aku sama sekali nggak cinta sama dia, aku tuh cintanya cuma sama kamu, aku juga udah berusaha untuk melepaskan Maira biar dia nggak sakit hati, tapi dia tetep kekeh nggak mau pisah, dia malah minta di madu!"


Icha bergeming, dia benar-benar bingung menghadapi kisah rumit percintaannya.


"Tapi gimana perasaan dia? Aku takut kalau jadi istri kedua, Mas!" Tidak pernah ada di dalam kamus hidup Icha jika dia akan menjadi istri kedua.


"Kamu tenang aja, Cha! Aku sama Maira tidak saling mencintai, mungkin dia cuma kesepian jadi nggak mau pisah, buktinya dia malah minta aku nikahin kamu daripada aku cerai!"


"Kamu laki-laki yang jahat mas!"


"Aku nggak mau pisah sama kamu, Cha! Aku cintanya sama kamu!"


Icha tidak habis pikir, apa menurut Azka pernyataan cintanya itu adalah mainan. Kenapa Azka jadi pria brengsek seperti ini.


"Kalau kamu cinta sama aku, kenapa yang kamu nikahi wanita lain, bukan aku?" Pertanyaan Icha membuat Azka menunduk.


"Kamu tahu sendiri kan sayang, aku terpaksa menuruti permintaan terakhir almarhum Kakek, aku tidak punya pilihan lain saat itu," jawab Azka sendu.

__ADS_1


Azka hanya memiliki kakek dan kakak di dunia ini sampai umurnya ke 26 tahun, hingga akhirnya kakaknya meninggal terlebih dahulu karena kecelakaan. Sedangkan kakeknya memang sudah begitu sepuh, hingga akhirnya membuat Azka tidak bisa menolak keinginan kakeknya.


"Aku takut mas, aku takut kamu tidak bisa adil!"


Azka menggenggam tangan Icha, "aku janji sama kamu Cha, aku janji nggak akan pernah membagi hati, kamu satu-satunya Cha, hanya kamu dan nggak ada yang lain di hati Mas!"


*****


"Amaira, aku Icha dan mulai malam ini aku akan tinggal di rumah ini," ujar Icha tersenyum lembut.


'Ternyata istri pertama Azka secantik ini, tapi mereka berdua sama-sama tidak memiliki cinta 'kan?' batin Icha.


Amaira tersenyum dan menyambut tangan adik madunya yang umurnya tentu lebih tua darinya itu.


Entah kenapa tiba-tiba Maira merasa canggung, melihat kedekatan suami dan madunya itu yang terlihat begitu mesra. Azka yang kini menggenggam tangan Icha, tersenyum lembut ke arah istri keduanya penuh dengan binar cinta. Amaira benar-benar sudah seperti obat nyamuk saja.


Icha menatap Azka, memberi kode laki-laki itu agar memberinya waktu berdua dengan Amaira. Icha ingin memastikan pada Maira tentang semuanya.


"Oke, aku masuk kamar dulu," ucap Azka seakan tahu apa yang diinginkan oleh istri keduanya itu.


Azka kemungkinan berdiri dari duduknya dan berjalan menuju tangga untuk ke lantai dua. Pria itu menuju ke kamarnya yang ada di samping kamar Amaira, kamar yang nantinya akan di tempati bersama istri keduanya itu.


"Aku mau bicara berdua dulu sama kamu. Gak apa-apa kan, Ra?" tanya Icha menatap Amaira serius.

__ADS_1


"Bicara apa Mbak?"


Icha mengulas senyum, memandang Icha lembut. Wanita cantik itu berdiri dan duduk di sudut yang berdekatan dengan sofa yanh di duduki Amaira. Tangan Icha terulur meraih tangan Amaira yang ada di pangkuannya.


"Aku tahu kalau ini sama-sama berat buat kita, Ra. Aku tahu seharusnya aku udah lepasin Azka begitu tahu kalau dia sudah nikah sama kamu. Percayalah, awalnya aku udah coba, Ra. Tapi ternyata sulit, dan akhirnya aku ada di sini juga, menerima tawaran menikah dari suamimu. Rela menjadi istri keduanya." Icha mengambil nafas dalam-dalam.


"Aku sampai harus mengambil keputusan gila ini. Asal kamu tahu Ra, keputusan ku untuk bersama Azka di tentang oleh keluarga ku. Tapi aku mencintai Azka, Ra. Kamu ngerti maksudku 'kan?"


Amaira menunduk, wanita itu baru menyadari bahwa dia telah menjadi orang ketiga yang masuk ke dalam hubungan Azka dan Icha.


Amaira baru sadar bahwa dirinya lah sebenarnya yang salah di sini. Dia datang sebagai pengacau hubungi dua insan yanh saling mencintai.


Andai saja dirinya tidak ada, mungkin Azka dan Icha sudah menikah sekali dan hidup bahagia.


Secara Azka pernah bilang jika dia sudah merencanakan pernikahan dengan kekasihnya sejak dulu.


Amaira hanya diam, dia memang bisa melihat jika madunya ini bukanlah wanita yang buruk. Tapi Amaira tahu jika maksud Icha mengatasi semua ini adalah agar Amaira tahu jika beban yang akan dipikulnya dalam hubungan poligami akan sangat berat.


Amaira juga baru tahu jika rasanya sesakit ini ketika melihat suaminya yang tidak pernah perhatian padanya, atau bahkan hanya sekedar tersenyum lembut padanya itu, bisa tersenyum lebar pemuh cinta dengan wanita lain.


Bukan, Icha bukan wanita lain, karena Icha adalah wanita yang dicintai oleh suamiku.


"Ra, aku nggak akan nanya kenapa kamu milih di madu daripada pisah dengan Azka. Aku tahu mungkin karena kamu punya alasan sendiri. Tapi seperti yang kamu lihat tadi, kami saling mencintai, Ra. Mungkin kesannya aku terlalu Pede, tapi kenyataannya memang Azka mencintai ku. Aku minta maaf kalau sikap kami membuat mu sakit hati, tapi sedikitnya seperti itu gambaran nya, Ra! Rasa sakit itu akan terus berulang sepanjang pernikahan yang kamu pertahanan ini. Apakah kamu sanggup?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2