Air Mata Di Atas Sajadah

Air Mata Di Atas Sajadah
Bab 28 (Masa Lalu Farhan)


__ADS_3

Happy Reading.


Akhirnya mereka sampai di depan mall, Farhan dan Amaira keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam mall tersebut. Farhan mengajak Amaira naik ke lantai 4 dimana dia sudah ada janji dengan salah satu sahabatnya yang memiliki toko perhiasan terkenal di tempat itu.


"Wah, jadi ini calon kamu, cantik!" Seru Intan. Sahabat Farhan yang mengelola bisnis perhiasan itu.


"Iya, kenalin, namanya Amaira, dan Maira ini Intan, sahabat ku sejak kuliah," Farhan memperkenalkan Amaira kepada Intan.


Amaira menerima jabatan tangan dari wanita cantik seusia Farhan, sungguh cantik. Wajahnya ada kebule-buleannya, entah kenapa ada setitik rasa tidak suka di hati Amaira ketika Farhan berinteraksi dengan Intan begitu dekat.


"Udah ada kan barangnya yang aku pesan?"


"Udah siap, lo tenang aja," Intan mengambil sebuah kotak yang ada di etalase dalam dan membuka kotak itu dihadapan Farhan dan Amaira.


"Ini dirancang khusus oleh designer ku, udah ada inisial nya juga," ujar Intan.


Farhan mengambil cincin yang kecil, diperuntukkan untuk Amaira, "di coba dulu Ra, tapi sepertinya pas, karena aku udah ukur," Farhan meminta Amaira memakai sendiri cincin itu dan memang sangat pas.


"Kapan mas Farhan mengukur lingkar jariku?" Tanya Amaira penasaran sambil menatap jemarinya yang semakin indah saja ketika cincin itu sudah tersemat di jari manisnya.

__ADS_1


"Udah lama, aku cuma mandang aja udah tau ukurannya kok," jawab Farhan sambil mencoba cincin miliknya.


"Gimana, pas kan? ini bagus banget loh desainnya, cocok di jari Maira dan juga elo," ucap Intan menatap maha karyanya yang dipakai oleh pasangan itu.


"Iya, bungkus ya yang rapi, gue mau ke toilet dulu," ujar Farhan. Kemudi meninggalkan Amaira dan Intan sendiri di tempat itu.


Intan menyuruh pegawainya untuk membungkus dua cincin itu dengan dua kotak yang berbeda. Kemudian meminta Amaira duduk di sofa yang disediakan diruangan itu.


"Udah lama kenal Farhan?" Tanya Intan.


"Ehm, belum lama mbak, baru sekitar enam bulan yang lalu, itupun tidak sengaja kenalnya," jawab Amaira tersenyum mengingat bagaimana pertemuan nya dengan Farhan.


"Oh ya, jadi Mas Farhan sudah pernah mau nikah?" Intan menggeleng pelan.


"Belum mau nikah, dia baru menemui orang tua kekasihnya dan menyatakan jika ingin mengajak Cristin menikah, dan yah, dia ditolak mentah-mentah," jawab Intan mengedikkan bahunya.


Amaira merasa dadanya sesak ketika mendengar cerita tersebut. Ternyata kisah Farhan juga sama menyedihkan seperti dirinya yang dulu ditolak suaminya sendiri.5 Tapi kalau Farhan ditolak oleh keluarga sang kekasih.


"Kenapa ditolak?" Tanya Amaira to the point.

__ADS_1


Farhan adalah lelaki sempurna, tampan dan kaya raya. Kenapa sampai bisa tolak mentah-mentah oleh keluarga kekasihnya.


"Mereka beda keyakinan," jawab Intan setengah berbisik.


"Ohh,," Amaira manggut-manggut, dia paham sekarang.


"Sayang, udah ngobrolnya?" Farhan tiba-tiba sudah ada dihadapan Amaira.


"Eh, i-iya, sudah,, makasih ya mbak Intan," Intan mengedipkan sebelah matanya.


"Iya, sama-sama, semoga langgeng ya, jangan lupa undangannya."


"Tentu, mbak Intan harus datang, Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam!"


Farhan ingin menggandeng tangan Amaira, bentar lagi kan mereka sah, tapi Amaira menolaknya. "Mas, iihh jangan gandeng-gandeng dulu, halalin dulu!!"


Farhan gemas sekali ingin mencubit hidung mancung Amaira.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2