Air Mata Di Atas Sajadah

Air Mata Di Atas Sajadah
Bab 12 (Farhan)


__ADS_3

Happy Reading.


Amaira sedikit terkejut ketika mendengar penjelasan dari dokter jika siku tangan nya retak, pantas saja rasanya begitu sakit. Tangan Amaira tidak bisa digerakkan karena harus di gips dan di gendong pakai kain yang di sampirkan dibahunya.


Amaira melihat tangan kanannya yang tidak bisa berfungsi apa-apa saat ini, padahal dia sudah mulai menjadi koki di tempatnya bekerja.


Wanita itu hanya bisa menghela nafas, bisa dipastikan setelah ini pasti dia tidak bisa bekerja lagi.


Farhan yang melihat hal itu jadi merasa tidak enak sendiri pada Amaira karena telah menyebabkan kecelakaan pada wanita itu.


Pria itu hanya bisa minta maaf dan berjanji mengurus Amaira sampai sembuh. Karena dialah yang menyebabkan siku wanita itu menjadi seperti sekarang ini.


"Mbak Maira mau langsung diantar pulang?" tanya Fara, gadis mudah yang usianya berkisar satu atau dua tahun di bawahnya itu begitu khawatir melihat Amaira seperti ini.


Amaira bingung harus menjawab apa, setelah tadi dia melihat ponselnya mati karena mungkin hp itu tertimpa motor di dalam tas atau entah kenapa Amaira tidak tahu penyebab hp nya tidak bisa nyala. Amaira bingung karena tidak bisa menghubungi siapapun. Amaira tidak hafal nomor Azka ataupun Icha, dia juga tidak hafal nomor Kemal ataupun Arumi. Amaira bingung, dia belum minta izin pada Kemal kalau dia izin tidak masuk kerja.


"Fara, bawa saya ke Cafe&Resto yang ada di Jl. Cendana, ya!" jawab Amaira akhirnya. Entah kenapa dia jadi sangsi untuk pulang ke rumah.


Akhir-akhir ini Amaira malas bertemu dengan suaminya. Azka juga tidak pernah mencari, dia sudah sibuk dengan istri keduanya. Amaira jadi merasa tidak suka kalau pulang ke rumah dan memilih untuk ke tempat kerjanya saja. Dia sudah memiliki pekerjaan yang bisa membuatnya mengalihkan sakit hatinya dari kedua manusia yang serumah dengannya itu.


Amaira juga merasa jika dia harus memberi tahu Kemal kalau dia tidak bisa bekerja mungkin untuk beberapa hari. Atau mungkin beberapa bulan, entahlah. Rasanya Amaira ingin nangis saja kalau ingat dia tidak bisa bekerja lagi.


Amaira juga malas jika harus mengurung diri di rumah terus. Ah, entahlah. Yang jelas tangannya itu butuh pulih dalam waktu beberapa bulan dan Amaira benar-benar sedih mengingat jika dia harus dirumah terus menerus. Ini


"Oke Mbak, aku kasih tau Kak Farhan dulu ya?" Fara keluar dari ruang rawat Amaira. Memang wanita itu diperbolehkan langsung pulang setelah tangan nya ditangani oleh dokter.


Sedangkan Farhan menunggu diluar, sejak diledek adiknya tadi di mobil, pria itu jadi pendiam, bahkan kalau ada orang yang engeh dengan wajah Farhan, pasti sudah bisa melihat semburan merah di pipi pria itu.

__ADS_1


Entah kenapa hanya mendengar celetukan sang adik, membuat Farhan jadi salah tingkah. Jujur, Farhan memang terpesona akan kecantikan Amaira.


"Kak, Mbak Maira udah selesai diperiksa nya, sekarang udah boleh pulang, Kak Farhan antar mbak Maira ke Jl. Cendana ya," ujar Fara.


"Loh, emangnya kamu mau kemana?"


