
Happy Reading.
Amaira masuk ke dalam kamar, dia diam tanpa menjawab pertanyaan Icha. Apakah dia sanggup? Pertanyaan itu menggantung karena Amaira tidak menjawabnya.
Saat ini wanita berusia 20 tahun hanya bisa memandang mushaf Al-Qur'an yang belum dia buka setelah sholat Magrib tadi.
Amaira sekarang bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia sanggup? Apakah dia bisa menahan rasa cemburu dan sakit hati ketika melihat Azka dan Icha bermesraan setiap saat di depan matanya.
Contohnya seperti pagi ini, setelah sholat subuh, Amaira keluar dari dalam kamar seperti biasanya. Dia akan ke dapur untuk memasak sarapan.
Namun, ada pemandangan tidak biasa di dapur, Amaira melihat Icha sudah berkutat di depan kompor, Maira bisa mencium bau masakan yang lumayan menggunggah selera.
Amaira diam mengamati Icha yang tengah memunggungi nya. Rambut sepinggang wanita itu terlihat basah. Ada bekas merah dileher Icha yang tidak tertutupi karena rambut basah itu dijepit ke atas.
Amaira tahu apa artinya itu, dia yakin jika tadi malam pengantin baru itu sudah melakukan malam pertama. Entah kenapa membayangkan itu hati Amaira sakit, dadanya terasa sesak.
Seharusnya Amaira tahu kalau akan seperti ini, seharusnya dia tahu kenapa suaminya tidak mau menyentuhnya meskipun mereka sudah menikah berbulan-bulan.
'Astagfirullahal'adzim!'
Amaira sudah berulang kali berucap istighfar agar hatinya tenang. Bukankah memilih tidak pisah dari Azka adalah keinginan nya sendiri.
__ADS_1
Mengizinkan Azka menikah lagi juga pilihan nya yang dia ambil dengan kesadaran penuh. Konsekuensi dari hal tersebut juga sudah Amaira pikir dan renungi.
"Maira, kamu sudah bangun?" Ternyata keberadaan nya di ketahui oleh Amaira. Wanita cantik itu tersenyum sumringah, wajahnya juga berseri-seri.
Amaira mengangguk dan tersenyum, "boleh Maira bantu Mbk Icha masak?" Maira menawarkan dirinya, dia akan melangkah maju tapi pergerakannya berhenti ketika mendengar suara Azka yang menginterupsi.
"Sekarang kamu nggak perlu memasak lagi, Maira, sudah ada Icha yang akan memasak makanan untuk kita," ujar Azka yang langsung berjalan menghampiri Icha dan mencium pipi istri keduanya itu. "Kamu cantik banget, sayang," bisik Azka membuat wajah Icha bersemu merah.
Hal itu tidak terlepas dari pandangan Amaira yang langsung menunduk, menahan air matanya yang akan jatuh. Hanya begini saja Amaira sudah merasakan sakit sampai harus menahan air mata. Lalu apakah esok-esok dia masih sanggup.
"Maira mau keluar dulu," ujarnya agar bisa lolos dari dua orang yang sedang kasmaran didepannya ini.
"Mau lari pagi, Mbak," jawab Icha kemungkinan mengucapkan salam dan pergi.
Amaira benci dengan dirinya sendiri, yang tidak bisa menjaga hatinya agar tidak sakit hati.
****
Berhari-hari setelah itu hidup Amaira tidak ada perkembangan, masih saja tentang hal yang sama yaitu melihat kemesraan dua insan yang tengah dimabuk cinta seperti ketika Icha tengah masak, yang dipeluk Azka dari belakang. Atau ketika melihat Azka yang berangkat kerja lalu Icha akan mencium tangan suaminya dan Azka mencium kening Icha kemudian.
Amaira berasa tidak pernah dianggap oleh Azka, bukankah dia juga istrinya? Tapi apakah pantas jika Maira mengatakan pada Azka jika pria itu berat sebelah.
__ADS_1
Tidak, sebenarnya di sini yang salah adalah Maira karena jelas Azka sudah melepaskan nya untuk mendapatkan laki-laki lain yang busa mencintai nya. Tetapi Amaira tidak mau. Dia tidak bisa, Amaira tidak bisa jika harus dengan orang lain.
Biarlah hanya dia dan Tuhan-Nya yang tahu kenapa dia tidak bisa berpisah dengan suaminya. Karena Amaira sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Azka. Pria yang sudah sejak kecil sering bermain dengan nya dan melindunginya.
Biarlah meski Azka tidak mau menyentuhnya, karena mungkin Amaira belum bisa jika harus memberikan nafkah batin untuk Azka. Amaira takut jika dirinya masih trauma di sentuh oleh lelaki.
Amaira takut jika dia masih tremor kalau Azka meminta haknya. Mungkin gara-gara kejadian tiga tahun yang lalu, kejadian yang benar-benar membuat dirinya hancur dan hina sebagai seorang permen. Kejadian yang membuatnya Amaira ingin mengakhirinya hidupnya sendiri.
Kala itu, hanya Kakek Imran yang mendengar teriakannya karena jarak rumah mereka yang memang dekat dan pria tua itu datang menolongnya ketika Amaira sudah kehilangan kesuciannya. Kakek Imran terlambat dan dia begitu menyesal karena tidak datang sejak 10 menit yang lalu, ketika mendengar teriakan Amaira yang begitu memekik.
*****
"Tidak!! Jangan!! Jangan lakukan itu!!" Amaira terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang membanjir wajahnya.
Wanita itu langsung beristighfar berkali-kali dengan memegang dadanya yang bergetar hebat. Sudah begitu lama mimpi itu tidak muncul lagi. Amaira meremat tangannya sendiri yang bergetar. Dia berusaha bangun untuk melangkah ke kamar mandi. Amaira harus mengambil air wudhu agar ketakutan itu hilang. Dia ingin segera bermunajat kepada sah Khaliq. Hanya itu yang bisa membuatnya tenang dan kuat.
" Ya Allah, wahai Tuhan, wahai Dzat Yang Maha Kuasa, wahai Dzat Yang Maha Kuat, wahai Dzat Yang Maha Kokoh. Aku memohon kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu dan kekuatan-Mu agar Engkau memberikan pada seluruh kekuatanku dan seluruh anggota badanku, lahir maupun batin. Ya Allah, jadikanlah hamba kuat untuk melanjutkan hidup, hamba yakin jika engkau pasti akan memberikan keselamatan pada hamba, ampuni segala dosa-dosa hamba."
Amaira tergugu dalam tangisnya, sesekali dia mengusap pergelangan tangannya yang terdapat garis menonjol. Di mana di pergelangan tangan itu pernah menjadi saksi jika Amaira pernah ingin mengakhiri hidupnya.
Bersambung.
__ADS_1