Air Mata Di Atas Sajadah

Air Mata Di Atas Sajadah
Bab 15 (Icha)


__ADS_3

Happy Reading


Azka menelepon nomor istri pertamanya itu berkali-kali, tapi tidak diangkat oleh Amaira. Kesal, itulah yang dirasakan Azka saat ini. Dia tidak mendapati balasan dari Amaira, padahal dia kan mau jemput Amaira biar tahu dimana tempatnya bekerja.


Langit semakin gelap, air hujan nampak turun membasahi bumi. Azka melihat jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sebentar lagi sudah waktunya pulang.


Azka tidak tahu kapan jam berapa Amaira pulang. Padahal semalam dia bermimpi tidur bersama istri pertamanya itu. Sekarang Azka merasa kangen dengan Amaira.


"Sebaiknya aku pulang dulu, pasti Amaira udah dirumah, kan biasanya motornya sudah ada kalau aku pulang dari kantor," gumam Azka.


Pria itu bangkit dari duduknya dan segera membereskan pekerjaan nya. Azka adalah seorang general manager di sebuah di perusahaan properti. Dengan jabatannya yang lumayan tinggi, Azka sanggup untuk membiayai kedua istrinya itu.


Meskipun Azka tahu kalau selama ini dia selalu adil dalam membagi keuangan, tapi Azka tidak adil dalam membagi waktu untuk kedua istrinya.


Azka sadar jika dia memang terlalu buruk sebagai seorang suami. Lalu apakah dia sanggup jika harus selalu tidak adil mengingat saat ini yang ada di pikiran lelaki itu adalah Amaira.


Sejak tadi pagi, ketika Azka bangun yang ada dipikirannya adalah Amaira. Bahkan Azka langsung mencari keberadaan istri pertamanya itu ketika di meja makan, membuat Icha, istri keduanya marah.


Tapi apakah Azka tahu jika Icha tengah cemburu karena dia yang tiba-tiba mencari keberadaan Amaira. Jawaban nya TIDAK. Lelaki itu mana tahu kalau Icha tengah cemburu.


Menurut Azka ya wajar saja dia mencari istri pertamanya, karena memang sudah berhari-hari mereka tidak bertemu walaupun tinggal satu atap.


Azka tidak pernah melihat Amaira meskipun waktu makan malam. Kadang Icha mengajaknya untuk makan di luar. Tapi sekarang ini tiba-tiba saja Azka ingin selalu makan masakan Amaira yang memang rasanya jauh lebih enak daripada masakannya Icha.


Apakah sekarang Azka mulai peduli dan memperhatikan istri pertamanya itu.


Entahlah, yang jelas saat ini dirinya hanya ingin segera sampai di rumah dan akan langsung mencari Amaira.


****


Icha berdiri dan menyambut suaminya yang baru saja datang itu dengan senyuman yang mengembang. Bisa dilihat jika wanita cantik itu berdandan semaksimal mungkin. Icha memakai dress warna peach selutut dan rambutnya iya Curly bawah.


Wanita itu berharap pujian dari suaminya ketika pulang kerja, dia akan meminta maaf karena tadi pagi telah marah dan meninggalkan sang suami di meja makan sendiri. Icha tahu dirinya bersalah dan dia akan meminta maaf pada Azka. Icha berjanji akan membuat Azka senang dan akan memberikan pelayanan yang spesial untuk sang suami malam nanti.

__ADS_1


"Mas, sini deh,,, tadi aku masakin makanan kesukaan kamu, aku juga mau minta maaf soal yang tadi pagi, aku tahu kalau aku ini kekanakan banget," ujar Icha saat Azka mendekat.


Cuaca masih gerimis, bahkan kini sudah semakin gelap karena waktu sudah hampir magrib.


"Iya, aku mandi dulu ya?" Ujar Azka seadanya. Dia tidak mengapresiasi penambahan Icha yang sudah dandan semaksimal mungkin. Ada sedikit rasa kecewa di hati Icha karena ekspektasi nya melenceng jauh.


Namun, Icha tidak akan menyerah, dia akan menunjukkan rasa sayangnya pada Azka agat suaminya itu tidak kecewa lagi padanya.