"Aku harus langsung ke sekolah kak, acara gladi bersih nya udah di mulai, aku udah pesan taksi online kok, Kak Farhan hati-hati ya, aku pamitan dulu sama Mbak Maira!" Farhan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat adiknya yang cerewet itu.


Ya, tadi Farhan memang berniat mengantarkan Fara ke sekolahan gadis itu, karena akan ada acara kelulusan dan di mana Fara bertugas sebagai Qari' saat hari kelulusan nanti. Dan sekarang Fara akan melakukan gladi bersih di SMA nya.


Amaira sudah siap di samping mobil Farhan, pria itu membuka pintu sebelah kemudi, membuat Amaira bertanya-tanya.


"Kalau kamu duduk dibelakang, nanti saya dikira supir," ujar Farhan yang seakan tahu arti tatapan Amaira.


Meskipun sebenarnya Amaira merasa aneh dan sungkan jika harus duduk berdua dengan pria asing, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Amaira akhirnya menurut dan masuk ke dalam mobil Farhan yang Amaira pastikan jika mobil ini lebih mewah dari mobil Azka.


"Oh, iya Mas, eh Kak!" Amaira jadi salah tingkah sendiri gara-gara panggilan Mase pada Farhan.


"Nggak apa-apa, kalau mau manggil mas, panggil aja," ujar Azka kini sudah bisa mengontrol dirinya.


****


Azka melihat sekeliling, lagi-lagi dia tidak mendapati jejak Amaira di tempat itu. Bahkan dia yakin jika makanan yang ada dihadapannya saat ini adalah masakan istri keduanya.


Setelah merasakan masakan Amaira yang ternyata lebih enak dari masakan Icha, Azka jadi ketagihan. Dia kangen masakan istri pertamanya itu.


"Ayo mas, di makan," Icha sudah mengambilkan nasi dan lauknya untuk suaminya itu, tapi Azka masih belum menyentuhnya.

__ADS_1


"Maira kemana?" Tanya Azka spontan.


Wajah Icha yang tadi sumringah berubah jadi datar. Entah kenapa mengetahui suaminya mencari Amaira membuatnya tidak suka. Padahal selama ini Icha sudah terbiasa dengan ketidakpedulian Azka terhadap wanita muda yang jadi istri suaminya itu.


"Dia kerja, udah keluar pagi-pagi buta, emang kenapa Mas nyari dia?" Tanya Icha yang membuat kening Azka mengkerut.


"Loh, emang salah ya aku nyari Maira? Dia kan juga istri aku!" Jawab Azka enteng, meskipun ucapan pria itu benar tapi dia tidak tahu jika ucapan nya itu membuat istri keduanya tidak suka.


Icha tiba-tiba hilang mood makan, dia jadi tidak nafsu gara-gara Azka mencari Amaira.


"Loh Cha, mau kemana? Sarapan dulu!"


"Mas aja yang sarapan! Aku udah nggak selera!" Icha pergi meninggalkan Azka sendiri di meja makan.


Pagi-pagi begini kedua pasangan yang saling mencintai itu bertengkar hanya karena masalah sepele.


"Ck, Icha apa-apa sih, kenapa sikap dia jadi kek gini!" Azka juga langsung berdiri, dia juga tidak mood makan gara-gara sikap Icha yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan.


"Huh, sepertinya aku ke tempat Kemal aja, udah lama nggak ketemu dia, lagian dirumah jadi males gara-gara Icha ngambek, Amaira juga udah kerja!" Gumam Azka naik ke lantai atas untuk mengambil kunci mobil dan dompetnya.


Saat masuk kamar dia tidak mendapati Icha di sana, mungkin istri keduanya itu sedang berada di kamar mandi.


Azka tidak berpamitan pada Icha karena sedang kesal, rencananya dia akan makan di tempat sahabat karibnya yaitu Kemal.


Sepertinya sudah lama juga Azka tidak bertemu dengan Kemal, mungkin dengan datang ke Cafe and Resto milik sahabatnya itu dan numpang Makan di sana, bisa membuat mood Azka membaik.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2