
Happy Reading.
Azka menatap undangan pernikahan di tangannya dengan tatapan sendu. Ya, itu adalah undangan pernikahan Amaira dengan seorang pria bernama Farhan.
Tangan Azka meremat kartu undangan tersebut, hatinya begitu sakit melihat nama sang mantan istri yang tertera di sana. Sungguh penyesalan hanya datang diakhir, kenapa tidak sejak awal saja Azka menerima Amaira, kenapa dia hanya mementingkan keegoisannya sendiri, atau mungkin karena keserakahannya saja. Dia yang sudah di beri oleh Tuhan istri yang cantik dan baik, malah memilih untuk menikah lagi dengan sang kekasih.
Icha, wanita yang digadang Azka bisa membuatnya bahagia, memberikan pernikahan dan janji-janji yang indah terhadap wanita itu. Tapi nyatanya apa? Azka juga telah menyakiti Icha yang juga banyak berkorban perasaan pada saat itu. Mengingkari semua janjinya pada Icha jika dia akan membawakan kebahagiaan jika menjadi istri seorang Azka.
Azka ingkar terhadap dirinya sendiri yang mengatakan jika dia tidak akan pernah mencintai Amaira. Lihatlah sekarang, Tuhan maha membolak-balikkan hati nya. Dulu dia yang bersikeras meminta pisah dan menyuruh Amaira mencari pendamping yang lebih baik darinya, yang bisa membahagiakan nya, karena dia merasa akan bahagia jika menikahi wanita yang dicintainya yaitu Icha, kini semuanya jadi berantakan.
Azka salah besar jika sekarang dia senang melihat Amira yang mendapatkan pendamping lebih baik darinya. Sekarang Azka sangat tidak rela jika Amaira dimiliki oleh lelaki lain. Bahkan dia telah melupakan Icha sepenuhnya, wanita yang dulu selalu Azka sebut dalam doanya dan sangat percaya diri akan merasa bahagia bersama wanita itu.
Apakah ini adalah bentuk hukuman untuknya, ketika dia mempermainkan perasaan dua wanita baik dan begitu tulus menyayangi nya.
Azka menarik rambutnya frustasi, dia merasa tidak rela ketika mengetahui jika Amaira akan menjadi milik lelaki lain.
"TIDAK Maira! Kamu tidak boleh menjadi milik pria itu, kamu hanya milikku dan aku akan membuat kita rujuk!! Aaaggrkk!"
__ADS_1
Azka menyapu seluruh benda yang berada di atas meja kerjanya yang ada di rumah. Untung saja tidak ada benda penting karena hanya buku-buku dan kertas yang masih bisa dia salin lagi yang rusak.
"Aku harus bisa merebut hatimu lagi, Maira!"
*****
Sebulan menjelang pernikahan, Farhan tidak begitu disibukan oleh pekerjaannya karena selama beberapa minggu ini sudah dihandle oleh sang asisten pribadi.
Farhan disibukan untuk mengurus pernikahannya dengan Amaira, dia tidak ingin ketinggalan apapun untuk merencanakan pernikahannya bersama sang pujaan hati.
Farhan begitu bahagia, begitupun dengan Amaira yang banyak mendapatkan limpahan kasih sayang dari keluarga calon istrinya. Adik ipar dan ibu mertuanya begitu menyayangi nya. Amaira benar-benar tidak menyangka jika dia akan diterima begitu baik di keluarga besar Alfarizi.
Dan saat ini adalah waktu yang tepat di mana dia akan benar-benar melangkah ke jenjang pernikahan dengan wanita yang begitu ia cintai.
"Apa kamu suka gaunnya?" Tanya Farhan ketika melihat Amaira yang tersenyum menatap pantulannya didepan cermin.
"Iya, ini lebih bagus dari yang sebelumnya, ini lebih besar kadi tidak sesak di bagian dada," jawab Amaira membandingkan gaun muslimah yang awal dengan yang saat ini dipakainya. Jika gaun yang awal terlihat lekukannya meski bernuansa muslimah, tapi yang sekarang lebih terlihat seperti abaya modern yang dibalut dengan butiran Cristal dan mutiara.
__ADS_1
Setelah selesai memilih gaun pengantin untuk akad dan resepsi, Farhan dan Amaira langsung melajukan mobilnya menuju restoran yang tidak jauh dari butik itu.
Tentu mereka akan memilih makan siang di sana karena waktu yang sudah menunjukkan jam makan siang, Amaira juga sudah lapar. Farhan sangat tahu bagaimana memahami Amaira dengan baik.
Setelah sampai di restoran, Farhan segera membawa Amaira untuk duduk di salah satu meja yang kosong.
"Mau pesan apa?"
"Aku samakan saja sama punya Mas," jawab Amaira tersenyum.
Ingatkan Farhan untuk tidak meleleh saat ditatap seperti ini oleh Amaira walau dalam waktu beberapa detik saja, karena Amaira langsung menundukkan kepalanya.
Kemudian Farhan memesan setelah salah seorang pelayan datang.
Amaira deg-degan tidak karuan karena Farhan memusatkan pandangannya pada dirinya.
"Mas, apa kamu tidak malu memiliki calon istri sepertiku?"
__ADS_1
Bersambung.