
Happy Reading.
Amaira menghidupkan ponselnya, ternyata ponselnya hanya kehabisan daya dan setelah dicas akhirnya Amaira lega karena ponselnya bisa nyala lagi.
Ada serentetan pesan yang tertera dilayar. Salah satunya dari Azka. Wanita itu mengerutkan keningnya melihat pesan Azka yang belum dia buka itu.
Memang aneh sih kalau lihat Azka mengirimkan pesan duluan, tidak biasanya suaminya itu mengirim duluan atau bahkan belum pernah sama sekali.
Tapi entah kenapa Amaira tidak penasaran, dia memilih melihat pesan-pesan di bawahnya.
Amaira menscrol ke bawah, ada Kemal dan Icha di sana. Ada tiga pesan dari Kemal dan tiga pesan dari Icha.
Amaira memilih untuk melihat pesan dari madunya itu.
Icha : Maira, sebelumnya aku minta maaf, bukan bermaksud untuk egois, tapi sungguh aku hanya merasa kasian sama kamu. Saat ini aku tengah hamil anak Mas Azka, mending kamu nge-kost aja deh. Takutnya kamu gak enak kalau tinggal sama kami berdua.
Icha : Bukan maksudnya mengusir, tapi kamu tahu sendiri kalau Mas Azka tidak peduli sama kamu, apalagi sekarang aku tengah hamil, jadi pasti mas Azka akan lebih sibuk ngurus aku.
Icha : Seharusnya kamu paham sejak awal, kalau kamu itu hanya orang ketiga diantara kami. Meskipun kamu istri pertama tapi aku adalah wanita yang dicintai Azka.
Amaira hampir menjatuhkan ponselnya ketika membaca pesan-pesan dari madunya itu. Kenapa Icha sekarang jadi seperti ini. Kesannya memang wanita itu begitu menyalahkannya yang hadir di tengah hubungannya dengan Azka.
Lalu apakah keputusannya salah kalau dia memilih mempertahankan rumah tangganya. Apakah dia orang jahat yang egois dan tidak mau melepaskan pria yang memiliki cinta lain.
"Hiks, hiks!!" Tiba-tiba Amaira terisak.
Dia merasakan sakit hati yang luar biasa, benar yang dikatakan Icha. Semuanya memang benar. Seharusnya dia memilih pisah dari Azka dari pada milih dimadu. Seharusnya sejak awal Amaira tahu jika keputusannya untuk mempertahankan rumah tangganya dan berharap jika Azka akan membuka hatinya itu salah.
Seharusnya dia tahu jika cinta kepada suaminya yang begitu besar tidak akan pernah bisa terbalaskan karena dalam hati Azka sudah di isi wanita lain sebelumnya.
Seharusnya dan seharusnya. Amaira hanya bisa menangis menahan perih di hati. Lalu apakah sebaiknya dia menyerah saja, bukankah sekarang Icha juga tengah hamil.
Lalu bagaimana dengan dia sekarang, Amaira tidak memiliki siapapun, dia harus pergi kemana kalau pisah dari Azka.
__ADS_1
Drrrttt ...
Amaira terkejut ketika melihat layar ponselnya bergetar dan nama Kemal muncul disana.
Amaira memejamkan matanya sambil berusaha menguasai diri agar sesak dihatinya segera berkurang. Dia saat ini tengah berada di dalam toilet, setelah wudhu tadi dia berniat membuka ponselnya dulu.
Namun ternyata Amaira malah menangis sesegukan seperti ini hanya gara-gara pesan dari Icha. Seharusnya tadi dia tidak usah membuka ponsel dulu, bukankah niatnya akan melaksanakan sholat Dzuhur. Tapi malah berakhir menangis seperti ini.
Amaira menarik tanda hijau di layar ponselnya, dia mengangkat panggilan dari atasannya itu.
"Assalamualaikum, Mas!"
"Maira, kamu nggak apa-apa kan? Tadi kata Fira kamu habis kecelakaan?"
"Alhamdulillah, gak apa-apa mas Kemal."
