Air Mata Di Atas Sajadah

Air Mata Di Atas Sajadah
Bab 20 (Talak)


__ADS_3

Happy Reading.


Amaira masuk ke dalam mess dengan perasaan dongkol. Ya, dia kesal dengan mahluk yang mengekori nya masuk ke dalam kamar itu. Kalau Amaira melarang pasti ujung-ujungnya Azka selalu mengatakan jika dia adalah suaminya.


Amaira tidak menutup pintunya, meskipun Azka adalah suaminya, tapi ditempat itu belum ada yang tahu bukan.


Azka mengedarkan pandangan, luas kamar itu 4x5 meter, sangat sempit.


"Ra, mending kamu pindah aja ya, di sini tuh sempit, biar Mas cariin rumah baru buat kamu, yang ada halamannya, biar mobil mas bisa masuk," ujar Azka duduk di kursi sofa satu-satunya di kamar itu.


"Nggak perlu mas, keputusan Maira udah bulat, lagian kenapa sekarang mas peduli sama Maira? Dulu-dulu kemana aja?"


Azka menghela nafas, "maaf Ra, mas akui kalau mas salah, tapi sekarang kamu nggak perlu khawatir, mas akan berlaku adil sama kamu dan Icha," ucap Azka tersenyum.


Namun justru senyum itu nampak begitu miris di hati Amaira. Sungguh ternyata selama ini, Amaira memang benar-benar tidak mengenal sosok suaminya selama ini.


Muhammad Azka Al Fahri, pria yang setahun lebih dua bulan atau lebih tepatnya 14 bulan yang lalu mengucapkan ijab qobul padanya, pria yang dia cintai dengan setulus hati selama berbulan-bulan, pria yang selalu ia agungkan namanya dalam doa.


Pria yang Amaira gadang-gadang sebagai orang yang bisa melindunginya, sampai-sampai dengan sikap acuh tak acuh Azka padanya hanya Amaira buang tanpa di rasa. Berharap jika Azka juga akan menyambut hatinya, memiliki perasaan yang sama dengan nya dan itu adalah cinta.


Pria yang Amaira pikir adalah jodoh yang dikirim oleh Allah SWT untuknya, sehingga dia bisa langsung jatuh cinta sedalam-dalamnya dan menyerahkan seluruh hatinya pada Muhammad Azka Al Fahri. Ternyata sosok itu tak ubah pria brengsekk yang egois dan menyakiti dua hati seorang wanita.


Azka bukan sosok imam yang baik untuk Amaira dan juga Icha, lihatlah bagaimana dia dengan entengnya berbohong pada istri keduanya dan mengatakan jika saat ini dia tengah kerja.


Kebohongan pertama yang nampak di lihat Amaira, kemudian kebohongan kedua pada Icha, wanita yang katanya begitu Azka cinta, mengatakan jika Azka akan lembur hingga malam. Padahal apa yang dilakukan Azka, suaminya itu ingin menemani Amaira di mess hingga malam.


Itu maunya Azka, tapi Amaira tentu menolak.


Tidak ada raut bersalah sedikit di wajah Azka saat mengatakan kebohongan itu, padahal dia sudah membohonginya wanita yang dicintainya, wanita yang akan memberikan nya keturunannya. Apakah sikap Azka mencerminkan sosok suami yang baik.


Tidak, kini mata Amaira terbuka, ternyata selama ini dia salah. Benar-benar salah, sampai menganggap jika Azka adalah sosok pria sempurna untuk menjadi imam.


Amaira bukan selingkuhan Azka, Amaira adalah istri sah Azka, lalu kenapa Azka tidak berkata jujur saja terhadap Icha jika pria itu ingin menemani istri pertamanya. Toh misalkan Icha marah itu urusan nanti. Yang terpenting Azka mengatakan yang sejujurnya. Amaira pasti bisa lebih mengerti.


Sungguh Allah maha membolak-balikkan hati, jika dulu Amaira begitu mencintai suaminya yang menurutnya bisa menjadi imam dalam rumah tangganya. Tapi entah kenapa sekarang perasaan cinta itu seakan menguap begitu saja.