Sedangkan Azka sendiri merasa perasaannya tidak karuan. Dia melihat pintu kamar Amaira ketika naik ke lantai atas. Feeling Azka mengatakan jika Amaira belum pulang ke rumah karena motor matic nya belum ada di garasi.


Ingin menanyakan hal itu pada Icha, tapi Azka tidak mau istri keduanya itu marah lagi gara-gara dia mencari Amaira. Coba nanti Azka hubungi lagi Amaira, mudah-mudahan dia mengangkat panggilannya.


****


Icha kecewa, dia sejak tadi di diamkan oleh suaminya. Suaminya malah sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang dilakukan Azka, tali dia sama sekali tidak mengajaknya bicara setelah makan malam tadi.


Hati Icha sakit, dadanya terasa sesak. Padahal dia sudah memakai dress yang paling cantik, tapi Azka tidak meliriknya sama sekali. Matanya tidak pernah melihatnya lebih dari dua detik. Icha kacau, dia harus menegur suaminya.


"Mas," Icha mendekati Azka yang duduk di sofa.


Meninggalkan Icha yang kini termangu menatap kepergian Azka. Rasa nyeri itu semakin besar, membuat sudut hatinya sakit tapi tak berdarah.


"Mas, kamu kenapa?"


****


Azka melakukan mobilnya untuk mencari Amaira. Istri pertamanya itu baru saja membalas pesan Azka, mengatakan jika dia tidak pulang karena sudah dapat tempat tinggal. Hal itu langsung membuat Azka kalang kabut, masalah Amaira langsung mematikan ponselnya begitu saja.


Azka harus mencari Amaira, tapi kemana. Dia sama sekali tidak tahu keberadaan sang istri. Dia tidak kenal dengan nama teman-teman Amaira.


"Maira, kamu kenapa sih? Kok jadi kaya gini?? Aku tahu kalau aku banyak salah sama kamu, tapi kenapa harus sampai tidak pulang!! Kalau kamu tahu aku memikirkan mu seharian ini, apakah kamu akan mengubah keputusan mu untuk balik ke rumah lagi?"


Di sisi lain.

__ADS_1


Amaira baru saja melaksanakan sholat isya di kamar mess nya. Dia berdoa, bermunajat kepada Allah. Meminta ampun atas segala dosa yang telah ia lakukan.


Amaira berharap jika apa yang telah dia lakukan ini adalah kebenaran. Dia sudah membalas pesan dari suaminya dan mengatakan jika dia mendapatkan tempat tinggal baru. Tapi Amaira tidak ingin Azka tahu di mana dirinya tinggal.


"Ya Allah, jika memang Maira dan mas Azka tidak berjodoh, buatlah hati hamba mengiklaskannya!"


****


Tiga hari berlalu, Amaira tidak bisa bekerja dan hanya tinggal di dalam kamar. Mess milik Kemal yang khusus putri memiliki 5 kamar dan yang putra 5 kamar. Dipisahkan oleh dinding pembatas yang tinggi agar tidak bisa saling mengintip.


Amaira duduk di teras, tangannya masih di gendong. Wanita 20 tahun itu hanya bisa memandangi tanaman bunga yang ditanam di halaman.


Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan gerbang, Kemal keluar dari mobil dengan senyum yang lebar.


"Mas Kemal!"


"Hai Maira, hari ini aku mau ngajakin kamu jalan-jalan, eh maksudnya ke Cafe & Resto cabang satu. Kamu ikut aku ngecek di sana ya?"


Modus, Kemal memang pintar sekali bikin alasan. Padahal niat dia emang ingin mengajak Amaira kencan sambil bawa-bawa nama pekerjaan.


"Iya mas, sebentar tak ambil tas dulu di dalam," Amaira beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.


Bertepatan dengan dering ponsel Kemal yang nyaring dan langsung pria itu angkat.


"Halo, waalaikumsalam, ada apa bro?"


"Owh, kalau mau ketemu di Cafe & Resto 1 aja, gue on the way ke sana? Napa sih bro? Dari kemarin lemes banget?"


"Ya udah, gue juga bawa calon nih, lo ke Cafe duluan, gue nyusul, bye!"


Kemal mematikan panggilan.


"Udah mas, ayo!" Amaira sudah siap dengan gamis yang berbeda. Kemal semakin terpesona dengan kecantikan wanita dihadapannya ini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2