"Syukurlah, kamu dimana? Sekarang aku udah di Cafe & Resto cabang 2."
"Saya sedang di toilet, mau wudhu, ya udah mas, saya mau sholat dhuhur dulu, Assalamualaikum."
****
Icha memandang ponselnya, dia melihat pesan yang dikirim ke Amaira sudah centang dua biru, itu artinya pesan itu telah dibaca.
Icha meyakini dirinya sendiri jika apa yang dia lakukan pada Amaira ini adalah hal yang benar. Ya, itulah yang ada dipikiran Icha, dia tidak sadar jika telah menyakiti hati seorang wanita berkali-kali.
Apakah Icha tidak ingat jika dirinya juga seorang wanita, wanita yang sudah merebut kebahagian wanita lain. Bahkan sekarang berusaha untuk memisahkan pasangan yang menurutnya sudah tidak sehat itu karena memang pernikahan Azka dan Amaira begitu tidak sehat.
Icha hanya berusaha membuat Amaira terbuka mata hatinya, jika dia sama sekali tidak pantas menjadi istrinya Azka karena lelaki itu tidak pernah mengharapkan nya.
Ya, tanpa Icha tahu jika ucapannya yang hanya lewat pesan itu merubah perasaan seorang istri dan seorang wanita terhadap pria yang begitu dicintai.
Ucapan Icha tadi pagi yang mengabaikan Azka karena cemburu juga tengah mengubah pikiran seseorang.
__ADS_1
Di balik doa Amaira, selalu terselip kata untuk Azka semoga agar di luluhkan hatinya. Dan Tuhan maha membolak-balikkan hati. Di saat Amaira sudah ingin menyerah saja dengan pernikahan nya, karena tahu Icha tengah hamil, membuat kedudukannya semakin tergeser jauh. Amaira sudah bertekad akan pergi dari rumah itu dan mengabulkan keinginan Azka.
Namun, di saat itu juga, ada rasa lain yang tak kasat mata hadir di hati Azka untuk istri pertamanya.
Icha, dia hanya berbohong. Wanita itu tidak hamil karena Azka memang belum siap jika harus memiliki anak ketika pernikahan mereka hanya pernikahan siri.
Azka ingin memiliki anak ketika pernikahannya dengan Icha sah negara dan agama. Mungkin hal itu juga yang mendasari Icha berbohong pada Amaira agar wanita berhijab itu menyerah.
Tanpa Icha sadari jika langkahnya itu mungkin akan membuatnya tersandung berkali-kali.
****
"Jadi kamu mau tinggal di mess? Wah, bagus donk, lagian kamu masih sakit, kalau di mess ada Fira sama Sisil yang bisa jagain kamu." Ujar Kemal senang.
Amaira tersenyum simpul, mungkin benar yang dikatakan Kemal, kalau di mess dia pasti ada banyak teman.
Kemal memiliki 10 pegawai di cabang 2. Tujuh perempuan dan 3 laki-laki. Kalau Amaira memilih pulang ke rumah, pasti dia akan sendirian lagi, jadi dia putuskan untuk tinggal di mess bersama teman-temannya.
Lagian dia juga sudah memutuskan untuk pergi dari rumah Azka.
"Iya mas, makasih banyak ya?" ucap Amaira menunduk.
Mungkin inilah saatnya dia tinggal terpisah dari Azka. Amaira ingin menata hatinya sebelum dia mengabulkan permohonan Azka yang memintanya untuk pisah.
Ya, Amaira butuh menata hati agar siap, dia tidak akan menjadi penghalang lagi untuk hubungan Icha dan Azka.
'Bismillah, ya Allah, semoga ini keputusan terbaik!'
Doa Amaira dalam hati, pernikahan nya dengan Azka hanya berumur setahun, tapi bagi Amaira dia sudah cukup melakoni peran sebagai istri. Istri yang tidak terlihat tepatnya.
'Semoga langkah yang hamba ambil sudah benar, ya Rabb!'
Bersambung.
__ADS_1
Maaf kalau banyak typo ya 🙏🙏