__ADS_1


Mungkinkah benar jika kita mencintai seseorang terlalu dalam, lama-lama kita bisa jadi membencinya karena seiring berjalannya waktu kita ditunjukkan bagaimana sifat dan sikap pasangan kita yang sebenarnya.


"Ra, kenapa bengong?" Tanya Azka saat melihat istri pertamanya itu yang sejak tadi diam saja.


"Mas, sebaiknya mas pulang saja, tidak perlu membohongi mbak Icha, lagian apa mas nggak balik ke kantor?"


"Nanti, bentar lagi balik tapi ntar kesini lagi," jawab Azka enteng.


Entah kenapa sekarang Amaira benar-benar tidak respek dengan suaminya itu. "Ngapain kesini lagi? Nggak perlu mas, di rumah sudah ditunggu sama isteri tercinta, kasian loh mbak Icha ditinggal, kan lagi hamil, nanti takutnya ada apa-apa sama kandungannya." Ujar Amaira.


"Hamil? Siapa yang hamil?"


"Mbak Icha, memangnya mas nggak tahu?" Azka langsung menggeleng, rasanya begitu sulit untuk percaya karena dia selalu menggunakan pengaman saat hubungan.


Tidak mungkin kan Icha hamil, lagipula Azka belum siap untuk memiliki anak kalau statusnya dengan Icha masih nikah siri.


"Kamu kata siapa, Ra?"


"Kata mbak Icha, dia sedang hamil dan ingin bisa terus bermanja-manja sama mas Azka, jadi sebaik mas Azka pergi dari sini dan kembali sama mbak Icha!"


Amaira terdiam. Cemburu? Kenapa sekarang dia tidak cemburu sama sekali bahkan niat Amaira tulus ingin Azka kembali pada Icha karena merasa kasian terhadap madunya itu.


"Nggak, Maira nggak cemburu sama sekali, Maira ikhlas kok sekarang buat melepas mas Azka, atau kalau perlu mas talak Maira sekarang!"


Azka mendelik mendengar ucapan Amaira. Kenapa wanita didepannya ini sekarang begitu berani meminta talak dan sejak tadi Amaira meminta hal itu terus menerus.


Azka harus sabar, memang selama ini dia telah salah kepada istri pertamanya itu. Azka akan meraih hatinya kembali.


"Ra ... !"


Suara dering ponsel milik Amaira menginterupsi Azka membuat lelaki itu mengatupkan bibirnya kembali.


Amaira langsung melihat siapa yang menelepon. "Mas Farhan!"


Azka mendengar Amaira menggumamkan nama seorang lelaki. Azka penasaran siapa yang menelepon istrinya itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, oh ya Maira jangan lupa besok waktunya kamu kontrol lagi, saya sudah bikin janji sama dokter octopedi. Beliau salah satu sahabat Ayah saya, mungkin jam 9 saya jemput kamu, bisa kan?"


"Oh, iya Mas, insya Allah."


"Baiklah kalau begitu, saya hanya mengingatkan saja, maaf sudah mengganggu waktunya."


"Oh, tidak kok mas, saya sedang santai."


Azka benar-benar shock mendengar Amaira dan orang asing itu teleponan.


"Syukurlah kalau begitu." Sepertinya Farhan masih ingin meneruskan obrolan dengan Amaira.


Tapi Amaira melihat Azka yang sudah memerah wajahnya dan menatapnya marah.


"Mas Farhan, udah dulu ya, Assalamualaikum."


Amaira langsung mematikan ponselnya.


"Oh, jadi karena ini kamu minta talak sama saya, kamu berselang di belakang saya, Amaira!!"


Amaira menggelengkan kepalanya, Azka salah paham padanya. "Bukan mas, saya tidak selingkuh!"


"Itu tadi buktinya apa? Kamu janjian sama Farhan-Farhan itu kan?"


"Iya, karena dia bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpaku!"


Azka masih tidak terima dengan penjelasan Amaira, pria itu merasa jika Amaira memang main dibelakang.


Pikiran Azka diliputi perasaan cemburu, dia benar-benar tidak suka jika Amaira ternyata memiliki pria idaman lain.


"Baiklah kalau begitu, Amaira Maulida, hari ini kamu saya talak satu!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2